Sebuah Taman Cinta

oleh pada Selasa, Februari 17th, 2009 dilihat 2.858 kali

(Sebuah Catatan di Hari Valentine)

Febriarlita yang kusayang, suatu ketika kita pernah sampai di penghujung perjumpaan setelah perjalananmu dari timur dan kelanaku dari barat. Kita sampai di sebuah taman perjumpaan, tempat orang-orang menebar senyum sehabis pustaka dipekakkan oleh jejalan para orator ulung. Sebuah jalan kelinci yang tiba-tiba saja riuh, tempat orang yang sesaat harus menepi untuk mengalah pada sebuah jalan sempit saat berpapasan. Berpapasan dengan dada-dada yang datang dari arah berlawanan dan untuk sesaat menyunggingkan bibir dan menghempaskan senyuman kecil dan lembut.

Setiap kita tidak tahu mengapa orang-orang begitu sibuk mengeratkan ujung pena di sebuah kertas penuh jejalan huruf dan menyejajarkan setiap gagasan kabur yang berterbangan di atas kepala mereka. Mulut penuh aroma rokok di sudut taman menerbangkan imajinasi pada sebuah perjumpaan para perkokok berat yang bisa-bisa berujung pada temaram ikatan kidung persaudaraan. Gelak tawa terlepas begitu saja dari jajaran kerongkongan sehabis seharian dipenatkan oleh kata-kata yang melewatinya. Kita tidak pernah tahu mengapa kita tiba di perjumpaan itu. Sebuah perjumpaan di sebuah taman yang gersang.

Aku tidak pernah tahu kenapa taman gersang itu kini menggemakan sebuah simfoni mendayu. Jajaran not-not balok melayang rendah di atasnya dan menumbuhkan beragam bunga seiring derai gerimis. Bunga-bunga berjajaran membentuk sebuah lorong yang semerbak dengan wewangian.

Pada malam-malam saat gerimis berguguran di keningku, aku berlari dan menanam detik-detik perjumpaan denganmu di pustaka ingatanku. Aku juga tidak tahu mengapa aku tiba-tiba saja kembali ke taman hatiku untuk menanam sebuah bunga mawar dan tulip. Perjumpaan yang terus menggenang di hamparan kenangan. Malam-malam yang terus berubah seiring perjumpaan yang terus kita bangun. Malam yang pernah terperanjat saat melihat untaian kalimat di antara kita. Saat itu aku sadar aku telah membangun sebuah taman di bentangan hidupku yaitu sebuah taman yang bernama Taman Cinta.

Taman Cinta. Sebuah taman yang lahir dari sebuah perjumpaan denganmu, Febriarlita. Sebuah taman yang sulit kau bayangkan dan aku ingin membawamu ke sana saat ini. Aku ingin kau kini memejamkan matamu dan kembali ke taman gersang tempat kita pernah bertemu untuk pertama kalinya.

Di tempat itu kita tidak melihat apa-apa selain hamparan tanah lapang. Tapi, tengoklah di ujung timur itu, ada jajaran bunga mawar dan tulip yang menghiasi perjalanan kita. Perjalanan sunyi yang terpahat setelah perjumpaan yang pertama kali itu. Kita telah melaluinya hingga tak kau sadari lahirlah sebuah taman di perjalanan hidupku. Taman memanjang dengan bunga tulip dan mawar di sebelah kanan dan kirinya.

Jangan pernah terkejut jika di ujung bunga-bunga itu tak akan pernah kau temukan puisi mendayu karena aku bukan penyair yang suka menyematkan kata-kata rayuan.Setiap puisi yang mengucur dari ujung jariku lahir dari pertemuan premis mayor dan minor dalam perjalanan logika. Sebuah rajutan kata-kata yang lahir dari pergulatan tesis dan antitesis.

Taman Cinta itu adalah saat-saat kita bisa nyaman untuk tertawa bersama dan saling mengejek. Sebuah taman yang kian padat oleh bunga-bunga gelak tawa kita di siang hari atau pun siang bolong. Taman Cinta adalah rajutan saat-saat kita saling mendengarkan atau bahkan saling memaki dan meledek. Taman Cinta itu adalah saat-saat dimana kita tidak bisa menahan diri untuk melihat pesan-pesan sms di memori hape kita. Saat aku atau mungkin juga dirimu untuk tidak sabar merenggut setiap kata yang bertebaran di hape dan segera membalasnya dengan senyuman atau bahkan teriring kerut kening.

Taman Cinta itu seperti seorang bayi yang diam menyangga puting ibunya. Sebuah perjumpaan bibir kecil mungil dan puting dari payudara yang tiba-tiba saja akan mendiamkan setiap kehidupan di sekilingnya. Orang-orang melayang lambat dan pohon-pohon terpaku memandangi drama perjumpaan dari deretan waktu yang sulit terlukiskan. Waktu yang pendek serasa memadatkan seluruh hidup yang telah terlampaui.

Jika tak mengerti juga gambaran taman itu, masuklah ke Taman Cintaku, Febriarlita! Kau akan mengerti dan menemukan lukisannya. Diammu yang selalu menyimpan pertanyaan tentang gambaran taman itu tak akan menyingkapkan setiap rahasia yang sebenarnya telah terukir di relung-relung permenunganmu, jika kau hanya menatap semua perjalanan hidup dalam bentangan deskripsi belaka dan tidak merabanya dengan naluri dan jaring-jaring rasa. Kata-kata yang telah keluar dari mulut kita adalah narasi tentang taman itu sendiri. Hiasan taman yang berkerlap-kerlip di ujung sebuah bangku kecil tempat kita bisa duduk bersama menikmati sekelilingnya. Sebuah taman yang terletak di jalan flamboyan.

Di Taman Cinta ada lautan yang asin, getir, pahit, asam dan beragam rasa dari purbakala yang masih mengendon. Di sanalah rumah tempat orang-orang akan segera tumbuh dan menjelma menjadi kupu-kupu yang ringan terbang kesana-kemari. Rumah tempat setiap perbedaan mendapatkan tempat. Rumah tempat pengorbanan. Cinta dan pengorbanan satu dalam untaian jaring laba-laba. Rumah tempat menenggelamkan gelak tawa dan tangis seiring letupan amarah dan sakit hati. Rumah tempat meleburkan segala dengki dan segala persoalan hidup karena rumah tempat kita berdiam terletak di sebuah firdaus bernama Taman Cinta.

Tetapi Febriarlita, jangan sekali-sekali kau menanami taman itu dengan bunga kamboja. Bunga itu hanya enak dipandang saat sorot mata kita tertuju pada sebuah tanah lapang berhiaskan nisan-nisan. Tentang sebuah Taman Cinta di samping kuburan itu, aku hanya ingin mengingatkan bahwa cinta bisa saja menggenang hingga di kuburan.

Komunitas Merapi, 2009

* Gendhotwukir, Penyair dan Jurnalis dari Komunitas Merapi

Leave a Reply

KATA MEREKA