Bunga dan Kupu-Kupu

oleh pada Kamis, September 22nd, 2011 dilihat 1.587 kali

Angin berdesir agak kencang, ketika aku terus mengayuh sepedaku dengan cepat. Waktu terus mengejarku. Ku lihat jam tangan bututku yang kubeli dengan tabunganku sendiri. Sesekali tanganku menyeka keringat yang terkadang jatuh. Beberapa kali aku hampir menabrak orang yang kebetulan lewat dan berlalu lalang di jalan yang aku lewati. Ahh, ku akui, ini bukan yang aku inginkan. Namun takdir memaksaku. Begitupula ustadzku di pesantren terus menerus mengajari ikhlas dan qanaah, menerima apa adanya rizki dari Allah. Jadilah aku, satu-satunya mahasiswa di kampusku yang berangkat memakai sepeda. Setiap hari, selalu mengayuh sepedaku dengan niat mencari ilmu. Awal kali, karena tekanan orang tua. Namun akhirnya, karena sudah biasa, ya kunikmati saja. Toh, selain sehat, juga irit. Aku tidak perlu untuk membeli bensin jika aku naik motor, atau membayar supir, jika aku naik angkot.

Pernah suatu hari, aku diejek oleh anak sekampusku. Waktu itu, aku datang agak terlambat, sedangkan dia sedang tidak ada kuliah. Melihat aku terburu-buru setelah turun dari sepeda, dia bersama teman-temannya datang menghampiriku. Mereka lalu menyapaku, sok akrab. Lalu memulai pembicaraan “Halo kawan, apa kabar” katanya terdengar ramah. “Alhamdulillah, baik. Maaf ya, aku buru-buru, sudah terlambat”. Lalu aku berlalu cepat meninggalkannya. Sekilas kulihat ekspresi wajahnya, sedikit marah. Namun tak kuperdulikan.

Lalu setelah semua kuliah selesai hari itu, aku berjalan menuju ke tempat sepedaku kuparkir. Naas, ban sepedaku pecah. Bayangkan, tidak hanya bocor, tapi pecah!. Waktu itu, aku hampir marah sama keadaan. “Siapa yang tega melakukan ini?!” batinku. Namun, aku kembali ingat pelajaran yang telah diberikan oleh ustadzku “Barang siapa yang sabar, dia akan memperoleh kemuliaan”. Lalu kutenangkan kembali perasaanku. Lalu aku ke masjid kampus, untuk kembali sejenak menangkan fikiran. Uhh. Sabaar. Saat itulah, anak yang tadi pagi, berjalan menghampiriku. Bersama teman-temannya, mereka kembali menyapa. Aku balas sapaan mereka seramah mungkin. Kulihat wajahnya, tersenyum sinis. Lalu membuka pembicaraan “Kenapa bung, bannya pecah yaa??, kasihaan. Hahaha. Makannya, kalo miskin itu, gak usah belagu. Pake kuliah segala. Ada orang kuliah jaman sekarang kok pake sepeda butut kayak gitu. Dirongsokin aja, gak laku. Mencemarkan nama baik kampus, tau gak lo, hah!! Memalukan!!! Dasar gembel!!”

Dalam hati, aku marah dikatain seperti itu. Tapi aku tetap mencoba tenang. Perlahan, aku mencoba untuk tersenyum, lalu kujawab “Maaf, agamamu apa?”. Kulihat mukanya agak masam. “Apa urusan lo, gembel!” Aku mencoba terus bersabar, dan kembali bertanya “Agamamu apa?”. Gak hanya dia, teman-temannya juga terlihat tersinggung. “Entah agamamu apa. Jika kamu seorang Hindu, ajaran Hindu mengajarkan agar kita melepaskan diri dari keterikatan kita pada dunia. Artinya, rela hidup menjadi gembel. Jika agamamu Budha, kau pasti tahu, siapa Budha itu. Ia adalah seseorang yang tadinya kaya, bahkan anak seorang raja. Namun dia malah memilih hidup menjadi gembel. Jika agamamu Kristen, entah apa aliranmu. Kau tahu, bahwa Yesus adalah orang yang kalau jaman sekarang, bisa juga disebut gembel. Bahkan dia gak milih tinggal bersama para raja, ketika pemerintah menawarkan kekuasaannya dengan syarat, dia meninggalkan ajarannya. Dan jika kau Islam, kau pasti tahu bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang sangat sederhana. Bahkan pernah berminggu-minggu dapur beliau tidak mengepul. Kawan…” “Diam kau!! Kalo mau ceramah, jangan di sini, di masjid sana!!” potongnya.

Namun aku cepat menyahut “Semua agama mengajarkan kesederhanaan. Dan semua tokoh besar pendiri agama, hidup dengan cara sederhana dan secukupnya. Tidak berlebih-lebihan dan saling menghormati. Bahkan sebagian mereka adalah orang yang hidupnya lebih memperihatinkan daripada aku. Jika kau mengejek aku gembel, berarti kau lebih menghina mereka. Karena secara transparannya, harta dunia mereka lebih sedikit dari yang aku punya. Maaf sudah sore, assalamu’alaikum”.

Lalu aku bergegas setelah memberikan ceramah pendek itu kepadanya. Sekilas wajahnya geram dan kelihatan marah. Namun, aku tidak perduli. Walaupun aku tahu, pasti mereka yang memecahkan ban sepedaku. Namun aku memilih pergi, dari pada berurusan lagi dengan mereka. Lalu aku melangkah menuju sepedaku, dan menuntunnya pulang. Sambil berharap, ada mobil pick up lewat.

Sampat pada suatu hari, di bulan Ramadhan. Waktu itu aku ditunjuk untuk memberikan kultum singkat, di sebuah acara di kampus. Acara itu diadakan sampai malam hari, karena selain buka puasa bareng juga diadakan tarawih bareng dan mabit (menginap) di kampus. Mirip waktu kami pekan perkenalan dulu. Setelah tarawih berjama’ah, waktunya aku menyampaikan isi materiku. Aku ditunjuk karena ada teman yang mengetahui bahwa aku adalah lulusan pesantren. Iseng, dia mengusulkan namaku untuk ceramah. Dan celakanya, hal itu disetujui oleh panitia acara.

Dengan mebucap bismillah, aku maju di depan panggung. Lalu perlahan, aku mengucapkan salam. Mataku mencoba menyapu ke seluruh ruangan. Kudapati, anak yang dulu mengerjai aku duduk di sana. Berarti dia Islam. Aku tersenyum. Perlahan, kutata perasaanku. “Man jadda wajada, siapa yang berusaha keras, pasti akan berhasil” batinku

“Yang saya hormati, bapak dekan kampus kita tercinta ini. Segenap pengurus kampus, para dosen, dan tidak ketinggalan semua teman-teman mahasiswa yang berbahagia. Puji syukur ke hadirat Allah yang Maha Pemberi Nikmat, karena dengan nikmatnyalah, kita dapat berkumpul di acara ini, tanpa suatu halangan apapun. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad sallaahu ‘alaihi wa sallam. Kepada kerabat dan sahabatnya. Dan semoga kita termasuk umat beliau yang mendapatkan syafa’at beliau di hari kiamat nanti, amin

“Hadirin yang dirahmati Allah. Dalam Surat At-Tin, Allah berfirman manusia diciptakan dalam wujud yang sebaik-baiknya. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Dan itu patut kita syukuri bersama. Kita dikaruniai akal yang sangat berharga. Yang mana tidak semua makhluk hidup memilikinya. Dan kita semua tahu, bahwa manusialah khalifah, pemimpin di muka bumi ini. Namun, jangan senang dulu. Karena pada ayat berikutnya, diakatakan, tsumma radadnaa hu asfala saafiliin. Kemudian Kami, Allah, mengembalikannya pada tempat yang serendah-rendahnya. Bayangkan. Kita adalah makhluk paling mulia sekarang, namun akan dikembalikan ke tempat yang paling rendah. Illalladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati, falahum ajrun ghairu mamnuun. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat baik, maka bagi mereka pahala yang tiada terputus.

“Perhatikanlah! Ayat ini menunjukkan, bahwa semua manusia akan dikembalikan ke tempat yang paling rendah, tempat paling rendah! Dan kita semua tahu, bahwa tempat yang paling rendah, adalah neraka! Ada yang mau masuk neraka? Pasti gak lah. Gak ada orang yang bakat masuk neraka dan gak ada yang mau. Namun, ada pengecualian. Yaitu orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Perhatikan, orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Jadi, bukan orang kaya, pejabat, atau orang yang hebat saja yang berksempatan untuk tidak dilemparkan ke neraka. Asal beriman dan beramal shalih. Semua orang memiliki potensi, bukan?

“Derajat manusia semua sama di sisi Allah. Yang membedakan adalah derajat ketakwaan. Bukan diukur dari keelokan tubuh, ketampanan, kecantikan, kekayaan, pangkat, dan hal-hal lain yang berbau dunia. Sering kita sombong dengan apa yang kita punya. Ada orang yang cantik atau tampannya luar biasa, namun mengatakan orang lain buruk rupa. Ada yang jabatannya tinggi, menindas bawahannya dengan semena-mena. Ada yang sangat kaya dan mengatakan orang lain gembel. Dan hal-hal lain yang menunjukkan kesombongan. Mereka lupa, bahwa apa yang mereka punya bisa saja diambil paksa oleh Allah. Karena semua adalah milik-Nya. Orang yang wajahnya tampan atau cantik, bisa saja dalam sekejap kecelakaan dan mengakibatkan wajahnya buruk rupa. Yang punya jabatan bisa saja tiba-tiba digeser dari kedudukannya.

“Orang kaya bisa saja rumahnya terbakar dalam sekejap, mengakibatkan seluruh hartanya lenyap tak tersisa. Tidak ada yang patut kita sombongkan. Karena semua adalah milik Allah. Lagipula, di dalam perut kita, kita membawa kotoran ke mana-mana. Kotoran yang sangat menjijikan.

“Manusia memang makhluk mulia. Namun jarang yang memanfaatkan kemuliaannya untuk hal yang baik. Bahkan sering merendahkan yang lainnya. Padahal yang berhak sombong, hanyalah Allah. Karena hanya Dialah yang tanpa kekurangan. Demikian yang dapat saya sampaikan. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”

Lalu aku turun mimbar. Kudengar tepuk tangan yang meriah dari teman-teman dan para dosen. Aku hanya tersenyum. Lega sudah beban hari itu. Beberapa teman yang duduk di sampingku, menyalamiku, mengucapkan selamat. Dan ada pula yang berterimakasih padaku. Aku menjawab, itu karena hari ini aku apes disuruh maju memberikan ceramah. Padahal aku tidak mau. Dan perkataanku ini disambut tawa oleh para sahabatku.

Sesaat, ketika setelah semua acara selesai, dan aku beranjak pergi menuju ruangan yang telah disediakan oleh panitia untuk menginap, seseorang menghampiri dan memanggilku. Dari jauh, susah untuk mengenalinya karena aku menderita rabun jauh. Setelah agak dekat, aku baru tahu bahwa anak itulah yang dulu memecahkan ban sepedaku. Aku berperasangka buruk, mungkin dia akan kembali mengejekku. Namun kuhapus perasangka itu, karena kata ustadzku, berperasangka buruk pada orang lain bukan ciri muslim sejati. Aku mencoba tersenyum menyambut kedatangannya. Lalu dia mengucap salam “Assalamu’alaikum, masih ingat saya?” “Wa’alaikum salam. Iya. Ada perlu apa?”. Lalu dia mengajak berkenalan. Dari lidahnya, kutahu namanya Alan.

Dia lalu meminta maaf atas kenakalannya waktu itu. Aku hanya tertawa kecil “Gak papa” kataku. Lalu kami ngobrol bersama di serambi masjid, basa basi. Kulihat, wajahnya sudah agak terlihat bersahabat. Tidak seperti waktu aku pertama bertemu dengannya. Dia ternyata orangnya asik dan menyenangkan.

Lalu mulai saat itu berteman akrab, dan sesekali kami tertawa mengingat waktu pertama kali bertemu. Dia yang sok kaya, bertarung melawanku yang sok seperti ulama, menceramahinya. “Hahah, lucu. Sekali lagi aku minta maaf ya?” katanya pada suatu hari “Udahlah, biasa aja”

Hingga suatu hari…

Saat itu hujan lebat. Dia tiba-tiba datang ke rumahku. Aku kaget sekali. “Asad, aku punya permintaan. Maukah kau membantuku?” “Apa itu? Kalo bisa, pasti aku bantu” Kulihat wajahnya keluar banyak keringat. Bibirnya bergetar, seakan menanggung beban. “Tolonglah aku, ajari aku mengaji, membaca Al-Qur’an. Telah banyak ilmu yang dapat aku serap dari hubunganku berteman denganmu. Secara tidak langsung, aku sudah menjadi muridmu. Dan kini, aku ingin menjadi muridmu, Tolong ajari aku membaca Al-Qur’an. Aku tahu, aku terlihat bodoh. Namun bukankah kau pernah berkata, gak ada kata terlambat untuk belajar? Ajari aku ya, Sad?” Sesaat aku bingung. Ini sama sekali gak lucu. Aku saja masih gak fasih dalam membaca Al-Qur’an, masak mau ngajari orang lain? “Gak ah Lan. Aku belum fasih. Tolong jangan aku”. Namun dia tetap memaksaku dan memohon kepadaku.

“Baiklah. Insya Allah, aku sanggup. Tapi, ku gak mau kau anggap sebagai gurumu. Sebagai patner belajar aja, gimana?” “Terserah kamu deh. Yang penting bisa belajar ngaji sama kamu, ya?” katanya, dengan wajah yang lucu. Ternyata, dibalik wajah angkuhnya dulu, dia bisa dibilang cukup manja. Terbukti dengan ekspresinya sekarang, saat merayuku. “Insya Allah”. Kulihat, dia senang sekali. Lalu meraih tanganku dan hendak mencium punggung tanganku. Namun cepat-cepat kutarik kembali tanganku itu “Biasa aja ah” “Oke, pak ustadz, haha”. Kami tertawa bersama. Pertemanan kami semakin akrab. Kami saling membutuhkan dalam hal apapun, melebihi hubungan antara bunga dan kupu-kupu.

Leave a Reply