Sekolah Tanpa Berseragam di SMA Loyola Semarang

oleh pada Kamis, Oktober 27th, 2011 dilihat 5.173 kali

Pagi-pagi masuk ke dalam kompleks SMA Kolese Loyola Semarang dan banyak terlihat anak-anak memakai kaos berkerah, kemeja, ditambah celana panjang atau rok. Terus yang pertama kali terpikir yaitu “Lho, kok seperti ini? ada acara apa, sih?”

Ternyata nggak ada acara apapun , memang SMA Kolese Loyola setiap hari memakai baju bebas bahkan pada hari-hari efektif sekolah. Tapi bebas nggak sembarang bebas! Tetap ada aturannya. Semua murid wajib menggunakan kaos berkerah atau kemeja dengan bawahan celana panjang untuk cowok dan rok yang sampai di bawah lutut untuk cewek.

Terus, gunanya apa kok pakai baju bebas segala?

Menurut Frater Advent, Wakil Pamong di Loyola (sayangnya sang WaPam menolak untuk difoto), budaya memakai baju bebas sudah mulai sejak Loyola berdiri (sekitar tahun 1949) dan tujuannya adalah memberi kebebasan kepada anak-anak di kolese Loyola mengekspresikan diri melalui pakaian yang dikenakan, tetapi pada saat yang sama memberikan tanggung jawab pada anak-anak. Misalnya masalah kesopanan dalam mengenakan baju, kadang-kadang kalau baju kawan-kawan dari Loyola mulai  ngawur bakal dikritik oleh bapak/ibu guru. “Kalau pakai baju bebas anak-anak yang malas cuci baju langsung ketahuan” , canda Frater Advent

Kalau begitu, apa ya pendapat para insider Loyola mengenai budaya menggunakan baju bebas di SMA Kolese Loyola ini?

Kalau menurut Bu Julia, salah satu guru senior di Loyola, budaya baju bebas ini bisa mengajarkan para murid untuk jadi stylish, dan bisa mencerminkan sifat-sifat mereka, juga agar insan-insan Loyola jadi anak-anak yang lebih kreatif, dimulai dengan kreatif mencocok-cocokkan baju,Wah! fashion banget Ibu ini, hehehehe.

Kalau menurut Pak Lantang, yang baru mulai mengajar tahun lalu, budaya ini sangat menarik dan mencerminkan manusia yang berbeda namun sama. Sama-sama menggunakan kaos berkerah, sama sama pakai rok atau celana panjang, tapi baju yang dipakai berbeda-beda (wah, kecuali kalau lagi janjian pak , nanti bajunya malah sama semua). Kalau menurut Pak Lantang, manusia itu semuanya berbeda.  Jadi kalau nggak diseragamkan justru  biar jadi terlihat masing-masing pribadi uniknya.

Setelah wawancara dengan Guru, saya coba-coba bertanya kepada satpam yang sedang berjaga sambil membantu para pengendara kendaraan roda empat yang mau parkir. Begini jawaban satpam yang namanya Pak Murman saat saya tanya kesan saat pertama kali melihat anak-anak Loyola yang menggunakan baju bebas saat bersekolah, “Pertama kali melihat ya saya kaget, kok nggak memakai seragam? Seperti anak kuliah saja.Tapi baju bebas memberikan suasana yang lebih nyantai, nggak ada masalah seperti ada jarak antara murid dan karyawan.”

Setelah berbincang dengan para staff, saya sempat menangkap 1 orang murid SMA Kolese Loyola untuk diajak wawancara. Begini, nih pendapat Melisa Atmajaya, murid kelas XII (atau kelas 3) saat ditanya tentang arti budaya menggunakan baju bebas di kompleks SMA Kolese Loyola, “Kalau menurutku, budaya memakai baju bebas itu adalah sarana para murid untuk mengekspresikan diri, supaya kita bisa menjadi diri sendiri, bukan hanya seorang murid, tetapi sebagai diri sendiri”

Setelah puas mendapatkan pendapat sana-sini, saya bersiap-siap meninggalkan kompleks… eh, malah bertemu dengan Pater (Romo) Niko, yang sedang naik mobil (Ciee, naik mobil ni ‘ter? Tumpangin dong! heehee~). Sayang kalau kesempatan mewawancarai Romo Pamong yang orang penting sekaligus ditakuti di bumi Loyola ini dilewatkan, jadi saya wawancarai saja deh tentang apa artinya baju bebas di lingkungan Loyola.

“Salah satu gunanya pakai baju bebas adalah untuk belajar mandiri, masak baju dipilihkan sekolah, jadi murid yang harus memilih baju sendiri berdasarkan aturan yang sudah ada. Selain itu gunanya juga agar keunikan masing- masing pribadi terlihat melalui baju yang digunakan”

Well, gitu deh akhir perjalanan saya di SMA Kolese Loyola hari ini, ternyata memakai baju bebas bukan cuma karena gaya, tapi banyak juga makna yang terpendam di baliknya. Seru!

6 Responses to “Sekolah Tanpa Berseragam di SMA Loyola Semarang”

  1. Joseph Bilyatya mengatakan:

    OMG!! wkwkwkwk…
    Nice post

  2. NN mengatakan:

    My school :D

  3. Bebas dan bertanggung jawab…. (Murid Kolese Loyola 1986-1989, Wakil Ketua Dewan Keluarga Kolese Loyola 1987 – 1988).

  4. ricodwisetya mengatakan:

    malahan banyak temen yg pake seragam korpri jaman dulu untuk sekolah…wkwkwkwkwkwkw

  5. Susan Loker mengatakan:

    Setuju dengan kebijakan tanpa baju seragam.
    Manusia kan diciptakan berbeda-beda, jadi jangan dipaksa untuk seragam. Apalagi tiap hari: putih-abu-abu. Gimana gitu.

  6. Johanna Tania H. mengatakan:

    sekolahku :’)
    (KANDIDAT Dewan Keluarga Kolese Loyola 2012/2013) haha.

Leave a Reply