3121112311_b3bed116f1_o

Remaja.suaramerdeka.com – Demi ketemu idolanya, seorang cewek nekat nyebur ke tengah-tengah comberan buat cari kunci atau golden tiket makan malam bareng. Bahkan, kadang ada cowok yang bela-belain jadi kondektur bus buat ketemu idolanya, soalnya itu syarat buat ketemu si artis yang super cuakep! Apalagi sekarang ada reality show yang sengaja mengekspos itu semua sebagai usaha yang wajar seorang fans buat ketemu sama idolanya. Sebenarnya sehat nggak, sih?

Fancy, Fanatic, Groupies?

Sebenarnya kata “fan” atau penggemar itu berasal dari kata “fancy”, yang di abad 19 lebih ditujukan buat pengikut olahraga boxing. Lalu lama-lama jadi dilafalkan menjadi “fance”. Lalu di America, tahun 1889, justru beredar kata “fanatic” buat pengikut tim baseball. Padahal arti kata “fanatic” sendiri dalam bahasa Inggris adalah “orang gila atau kurang waras”. Dan secara harafiahnya, “fancy” dipakai untuk menyebut “mencintai sesuatu secara intensif.” Fyi, tingkah seseorang yang fanatic biasanya disertai sama tingkah laku merusak atau brutal (walaupun fans juga ada yang bisa separah itu sih).

Nah, bedanya sama “groupies”, mereka adalah segerombolan fans yang berniat dan pengen banget buat mempunyai hubungan khusus (bisa jadi kakak, ibu, adik, ceweknya) ataupun hubungan seksual dengan sang bintang. Bahkan groupies ini mengikuti ke mana pun si bintang pergi.

Oya, fans bukan buat selebriti aja lho, tapi bisa juga buat tim olahraga, atlet, tokoh politik, theme-topik-hobi (manga, anime, comic, cosplay, dll) yang di Jepang disebut Otaku, bahkan sampai groupies penjahat yang disebut juga hybristophilia. Hiiiyy… seram!

Ciri-cirinya

Menurut Thorne & Bruner, seorang fans itu punya karakter:

1. Menyukai sesuatu yang sebenarnya dianggap biasa buat orang lain, tapi buat dia, hal itu sangat spesial.

2. Pengen mengubah sesuatu dalam dirinya atau minimal mengubah lifestyle-nya biar ‘senada’ sama sang idola. And they don’t care if they look weird on it.

3. Biasanya sih ikut tiap aktivitas si idola dengan berbagai cara, mulai mailing list, fan site, facebook, konser, pertandingan, jumpa fans bahkan sampai menguntit!

4. Kadang sampai inginnya mereka berhubungan sama sang bintang, fans sering banget meniru semua gaya sampai pengen berinteraksi langsung dengan sang bintang.

Dari Biasa Sampai Parah!

Kalau kamu memang lagi memuja seorang artis, coba cek dulu, kamu sudah sampai di tahapan pemujaan yang mana, menurut McCutcheon, dkk.

Entertainment Social

Kalau kamu suka dan merasa terhibur sama pemberitaan seputar selebriti yang kamu idolakan dan hanya sebatas itu saja, maka kamu masih dalam batas aman. Kamu merasa semakin senang karena ternyata ada teman-teman lain yang sepaham, senasib dan sepenanggungan soal mengidolakannya. So, this is called entertainment social aspect.. and you’re safe!

Intense Personal

“Huhuhuhu.. kasihan ya, Taylor Momsen dibilang messy styling. Dia pasti sedih banget.”  Atau… “Kasihan ya Rihanna, dipukulin sama Chris Brown. Huh! Rasanya pengen ngebalas!!”

Nah, kalau kamu sudah mulai bisa merasakan apa yang kira-kira tuh selebriti rasakan, bahkan nggak bisa digambarkan apa yang kamu rasakan sekarang, kamu udah mulai masuk ke aspek intense personal. Selama kamu nggak melakukan tindakan apa pun untuk mendekati kehidupan selebriti atau sekadar kasih supportive statement di fan site-nya, berarti kamu AMAN!

Borderline-Pathological

Kalau kamu udah merasa harus melakukan sesuatu untuk idolamu, atau kalau kamu merasa bakal ditolong oleh idolamu saat berada dalam kesulitan, atau idolamu bakal wah! Itu tandanya GAWAT! Lebih gawat lagi kalau kamu sudah mulai berfantasi dan bertindak di luar kesadaranmu, semuanya tentang idolamu itu. Please, you need some help!

Efek Positif

Mengidolakan seseorang ternyata bisa membawa efek positif buat dirimu lho. Berdasarkan penelitian Shira Gabriel, psikolog dari University at Buffalo, dengan mengidolakan seseorang dan merasa dirinya ‘sedikit mirip’ sama sang idola, ternyata sikap menghargai diri sendiri dalam orang tersebut juga meningkat. Ya, sebabnya karena kadang kita suka membandingkan diri kita dengan si seleb, dan ketika kita mencapai titik temu yang ‘sedikit mirip’, kita jadi merasa lebih pede. Belum lagi kalau si seleb punya kisah cinta yang sama seperti kita, seakan-akan kita punya teman yang merasa senasib dan tahu cara penyelesaiannya lalu bangkit dari masalah itu sendiri.

Tapi, kalau sudah mulai masuk ke tahap obsesi, bahkan sampai menguntit selebriti kemana pun dia pergi, itu sudah mulai merugikan kamu sendiri. Apalagi selebriti dan tokoh-tokoh yang lain punya nama besar dan performance bagus karena paparan media. Sebenarnya mereka juga tertekan dengan menjadi public figure. So, nggak usah terlalu memuja selebriti, deh! Karena selebriti juga manusia.

Foto: berbagaisumber

Tags: , , , , , , ,

LIKE AND SHARE!
1026
Terima kasih!
0
0
Terima kasih!
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Centang disini untuk komentar