perceraian-merusak-hubungan-orang-tua-dan-anak

Remaja.suaramerdeka.com – Sedih, marah, kecewa? Itu pasti! Banyak di antara kita yang terpaksa menghadapi situasi perceraian ortu. Tapi bagaimanapun, kita mesti belajar menghadapi situasi ini tanpa harus mencari pelarian yang negatif buat melampiaskan perasaan marah dan kecewa.

Kenapa sih mesti cerai?

Banyak alasan. Di dunia orang dewasa, apalagi yang menyangkut soal rumah tangga dan perasaan, semuanya terlihat sangat rumit. Berusaha untuk memahami dengan cara pandang kita justru membuat keadaan semakin terlihat nggak masuk di akal.

“Dunia ortu” penuh dengan kewajiban dan tanggung jawab yang jelas berbeda dengan tanggung jawab dan kewajiban di “dunia kita”. Kadangkala, bertengkar di antara ortu sering terjadi, dalam skala kecil maupun besar. Bahkan kadang, pertengkaran itu disembunyikan biar kita nggak mendengar ataupun ikut sakit hati mendengar perkataan mereka. Reaksi yang dihasilkan juga macam-macam: ada yang adu mulut, saling diam atau bahkan jadi jarang ada di rumah. Semua reaksi itu bertujuan untuk mengurangi konflik, terutama biar kita, anak-anak mereka nggak jadi korban. Mereka juga berusaha untuk membuat semuanya membaik lagi, jadi keluarga bahagia seperti awalnya.

Ketika ketidakcocokkan itu meledak, ortu pun akhirnya nggak tahan dan memutuskan untuk bercerai. Makanya, banyak hal yang bikin kita nggak ngerti, memacu kemarahan dan bahkan nggak jarang, kita justru memihak salah satu ortu.

Kamu juga punya hak!

Sebagai anak, kita juga punya hak buat speak up dan diskusi atas keputusan perceraian ortu. Kamu bisa:

  1. Kenapa mereka memutuskan untuk bercerai? Awalnya mereka akan menolak untuk berdiskusi karena takut kamu sakit hati mendengarnya. Tapi cobalah terus, biar kamu nggak salah paham atas pertengkaran yang selama ini terjadi. Note: buka diskusi waktu mereka dalam keadaan tenang, bukan dalam keadaan berantem.
  2. Katakan pada mereka, kamu nggak pengen mereka selalu meributkan hal-hal yang itu aja, apa yang telah mereka lakukan dan apa yang nggak dilakukan satu sama lain.
  3. Bilang kalau kamu nggak mau berada dan membela buat salah satu pihak.
  4. Tegaskan bahwa kamu nggak mau menjadi seorang “messenger” atau pembawa pesan untuk mereka. Cepat atau lambat, kamu akan menjadi bingung saat mesti menjadi messenger.
  5. Minta mereka jangan saling merendahkan satu sama lain saat berdiskusi, ngobrol, atau berbicara santai denganmu.
  6. Bicaralah kalau kamu merasa nggak bahagia atas perceraian mereka. Saat mereka mendesakmu untuk memilih tinggal bersama siapa, jangan ambil keputusan terlalu cepat dan jangan biarkan salah satu mendesakmu. Pikirkan dengan baik-baik. Kalau kamu tetap nggak pengen memilih, bilang aja ke mereka.
  7. Setelah perceraian, sangat wajar kalau salah satu pihak ortu bakal berkurang kekayaannya. Saat kamu ikut ortu yang “less money”, kamu berhak meminta uang dan kebutuhanmu ke pihak ortu yang lebih berkecukupan.
  8. It’s normal to feel angry. Kamu kecewa, ortu juga kecewa. Sadarilah bahwa hal ini bukan mimpi dan kamu mesti menghadapinya dalam waktu yang lama. Carilah seseorang yang bisa kamu ajak bicara soal perceraian ortumu. Bisa dari keluarga dekat atau sahabat baik.

Perasaan marah, sedih dan kecewa mesti kamu salurkan ke satu titik biar emosi yang terpendam itu nggak meledak.

Ya! Salurkan ke sini:

  1. Kegiatan organisasi sekolah.
  2. Kegiatan yang memacu adrenalin yang terlibat, bikin kamu nggak sempat berpikir yang “aneh-aneh” lagi.
  3. Hobi positif, seperti: bikin butik, utak-atik computer, fashion design, dan kegiatan lain yang cukup menyita waktumu.

Tidak! Jangan salurkan ke sini:

  1. Nongkrong sampai larut malam, berkegiatan nggak jelas, bareng teman-teman kamu.
  2. Clubbing.
  3. Getting alone too long. Semakin sering kamu sendirian, rasa kesepian justru bakal menyerang kamu terus menerus.
Foto: berbagaisumber

Tags: , , ,

LIKE AND SHARE!
468
Terima kasih!
0
0
Terima kasih!
0

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Centang disini untuk komentar