image

Emiti (32) orang tua Icha Selvia, balita yang meninggal dunia, sambil memangku kakak korban menunjukan berkas KK dan KTP yang diajukan ke Puskesmas agar mendapat pertolongan medis. (suaramerdeka.com/ Bayu Setiawan)

11 Desember 2017 | 13:23 WIB | Ibu dan Anak

Balita Meninggal Diduga Ditolak Berobat di Puskesmas

  • Alami Gejala Muntah Disertai Berak

BREBES, suaramerdeka.com - Icha Selvia (7 bulan), warga Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, meninggal dunia akibat tidak mendapatkan pertolongan saat berobat ke Puskesmas Sidamulya.

Balita putri pasangan Saroi (32) dan Emiti (32), yang mengalami gejala muntah disertai berak itu, ditolak petugas puskesmas dengan alasan berkas administrasi Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dibawa kurang lengkap.

Anak ke lima dari pasangan tersebut, dilarikan ke Puskesmas Sidamulya Sabtu pagi (9/12), setelah pada Jumat malam (8/12) mengalami muntah-muntah yang disertai buang air besar. Kedua orang tua pasien membawa anaknya ke puskesmas karena kondisinya makin lemas, dengan harapan mendapatkan pertolongan medis.

Namun sesampainya di puskesmas, petugas tidak langsung memberikan penanganan medis, tetapi justru petugas jaga menanyakan kelengkapan administrasi KIS yang diajukannya dan pasien ditolak karena syarat KIS yang diajukan kurang lengkap.

"Anak saya di bawa ke Puskesmas Sabtu pagi, karena muntah dan berak. Kondisinya juga semakin lemas. Tapi, saat sampai di puskesmas tidak ada yang mengurusi dan tidak ada yang menangani. Alasanya, tidak punya KIS dan tidak membawa Kartu Keluarga (KK). Saya sempat juga menanyakan ke petugas, anak saya mau ditangani tidak. Di jawab petugas, karena tidak ada KIS ya tidak ditangani lah. Anak saya ini kan masih kecil belum punya KIS dan belum masuk dalam KK," ungkap Emiti (32), orang tua balita saat ditemui di rumahnya, Senin (11/12).

Lantaran di puskesmas ditolak, ungkap dia, pihaknya mencoba meminta pertolongan lain dengan mendatangi bidan desa. Namun saat sampai di rumah bidan desa, yang bersangkutan sedang tidak ada.

Upaya lain terus ditempuh untuk mengobati anaknya tersebut. Yakni, dengan mendatangi Polindes di Balai Desa Sidamulya. Namun usahanya gagal karena Polindes saat itu sudah tutup. "Setelah ditolak di Puskesmas, saya mencoba datang ke bidan desa dan polindes. Ya tetapi tidak membuahkan hasil kerena bidan desa tidak dirumah dan polindes sudah tutup. Lantaran binggung, saya akhirnya pulang," ceritanya.

Emiti mengaku, saat itu tidak berani membawa anaknya ke rumah sakit, karena tidak memiliki biaya yang cukup. Sehingga, dengan terpaksa membawa pulang anaknya.

Di rumah, anaknya hanya mendapat perawatan ala kadarnya. Sementara kondisinya terus melemah hingga akhirnya tidak bisa diselamatkan.

"Anak saya meninggal dunia, Minggu pagi (11/12) sekitar pukul 10.00. Saya hanya bisa pasrah, sudah berusaha sekuat tenaga tetapi tidak ada hasil. Kalau mendapat pertolongan medis, mungkin ceritanya akan berbeda. Hari itu juga anak saya, kami makamkan di pemakaman umun desa," sambungnya.    

Kepala Puskesmas Sidamulya, Kecamatan Wanasari, dr Arlinda saat konfirmasi mengatakan, pihaknya akan segera menindaklajuti dengan mengecek ke bagian pelayanan terkait kejadian tersebut. Ketika ternyata diketahui pelayanan yang diberikan kepada pasien itu tidak sesuai Standar Operasi Pelayanan (SOP), pihaknya pastikan petugas yang jaga akan dikenai sanksi tegas.

"Kami tadi sempat klarifikasi sebentar kepada karyawan yang berjaga, dan memang ditemukan ada yang tidak sesuai dengan SOP. Tapi, ini masih kami tindaklajuti dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan," terangnya kepada wartawan, Senin (11/12).

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, dr Sri Gunadi Parwoko menjelaskan, sejatinya ketika ada pasien dalam kondisi darurat, petugas tidak perlu melihat kelengkapan adminstrasi pasien. Namun pasien harus dilayani dan ditangani terlebih dahulu, setelah itu admistrasi baru bisa menyusul.

"Prinsipnya, ketika ada pasien dengan kondisi darurat harus ditangani lebih dahulu. Untuk kasus di Puskesmas Sidamulya, kami akan segera tindak lanjuti apakah ada yang tidak sesuai prosedur, termasuk kami akan mengecek kondisi penyakit pasien sehingga berakibat fatal," jelasnya.

(Bayu Setiawan /SMNetwork /CN33 )