image

Foto: Istimewa

24 Januari 2018 | 22:00 WIB | Kejawen

Apa yang Dikatakan Sabdo Palon Naya Genggong tentang Bencana di Jawa?

Sabdo Palon dikenal sebagai penasihat spiritual di Tanah Jawa. Ia dikenal sebagai pembimbing Jawa sejati dengan banyak wadag atau raga yang berbeda di setiap generasi. Tokoh lain yang kerap dikaitkan dengan Sabdo Palon adalah Naya Genggong. Keduanya adalah penuntun gaib yang mewujud.

Beliau berdua senantiasa hadir mengiringi Raja-Raja Jawa masa Hindu-Buddha. Ada riwayat yang menyebutkan, Sabdo Palon dan Naya Genggong baru mahsyur pada masa kepemimpinan Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Ia tetap setia sebagai penasihat spiritual hingga kepemimpinan Raja Brawijaya V. Sebelumnya, Sabdo Palon dan Naya Genggong dikenal dengan Sapu Angin dan Sapu Jagad.

Konon, Sabdo Palon dan Naya Genggong bukanlah nama asli dari sang abdi, melainkan gelar yang diberikan sesuai dengan karakter tugas yang diemban. Sabdo Palon memiliki dua makna, "sabdo" berarti seseorang yang memberikan masukan atau ajaran, dan "palon" yang berarti kebenaran yang bergema dalam ruang semesta. Jika disatukan, "Sabdo Palon" adalah seorang abdi yang berani menyuarakan kebenaran kepada raja dan berani menanggung akibatnya. Sementara Naya Genggong, "naya" berarti nayaka atau abdi raja dan "genggong" yang bermakna mengulang-ulang suara. Naya Genggong adalah seorang abdi yang berani mengingatkan raja secara berulang-ulang tentang kebenaran dan berani menanggung akibatnya.

Nama Sabdo Palon banyak dikisahkan dalam Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palon, atau yang banyak dikenal dengan Jangka Sabdo Palon. Jangka Sabdo Palon diyakini sebagai karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita.Jika selama ini dikatakan serat tersebut ditulis sebagai ramalan kehancuran Islam setelah 500 tahun kehancuran Majapahit, maka sebetulnya tujuan akhir dari pengarang Serat Jangka Sabda Palon ternyata adalah sebuah proses untuk “menerima” Islam.

Nukilan syair dalam Jangka Sabdo Palon yang diduga ramalan kehancuran Islam di Jawa adalah,

Pepesthene nusa tekan janji, yen wus jangkep limang atus warsa, kepetung jaman Islame, musna bali marang ingsun, gami Budi madeg sawiji, …

(Takdir nusa sampai kepada janji, jka sudah genap lima ratus tahun, terhitung jaman Islam, musnah kembali kepadaku, Agama Budi berdiri menjadi satu …)

Bait ini terletak di penghujung akhir Serat Jangka Sabdo Palon.

Selain itu ada juga tuturan dalam serat tersebut yang konon meramalkan terjadinya huru hara akhir zaman. Begini bunyinya,

Miturut carita kuna,
wecane janma linuwih,
kang wus kocap aneng jangka,
manungsa sirna sepalih,
dene ta kang bisa urip
yekti ana saratipun,
karya nulak kang bebaya,
kalisse bebaya yekti,
ngulatana kang wineca para kuna.

Terjemahan bebasnya, menurut cerita kuno dari para leluhur yang memiliki kelebihan dalam spiritual, semua cerita yang disampaikan para leluhur telah tertulis dalam kitab Jangka. Kelak umat manusia di masa depan akan lenyap separuh dari jumlah total yang menghuni bumi. Mereka yang bisa bertahan hidup harus berusaha dan bekerja untuk menjauhkan diri sendiri dari berbagai marabahaya. Cara untuk mempertahankan diri dari prahara di masa depan adalah dengan membaca, meresapi dan menjalankan ajaran-ajaran para leluhur.

Ada juga petikan dari jangka Sabdo Palon yang konon meramalkan terjadinya letusan Gunung Semeru. Ini termuat dalam pupuh Sinom.

Sanget-sangeting sangsara,
Kang tumuwuh tanah Jawi,
Sinengkalan taunira,
Lawang Sapta Ngesthi Aji,
Upami nabrang kali,
Prapteng tengah-tengahipun,
Kaline banjir bandang,
Jerone nyilepake jalmi,
Kathah sirna manungsa kathah pralaya.

Terjemahannya, sangat-sangatnya sengsara yang timbul di Tanah Jawa, ditandai pada tahun Sembilan Tujuh Delapan Satu. Seumpama menyeberang sungai, sampai di tengah-tengahnya, sungainya banjir bandang. Dalamnya menenggelamkan manusia. Banyak manusia mati, banyak bencana.

Angka "9781" pada jangka tersebut jika dibaca menurut Candra Sengkala menjadi 1879 atau 1978 dalam pembacaan tertentu. Pada tahun 1978 inilah, Gunung Semeru meletus.

Ramalan tersebut juga dinisbatkan pada meletusnya Gunung Merapi pada 2010 yang lalu. Ini berkait dengan janji Sabdo Palon Naya Genggong sebelum moksha, "Dan ingatlah keharuman air wangi nanti akan bertahan selama 500 tahun dan 4 zaman." Hitungan zaman paling dekat dalam penanggalan Jawa adalah sewindu (delapan tahun). Jika demikian 4 jaman dikali 8, berarti 32. Maka isyarat meletusnya Gunung Merapi terjadi 32 tahun sesudahnya.

Hardi agung-agung samya,
Huru-hara nggêgirisi,
Gumalêgêr swaranira,
Lahar wutah kanan kering,
Ambleber angêlêbi,
Nrajang wana lan desagung,
Manungsanya keh brastha,
Kêbo sapi samya gusis,
Sirna gêmpang tan wontên mangga puliha.

Gunung berapi semua,
Huru hara mengerikan,
Menggelegar suaranya,
Lahar tumpah kekanan dan kekirinya,
Menenggelamkan,
Menerjang hutan dan perkotaan,
Manusia banyak yang tewas,
Kerbau dan Sapi habis,
Sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.

Namun lepas dari itu semua, Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon tidak lain merupakan sebuah karya sastra. Bait-bait yang termuat di dalamnya bisa menjadi bahan refleksi kesadaran umat seluruhnya di Tanah Jawa.

 

(Berbagai sumber /SMNetwork /CN41 )