image

BARANG BUKTI: Eko Riyanto (54) menunjukkan barang bukti kunci leter T kepada Kapolres Semarang AKBP Agus Nugroho saat gelar kasus di halaman Polres Semarang. (suaramerdeka.com/Ranin Agung)

23 Januari 2018 | 22:18 WIB | Semarang Metro

Polisi Tangkap Pencuri Motor di Pasar Kembangsari

UNGARAN, suaramerdeka.com- Satu warga Pronojiwo Lumajang, Jawa Timur, Eko Irianto (54) diringkus anggota Unit Reskrim Polsek Tengaran dan Resmob Polres Semarang. Kakek dua cucu ini diringkus di Probolinggo setelah kedapatan mencuri motor milik Sugiyanto di Pasar Kembangsari, Karangduren, Tengaran, Kabupaten Semarang, 8 Januari 2018 silam.

Aksi tersebut dilakukan Eko, ketika Sugiyanto tengah membuka lapak di kios kelontong miliknya sekitar pukul 04.00 WIB. Karena kondisi pasar ramai pedagang, korban pun lengah. “Korban baru ingat motornya pukul 08.00 WIB sudah tidak ada di lokasi parkir yang jaraknya lebih kurang dua meter dari lapak dagangan,” kata Kapolres Semarang, AKBP Agus Nugroho, saat gelar kasus.

Saat menjalankan aksinya, pelaku diketahui menggunakan kunci leter T yang sudah disiapkan sebelumnya. Setelah berhasil menguasai motor korbannya, residivis kasus penggelapan yang pernah mendekam di Lapas Malang ini, langsung melarikan motor Megapro H-2602-EC ke arah Probolinggo, Jawa Timur.

“Dia tertangkap setelah calon pembelinya curiga motor tidak dilengkapi surat. Kemudian melaporkan ke saudaranya yang kebetulan anggota Polres Probolinggo. Setelah dicocokkan dengan data kami, ternyata semuanya benar,” jelas Kapolres.

Bersama pelaku, turut diamankan enam jenis barang bukti. Meliputi motor Honda Megapro H-2602-EC, dua kunci leter T, satu kunci pas ukuran 8, satu pisau kater, dua kunci palsu Honda, dan satu ponsel. Kepada Polisi, Eko yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir truk pasir ini mengaku butuh uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

“Saya nekat mencuri di Tengaran, kalau di Lumajang semua orang kenal saya. Rencana mau dijual Rp 5 juta, tetapi keburu tertangkap,” ungkap tutur Eko.

Kapolres Semarang menambahkan, atas perbuatannya pelaku bakal dijerat dengan Pasal 363 ayat (5) ke 1 adapun ancaman hukumannya maksimal tujuh tahun penjara. Apa pun keterangan yang disampaikan pelaku, menurut AKBP Agus Nugroho hendak dijadikan bahan pemeriksaan dan pengembangan kasus. “Kasus ini masih kita dalami, ada tiga saksi yang kita mintai keterangan,” tukasnya.

(Ranin Agung /SMNetwork /CN40 )