image

Foto: Istimewa

15 Februari 2018 | 08:48 WIB | Semarang Metro

Tangkal Radikalisme, FPKT Gandeng Kemenhan dan KNPI Kabupaten/Kota Se-Jateng

SEMARANG, suaramerdeka.com– Dalam upaya mencegah gerakan radikalisme dan terorisme di kalangan generasi muda, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng menjalin kerja sama dengan Kemenhan Jateng dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jateng, Kota Semarang dan Kabupaten Kendal.

Ketua FPKT Jateng Dr Budiyanto SH M.Hum mengatakan pihaknya telah mengoptimalkan program penguatan generasi muda, dalam mencegah merebaknya paham radikal dan terorisme di wilayah Kabupaten/Kota.

Menurutnya, untuk menangkal paham radikal di kalangan generasi muda, FKPT Jateng menjalin kerja sama dengan KNPI Jateng, Kota Semarang, Kabupaten Kendal serta Kemenhan Jateng. “Kami telah melakukan MoU dengan KNPI dan Kemenhan terkait pencegahan Radikalisme dan Terorisme,” ujarnya usai penandatanganan kerja sama pencegahan radikalisme dan terorisme di Jateng,  di Semarang, Rabu (14/2).

Dia menyebut, kerja sama ini dengan organisasi kepemudaan sangat efektif untuk mengaplikasikan upaya pencegahan gerakan terorisme di kalangan remaja dan generasi muda. “Seperti KNPI ini memiliki organisasi hingga tingkat bawah yang semuanya beranggotakan anak muda, bahkan anak muda inilah kita ajak bersama-sama mencegah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) itu,” tuturnya.

Seperti diketahui, dalam dua minggu terakhir ini, telah terjadi gerakan terorisme yang menyasar pemuka agama maupun rumah ibadah yang terjadi di Jawa Barat, Tangerang, Sleman Yogyakarta dan di Tuban Jawa Timur.

“Dalam dua minggu terakhir ini contohnya di Jawa Barat telah terjadi penyerangan terhadap ustad dan pelakunya orang gila. Sementara, beberapa hari lalu juga terjadi penyerangan umat saat misa di Gereja Lidwina, Bedog, Sleman. Pelakunya seorang pemuda berusia 23 tahun,” ujarnya.

Ketua Dewan Ahli Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Cabang Kabupaten Demak Drs Syamsul Huda M.Si mengutuk keras aksi teror terhadap pemuka agama serta perusakan rumah ibadah. Menurutnya, perusakan rumah ibadah maupun penganiayaan terhadap ustad bertentangan dengan nilai-nilai humanism serta tidak dibenarkan dalam agama manapun.

“Apapun alasannya, melakukan perusakan rumah ibadah maupun penganiayaan pemuka agama, kami mengutuk keras. Karena, perbuatan itu tidak sesuai dengan ajaran agama dan nilai humanism,” ujar Syamsul yang juga menjabat sebagai Sekretaris FKPT Jateng.

(Andika Primasiwi /SMNetwork /CN26 )