image

SAMPAIKAN MATERI: Guru Besar Ilmu Manajemen Pendidikan Universitas Jember M Sulthon Masyhud saat memaparkan materi dalam seminar di auditorium Universitas Muria Kudus, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Muhammadun Sanomae)

16 April 2018 | 21:00 WIB | Suara Muria

Abai Pendidikan, Negara Bakal Keteteran

KUDUS, suaramerdeka.com- Pendidikan memegang peranan kunci dalam menyiapkan sumber daya manusia berkualitas dalam pembangunan suatu negara. Maka, jika negara-negara kurang memberikan prioritas pada bidang pendidikan atau bahkan mengabaikan peran pendidikan, negara akan keteran dalam menghadapi era globalisasi.

Demikian penegasan M Sulthon Masyhud, guru besar Ilmu Manajemen Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD) Universitas Jember (Unej) di depan lebih dari 700 peserta seminar di auditorium Kampus Universitas Muria Kudus (UMK), baru-baru ini. Peserta seminar ini adalah mahasiswa Prodi PGSD UMK, Prodi Matematika UMK dan Prodi PGSD Unej.

Dalam seminar bertajuk: Penguatan Pendidikan Karakter pada Siswa dalam Menghadapi Tantangan Global,  dia mengatakan, adanya perubahan yang serba cepat di era globalisasi, peran pendidikan pada suatu bangsa semakin terasa penting.

‘’Tampak sekali di era globalisasi ini, negara-negara yang kurang memberikan prioritas dalam pendidikan, akan mengalami ketertinggalan. Era globalisasi yang menuntut adanya kolaborasi, kompetisi dan adaptasi, memerlukan sumber daya manusia yang profesional,’’ kata dia.

Sulthon Masyhud juga mengatakan, jika sumber daya manusia tidak profesional, maka berpotensi keteteran dalam mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

‘’Kondisi Indonesia saat ini termasuk kategori keteteran dalam mengejar ketertinggalan Iptek. Human Development Index yang dikeluarkan PBB pada 2017, Indonesia masih bertengger di peringkat 124 dari 180 negara anggota PBB,’’ ungkap dia.

Pendidikan Karakter

Sementara itu, Wahyudin dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dalam seminar  itu mengulas pentingnya pendidikan karakter. Dia mengatakan, gerakan penguatan pendidikan karakter (PPK) yang telah dimulai sejak 2010 semakin mendesak untuk diprioritaskan.

‘’PPK semakin mendesak diprioritaskan, karena berbagai persoalan yang mengancam keutuhan dan masa depan bangsa, seperti maraknya intoleransi dan kekerasan yang mengancam kebhinnekaan dan keutuhan NKRI,’’ kata Wahyudin.

Rendahnya indeks pembangunan manusia mengancam daya saing bangsa, lemahnya fisik anak-anak karena kurang olahraga, rendahnya rasa seni dan estetika, serta pemahaman etika yang belum terbentuk selama masa pendidikan. ‘’Berbagai hal itu cukup  menjadi dasar untuk memperkuat kembali jati diri dan identitas bangsa melalui gerakan nasional PPK,’’ lanjut dia.

Retno Listyarti, komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan dalam seminar itu menilai, selama ini para guru telah mengajarkan pendidikan karakter, namun kebanyakan masih seputar teori dan konsep, belum mengarah pada ranah metodologi dan aplikasinya dalam masyarakat.

‘’Idealnya, setiap proses pembelajaran mencakup aspek konsep, teori, metodologi dan aplikasi. Jika para guru mengajarkan kurikulum secara komprehensif, maka kebermaknaan yang diajarkan akan lebih efektif dalam menunjang pendidikan karakter,’’ ujarnya dalam seminar yang dipandu Wakil Rektor I UMK Murtono itu. 

(Muhammadun Sanomae /SMNetwork /CN40 )