image

PEMAGARAN: Para pekerja dari PT APP melakukan pemasangan pagar wilayah IPL NYIA di tepi Sungai Bogowonto di kawasan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Temon, Kulonprogo, Senin (16/4). (suaramerdeka.com/Panuju Triangga)

17 April 2018 | 03:29 WIB | Suara Kedu

Pemagaran NYIA di Kawasan Congot Terkendala Alam

KULONPROGO, suaramerdeka.com– Penyelesaian pemagaran lahan wilayah Izin Penetapan Lokasi (IPL) untuk pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (IPL NYIA) di kawasan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo terkendala kondisi alam.

Pelaksanaan pemagaran di kawasan Pantai Congot dilanjutkan Senin (16/4) oleh PT Angkasa Pura Property (APP), anak Perusahaan PT Angkasa Pura I selaku pelaksana. Project Manager PT APP untuk proyek pemagaran NYIA, Arif Budiman mengungkapkan, pemasangan pagar di tepian Sungai Bogowonto di kawasan Pantai Congot, menghadapi beberapa kendala.

Di antaranya, keberadaan kapal penyedot pasir milik proyek yang sedang bersandar di tepi sungai menyulitkan pemagaran. Selain itu, patok IPL tergerus air sungai dan masuk ke dalam perairan, sehingga pemasangan pagar dilakukan lebih mengarah ke daratan sungai. Kondisi kontur tanah di tepi sungai yang naik turun juga cukup menyulitkan pemasangan pagar.

"Pemagaran di kawasan Congot kendalanya karena kondisi alam,” katanya, Senin (16/4).

Arif menyebut, dari 16 kilometer keseluruhan pagar yang harus dipasang di sekeliling lahan IPL, saat ini tinggal tersisa sekitar 50 meter di kawasan Pantai Congot dan kurang dari 100 meter di Dusun Sidorejo, Desa Glagah.

Terkait penyelesaian pemagaran di dekat rumah warga penolak NYIA di Sidorejo, Arif mengungkapkan, dimungkinkan akan dilakukan sekaligus dengan pelaksanaan penuntasan pengosongan lahan IPL. Dalam pelaksanaan pemagaran di Sidorejo, pihaknya juga menjaga agar suasana masyarakat tetap kondusif.

"Sehingga kami mengikuti jadwal dari PT Angkasa Pura I (terkait pelaksanaan pengosongan lahan," imbuhnya.

Project Manager Pembangunan NYIA PT Angkasa Pura I, R Sujiastono mengatakan, nantinya ketika pemagaran sudah selesai 100 persen maka area IPL akan menjadi area tertutup. Oleh karena itu, pihaknya berharap agar warga yang masih menolak dan tetap bertahan di dalam wilayah IPL agar segera pindah keluar dari IPL bandara tanpa proses-proses pemaksaan.

Menurutnya, dengan telah selesainya pembebasan lahan maka tanah yang ada di dalam wilayah IPL sudah menjadi milik negara. Proses pembebasan sudah diselesaikan dengan pembayaran ganti rugi, baik yang dibayarkan secara langsung maupun yang dibayar melalui penitipan atau konsinyasi di pengadilan.

“Semoga warga bisa memahami dan menyadari, sehingga bisa menata hidupnya lebih baik di luar IPL bandara. Bagi yang belum mengambil (ganti rugi yang dititipkan di pengadilan), silakan segera mengambil di pengadilan,” katanya. 

(Panuju Triangga /SMNetwork /CN39 )