image
10 Desember 2017 | Ekspresi Suara Remaja

Belajar Menulis Kreatif Ala Dwita

SIAPAyang sering galau? Daripada galau nggak jelas, lebih baik tuangkan kegalauan itu ke hal-hal positif. Misalnya dengan menulis buku,” kata penulis Dwitasari, tepat saat memasuki Ruang Serba Guna Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip).

Di kalangan anak muda, nama Dwitasari mungkin sudah tak asing lagi. Terutama buat remaja yang mengalami fase percintaan, kutipan-kutipan dalam buku Dwitasari kerap dijadikan referensi. Tetapi tak demikian dengan sosoknya.

Dwitasari terkesan misterius lantaran tidak pernah memajang foto diri di akun media sosialnya. Maka, penampilan Dwitasari dalam Workshop Menulis Kreatif “Goreskan Pena, Genggam Dunia”, Sabtu (25/11), itu menjadi momen yang amat ditunggu-tunggu penggemarnya.

Dalam sesi bincang- bincang singkat bersama moderator yang merupakan finalis Duta Bahasa Jawa Tengah 2017 Ajeng Ratnasari, Dwitasari sempat menyinggung perihal keengganannya narsis di media sosial.

Perempuan berpembawaan ceria itu berkata bahwa dirinya ingin dikenal melalui karya, bukan tampilan fisik semata. Sebagai informasi, saat ini Dwitasari adalah salah satu penulis produktif di Indonesia. Di usianya ke-22, perempuan berparas ayu itu sudah menelurkan 15 buku.

Empat novelnya bahkan diangkat ke layar lebar, di antaranya Cinta Tapi Beda (2012) dan Raksasa Dari Jogja (2016). Pada workshopyang dibuka dengan penampilan Tari Saman FIB Undip tersebut, Dwitasari menjelaskan cara-cara menjadi penulis novel muda dan berbeda.

Menurutnya, usia muda adalah masa-masa emas mencari ide, termasuk ide tulisan. Agar di usia muda bisa menghasilkan karya yang “berbeda”, dia menekankan pentingnya menulis kreatif. “Kreatif itu sesuatu yang bisa kamu lakukan, tapi tidak bisa dilakukan orang lain.

Kreatif dalam menulis berarti bisa menciptakan ciri khas dalam sebuah karya,” papar Dwitasari. Karya Dwitasari, misalnya, memiliki ciri khas tema percintaan.

Ia konsisten mengangkat topik itu karena ingin menunjukkan bahwa sebenarnya masalah percintaan bukanlah alasan untuk tidak mengembangkan diri. Dengan membaca karyanya, kata Dwitasari, pembaca tak hanya menikmati kegalauan percintaan tapi juga mendapat solusi mengatasinya.

Kiat-kiat Menulis

Selama 45 menit Dwitasari membocorkan kiat-kiat menulisnya selama ini. Dalam hal ide cerita, ia lebih sering mengangkat hal-hal sederhana yang ada di sekitarnya. Caranya dengan mengombinasikan pengalaman pribadi, kisah orang-orang terdekat, juga imajinasi. Kecuali itu, di hadapan 90- an audiens Dwitasari juga menerangkan cara membuat kerangka penulisan novel.

Membuat prolog, isi, serta epilog bisa dalam bentuk paragraf maupun kronologis cerita per bab. Dengan membuat kerangka penulisan, alur cerita akan mudah dibaca dan dinikmati. Dan, yang tak kalah penting dalam menulis novel adalah penciptaan konflik.

Tanpa konflik, jalan cerita tak akan menarik. Workshop Menulis Kreatif merupakan rangkaian acara Diponegoro Library Festival 2017 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Perpustakaan Undip.

Kegiatan tersebut dibuka pada Kamis (23/11) dengan agenda donor darah hasil kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Korps Sukarela (KSR) PMI Unit Undip.

Hari berikutnya, Jumat (24/11), terselenggara lomba esai untuk SMA se- Jawa Tengah. Lalu, sebagai penutup diadakan lomba mendongeng SD se-Jawa Tengah pada Minggu (26/11).

“Ini adalah tahun pertama terselenggaranya Library Festival. Melalui acara ini kami ingin memperkenalkan jurusan Ilmu Perpustakaan ke masyarakat umum,” jelas Koordinator Diponegoro Library Festival 2017 Andini Dyah Pramesti.(Sofie Dwi Rifayani-63)

SMCETAK TERKINI