image

SM/dok

24 Desember 2017 | Sehat

Bahaya Lelah Berkepanjangan

PERNAHKAHAnda mengalami lelah dan lemas sepanjang hari? Padahal, sudah tidur dan beristirahat cukup, serta tidak melakukan aktivitas yang berat, tapi badan masih saja capai dan pegal-pegal. Bila Anda mengalami gejala tersebut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, bisa jadi Anda mengalami sindrom kelelahan kronis atau Chronic Fatigue Syndrome (CFS).

Dr Suryadi SpS dari RSUPdr Kariadi Semarang menjelaskan, CFS merupakan kelelahan ekstrim yang penyebabnya tidak jelas. Kelelahan yang dirasakan adalah sepanjang hari dan bertambah berat setelah melakukan aktivitas fisik ataupun mental.

Disebut kronis karena gejala terus muncul antara tiga hingga enam bulan. Salah satu cirinya, mengantuk dan lelah di siang hari. Untuk membedakan apakah Anda mengalami kelelahan biasa atau CFS, apabila mengalami kantuk dan lelah yang berat lalu beristirahat atau tidur, lelah biasa akan hilang setelah beristirahat.

Sementara lelah karena sindrom kronis, rasa capai tidak hilang meski sudah beristirahat. Ciri-ciri bila Anda mengalami CFS antara lain lelah, lemas, kehilangan daya ingat dan konsentrasi, sakit tenggorokan, pembesaran kelenjar getah bening pada leher, nyeri otot dan sendi-sendi, nyeri kepala, tidur tidak bisa lelap, dan kelelahan ekstrim lebih dari 24 jam setelah melakukan aktivitas fisik ataupun mental.

Suryadi mengatakan, CFS juga berhubungan dengan psikis. Awalnya mengalami gangguan cemas dan nyeri ringan. Karena tak kunjung sembuh, merasa putus asa lalu depresi. CFS juga dipicu berbagai faktor kombinasi. Selain itu, CFS juga memiliki gejala mirip dengan fibromyalgia, yakni nyeri dan kelelahan otot dan sendi.

Meskipun penyebabnya secara umum belum jelas, beberapa yang menjadi pemicunya adalah infeksi virus, gangguan sistem imun, dan ketidakseimbangan hormon (pada wanita, seperti menstruasi tidak lancar atau menopause). Pada beberapa orang, mereka mengalami gejala CFS setelah terinfeksi virus. Sementara beberapa faktor risiko pemicu CFS adalah usia, gender, dan stres. Meskipun bisa menyerang pada segala usia, CFS banyak ditemui pada usia 40-50 dan penderita lebih banyak wanita.

Untuk memastikan apakah Anda benar-benar menderita CFS, perlu dilakukan serangkaian pemeriksaan, yang meliputi pemeriksaan gangguan tidur serta memeriksa gangguan kesehatan lainnya. Karena CFS merupakan salah satu jenis gangguan yang umumnya diderita pasien anemia, diabetes, dan gangguan tiroid,” papar Suryadi.

Terapi Pengobatan

Lebih lanjut ia menjelaskan, pemeriksaan berikutnya adalah apakah terdapat gangguan jantung dan paru-paru, karena dua jenis gangguan itu bisa mengakibatkan penderita mengalami kelelahan yang berlebihan.

Terakhir pemeriksaan kejiwaan, karena beberapa jenis gangguan kejiwaan pun salah satu tandanya adalah fatigue atau kelelahan, seperti depresi, gangguan cemas, bipolar, dan skizofrenia. Pengobatan atau terapi untuk pasien CFS adalah dengan cara mengobati atau menghilangkan gejala-gejala yang ada. Bagi yang memiliki faktor psikosomatis, maka yang diobati adalah gangguan psikis yang dialami. Jika yang mengalami nyeri pada sendi-sendi, diberikan obat untuk mengatasi nyeri sendi.

Karena itu, jenis obatobatan yang biasanya diberikan pada pasien CFS merupakan obat antidepresan, antinyeri, dan vitamin. Kemudian, terapi jangka panjang untuk pasien CFS, meliputi pendekatan dengan kombinasi terapi kognitif dan olahraga ringan. “Penting juga untuk meningkatkan kualitas hidup lewat pola hidup sehat. Pola makan teratur, olahraga teratur dan terukur, istirahat dan tidur cukup,” imbuhnya. (Irma Mutiara Manggia-58)

SMCETAK TERKINI