image
07 Januari 2018 | Sehat

Tetap Sehat dengan Berpikir Positif

”Positive thinking will let you do everything better than negative thinking will” (”berpikir positif akan membuat Anda bisa melakukan segala hal lebih baik daripada berpikiran negatif”). Pernyataan Zig Ziglar, seorang penulis sekaligus motivator asal Amerika Serikat tersebut, juga berlaku dalam dunia kesehatan. Maksudnya, dengan selalu berpikir positif maka akan memberikan efek yang positif pula terhadap tubuh.

Prof Dr Dra Hardani Widhiastuti MM menjelaskan, berpikiran positif atau negatif, ada kaitannya dengan sugesti. Misalnya berpikir buruk terhadap seseorang atau sesuatu, alias menyalahkan pihak lain. Pikiran menyalahkan seperti “gara-gara si Aaku pasti jadi sakit”, maka tubuh kita akan menjadi sakit. “Dari pikiran-pikiran yang negatif, bisa membuat tubuh menjadi sakit, karena ada kaitannya dengan sugesti. Itu yang namanya psikosomatik,” ujar dosen sekaligus dekan Fakultas Psikologi Universitas Semarang (USM) tersebut.

Ketika kondisi mental atau emosional seseorang sedang tidak seimbang, dalam hal ini memiliki pikiranpikiran yang negatif, maka pikiran negatif itu mampu memengaruhi kesehatan fisik. Singkatnya, psikosomatik merupakan gangguan psikologis yang memengaruhi fisik. Namun masyarakat awam sering salah kaprah mengenai apa yang disebut psikosomatik.

Yakni memiliki keluhan fisik seperti nyeri, mual, pusing, tetapi setelah diperiksa ternyata tidak dapat dibuktikan secara medis. Kondisi fisiknya normal, tapi merasa tidak normal. Kondisi ini merupakan somatoform, bukan psikosomatik. Hubungan antara psikis dan fisik dalam psikosomatis bisa sangat bervariatif. Pertama, penyakit fisik yang sudah diderita, bisa semakin berat atau diperparah kondisi psikologisnya. Kedua, penyakit fisik bisa kambuh akibat faktor psikologis. Ketiga, penyakit fisik bisa resistan terhadap obat karena faktor psikologis. Pada dasarnya hampir semua gangguan psikis disebabkan stres. Disadari atau tanpa disadari tentunya. Seperti alergi, jerawat atau asma. Dan penyakit pasikosomatik juga bisa sangat beragam. Mulai dari migrain, vertigo, maag, gangguan dispepsia (lambung) fungsional, nyeri pada dada, ganguan pencernaan hingga gatal-gatal seperti neurodermatitis.

Disebabkan Stres

Beberapa orang yang sebenarnya menderita psikosomatis, tidak menyadarinya sama sekali. Bahkan hingga resistan terhadap obat. Misalnya orang yang memiliki penyakit maag. Ketika sering kambuh bukan karena terlambat makan, sang penderita barangkali tak menyadari kalau penyebabnya karena stres. Atau ketika seorang pengidap asma yang ketika kambuh, semua obat-obatan yang diminum tak juga meredakan kambuhnya asma. Tanpa disadari, faktor psikis menyebabkan asmanya resistan terhadap obat. Perempuan lebih banyak mengalami psikosomatis. Mengapa? “Karena perempuan lebih banyak dipengaruhi afeksi atau rasa, sedangkan laki-laki lebih cenderung memiliki kognisi atau logika,” papar Hardani. Dia mengatakan, berpikir positif saja tidak cukup untuk mendukung fisik yang sehat.

Berpikir positif harus diikuti gaya hidup yang sehat. “Percuma berpikir positif tapi pola makan tidak dijaga. Berpikir positif tidak terkena penyakit dan berumur panjang, tapi masih menjadi perokok aktif, makan sembarangan, ya sama saja bohong,” tuturnya.

Untuk selalu berpikir positif, Hardani memaparkan kiat-kiatnya. Pertama, kita harus sadar bahwa tiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita pun harus sadar akan kekurangan dan kelebihan diri sendiri dan tentunya tidak bisa disamakan dengan orang lain. Kedua, selalu bersyukur. Jangan selalu mengeluhkan banyak hal yang terjadi dalam hidup kita. Karena semakin banyak mengeluh, semakin banyak energi negatif yang kita masukkan. Sebaliknya, bila kita banyak bersyukur, sekecil apa pun kita bersyukur, maka semakin banyak energi positif yang kita masukkan dan tentunya hidup menjadi lebih bahagia. Ketiga, berserah diri pada Tuhan. Berserah ini bukan berarti pasrah ataupun berdiam diri bila ada permasalahan. Tapi tetap berusaha dan berlapang dada. Keempat, menata hidup lebih baik lagi. Kita bisa berpikiran positif akan sembuh dari penyakit, tapi harus diikuti dengan mengonsumsi obat yang sudah diberikan serta menjaga pola makan.

Akan keliru bila kita merasa bisa sembuh dari penyakit meski tidak meminum obat. Kelima, belajar dari pengalaman. Meskipun sulit untuk mengakui bahwa kita melakukan kesalahan di masa lalu, namun dengan instrospeksi dan mengakui kesalahan di masa lalu, kita bisa belajar dari pengalaman tersebut untuk menjadi lebih baik lagi. Keenam, menerapkan gaya hidup sehat. Mulai dari pola makan teratur, istirahat cukup, dan berolahraga. “Istirahat cukup itu harus, karena jumlah jam tidur yang cukup berguna untuk menyeimbangkan kesehatan seseorang. Kalau jam tidur kurang atau tidak teratur, akan memicu kondisi fisik yang tidak bagus,” imbuh Hardani. Terakhir, melakukan hal-hal yang bersifat relaksasi atau membuat Anda menjadi lebih rileks juga dianjurkan. Seperti melakukan yoga atau mendengarkan musik. Selingi hari-hari dengan musik atau hal yang menghibur supaya tidak terlalu serius. Karena orang yang terlalu serius mudah menjadi lelah. Kelelahan bisa memicu pikiran- pikiran yang negatif(Irma Mutiara Manggia-58)

Berita Lainnya


SMCETAK TERKINI