image

Foto-foto : SM/Waridin : Istana Qorun

07 Januari 2018 | Jalan-jalan

Menengok Reruntuhan Istana Qarun di Mesir

  • Oleh Waridin

Kita sudah terbiasa mendengar kata ”karun”, misalnya jika bicara tentang harta karun. Itulah harta yang berasal dari sumber antah berantah, misalnya, yang tertimbun di dalam tanah atau laut. kata Kata “karun” berasal dari nama Qarun, orang Mesir terkaya di dunia waktu zaman Nabi Musa.

Alkisah, Qarun memiliki ribuan gudang emas, permata, perak, dan kuda tunggangan yang sangat mahal. Saking banyak gudang penyimpanan itu, kunci-kuncinya harus dipikul banyak punggawa yang selalu menyertai ke mana pun Qarun pergi. Dia sering memamerkan harta bendanya kepada orang-orang Mesir dan sekitarnya. Karena kesombongan itu, Allah menurunkan bencana. Qarun dilaknat terbenam ke dalam bumi bersama harta benda dan istana serta pengikutnya.

Lokasi tempat penenggelaman Qarun beserta seluruh kekayaannya ada di kawasan Al-Fayyum, sekitar 100 km atau dua jam perjalanan dengan mobil dari Kairo. Tempat itu dikenal dengan nama Bahirah (Danau) Qarun. Danau itu sepanjang sekitar 30 kilometer dan lebar 10 kilometer berkedalaman 30-40 meter. Tidak jauh dari danau itu kini masih dapat disaksikan bekas atau puing salah satu istana Qarun.

Fayyum yang Subur

Setelah mengikuti kegiatan di Kairo, kami serombongan menyewa bus mini dari Kairo menuju Fayyum. Sebelumnya kami mengunjungi tempat wisata andalan Mesir. Itulah piramid dan spinx di Giza serta ke Alexandria, pantai yang eksotis. Ada dua mahasiswa Al-Azhar, Fathoni dan Hafiz asal Demak dan Tegal, mengantar kami. Mereka juga mengelola Griya Jawa Tengah, tempat kami menginap selama berada di Kairo. Perjalanan ke Fayyum terasa cukup menyenangkan, meski di tengah cuaca panas 45-48 derajat Celcius.

Di tengah perjalanan, kami berhenti di warung untuk melepas lelah sambil minum kopi dan teh serta menyicipi buah-buahan segar yang murah. Fayyum merupakan kota unik di Mesir tengah karena memiliki banyak oasis atau sumber air. Didirikan 4.000 tahun SM, itulah adalah kota tertua di Mesir dan salah satu kota tertua di Afrika. Memasuki kota, kami disambut hamparan lahan hijau. Siapa sangka jika di negeri gurun ada tanah sesubur itu. Di samping kiri dan kanan jalan yang kami lewati sesekali ada pepohonan rindang. Ada tanaman mangga, kurma, zaitun, jeruk, sayuran, dan tanaman pangan lain yang menghijau. Dari Fayyum itulah pasokan buah, sayur, dan bahan pangan ke Kairo dan kota lain berasal.

Masyarakat menyebut semua itu tak lepas dari peran Nabi Yusuf, yang kali pertama membangun kota tersebut. Dikisahkan pada waktu itu Nabi Yusuf baru diangkat menjadi perdana menteri Mesir. Allah memerintah Nabi Yusuf pergi ke Jaubah dan menggali tiga anak sungai untuk mengalirkan air dari Sungai Nil. Daerah Jaubah pun menjadi subur. Lalu, Nabi Yusuf membangun 360 desa; sama dengan jumlah hari setahun. Dia bertujuan dapat mencukupi kebutuhan penduduk Mesir dalam setahun.

Puing Istana Qorun

Di tengah sengatan sinar matahari yang terik, kami tiba di portal menuju ke Istana Qorun. Berapa penjaga segera membuka palang besi, begitu Fathoni yang mendampingi kami menyerahkan beberapa lembar pound Mesir. Tiket masuk tidak begitu mahal, sekitar Rp 60.000 per orang. Bus mini yang kami sewa dapat diparkir di pelataran sisa bangunan istana. Ada dua orang yang mengikuti rombongan kami.

Mereka menyediakan diri sebagai pemandu dengan tambahan uang tip. Namun mereka tidak dapat berbahasa Inggris, sehingga Fathoni bilang kami tidak memerlukan mereka. Namun mereka masih ngglibet saja membuntuti kami. Tujuan akhir mereka ya minta fulus. Model ngglibet seperti itu mirip para penjaga Piramida Giza. Begitu masuk ke dalam bangunan, kami langsung berada di ruangan besar dengan pilar raksasa dan beratap tinggi. Potongan batu bangunan kira-kira seukuran di Piramida Giza. Bagian berikutnya adalah ruang semacam singgasana, di kanan-kiri merupakan kamar-kamar penyimpanan harta benda.

Ada juga ruangan atau kamar di bawah tanah, tetapi aksesnya sudah ditutup. Sinar matahari juga dapat masuk ke dalam bangunan dengan sirkulasi udara cukup nyaman. Jika naik tangga ke bagian atas bangunan, kita dapat menyaksikan bekas ruangan lain dan pemandangan menawan.

Danau Qorun terlihat dengan jelas. Seni arsitektur bangunan sangat luar biasa. Itu tampak dari tembok atau jendela dari batu besar yang dipahat dengan cantik dan indah. Alkisah, ada 360 buah kamar atau ruang di dalam istana; sama pula dengan 360 hari setahun. Ada tiga tingkat yang menempatkan kaum kerabat dan tempat menyimpan harta.

Qorun membangun istana di Fayoum karena waktu itu Firíaun penguasa Mesir melarang. Fir’aun tidak mau istananya tersaingi oleh keindahan istana Qorun. Setelah lebih dari sejam berada di bekas istana Qorun, akhirnya kami beranjak kembali ke Kairo. Keesokan harinya rombongan melanjutkan perjalanan ke Tanah Air lewat Istanbul, Turki. Mumpung tinggal nyambung sedikit ke utara, kami menyempatkan diri pula mengunjungi satu-satunya kota di dua benua.(44)

Berita Lainnya