image
07 Januari 2018 | Bincang-bincang

Aris Setiawan:

Kini Musik Tradisi Makin Jadi Usang

Musik gamelan merupakan kekayaan seni dan kultural kita. Adakah seni musik tradisi, terutama di Jawa, nongamelan? Bagaimana potret musikal itu? Berikut perbincangan wartawan Suara Merdeka Gunawan Budi Susanto dengan pengamat musik sekaligus dosen etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Aris Setiawan.

Bagaimana gambaran kekayaan musikal kita?

Kekayaan musik(al) di Indonesia sangat beragam, bahkan mungkin terbanyak di dunia. Jawa saja punya berbagai kesenian cukup tipikal dan tak ada di daerah lain. Itu antara lain karena konsep musik kita menganut nada tak absolut (semi absolute pitch); setiap daerah punya ekspresi musikal berupa nada atau bunyi sangat personal. Kekayaan musik itu tumbuh dan kembang secara arif dalam kultur masing-masing. Masyarakat Banyuwangi dengan suku Osing, Jember Pandalungan, Blora Samin, Banyumas Panginyongan. Semua hadir dan menguatkan identitas, ciri, dan karakter manusia. Mendengar musik berarti membaca eksistensi kultural manusia.

Adakah musik tradisi nongamelan yang jadi kekayaan seni dan kultural kita?

Ada, sangat banyak. Namun di Jawa betapapun pengertian “nongamelan” tak dapat dimaknai secara sederhana. Sebab, seberapa pun ekspresi musik mereka tak memakai gamelan, konsep, struktur, warna, dan teknis bermusiknya bersumber dari gamelan. Misalnya, musik patrol di Jember dan Lumajang, calung di Banyumas, mamaca di Madura, angklung paglak di Banyuwangi, sholawatan di Jepara, dongkrek di Madiun, ledug di Magetan dan Pacitan. Musik-musik itu tak memakai instrumen gamelan secara fisik. Namun aksentuasi bunyi dan pola bermain sering berada dalam kisaran nada slendro dan pelog. Artinya, mereka tak memakai gamelan secara verbal, tetapi memainkan secara imajiner. Gamelan memberi ide dan picu bagi keterciptaan episentrum musik baru dengan akar kuat.

Apakah fungsi musik tradisi itu di masyarakat? Semata-mata ekspresi seni atau bagian tak terpisahkan dalam ritual misalnya?

Kita harus menyadari seni tak berpusat pada satu kepentingan. Namun berpendar dalam berbagai rupa dan fungsi. Musik tradisi di satu sisi dapat (semata-mata) jadi ekspresi seni. Di sisi lain, juga bertaut erat dengan aspek ritual. Musik dung-dung di Madura, misalnya, menjadi ajang lomba balap merpati atau calung di Banyumas sebagai ruang menghibur diri dari rutinitas bekerja, bundengan di Wonosobo sebagai hiburan bagi petani di sela-sela beternak bebek di pematang sawah. Di sisi lain, musik-musik juga bertaut erat dengan aspek ritual, misalnya ritus kesuburan suku Osing di Banyuwangi yang memakai angklung paglak atau krumpyung di Banyumas serta mamaca dengan senandung dari kitab Al- Barzanzi sebagai ritus memuji Sang Pencipta.

Bagaimana musik tradisi sekarang dalam “dominasi” budaya populer?

Budaya populer berimbas sangat signifikan terhadap eksistensi musik-musik itu. Ruang tampil jadi lebih terbatas, tak sesering dulu. Bagi pelaku seni kreatif, budaya populer dapat jadi stimulan memunculkan varian musik baru, hasil kolaborasi atau perpaduan antara tradisi dan budaya pop. Antara lain, campur sari, keroncong dangdut, kendang kempul. Perkara estetika mungkin dapat dikesampingkan, yang utama bagaimana kesenian itu mampu bertahan dan diterima pasar. Musik yang tak mampu bersinergi dengan zaman bisa dipastikan makin hilang dan tak terdengar. Terlebih zaman ini senantiasa menuntut daya “spektakel” atau sesuatu yang bombastis, keras, cepat, mengentak, ramai, dan gaduh. Musik yang tak memiliki jiwa itu otomatis kalah. Karena itu, negosiasi musikal berlangsung lewat pengawinan dengan musik populer, seperti dangdut.

Bagaimana prospeknya di tengah (gerusan arus) globalisasi?

Sampai di titik ini, perkembangan musik tradisi kurang menggembirakan. Masyarakat cenderung lebih menyukai tontonan yang mudah dijangkau, terutama di ruang virtual (gawai). Terlebih stereotipe yang menempatkan musik tradisi sebagai kuno dan kolot memperburuk nasib hidup musik itu. Makin lama usia musik kian dianggap kurang berharga atau murah. Dalam konteks benda kepurbakalaan, makin lama usia benda kian mahal dan bernilai jual lebih. Musik tradisi barangkali menarik pada zamannya, tetapi kini menjadi usang. Karena itu, butuh gebrakan dan gerakan untuk merestorasi musik tradisi. Bukan sekadar dalam konteks kekaryaan, melainkan juga dalam takaran konsep dan pewacanaan.

Bagaimana di Jawa?

Di Jawa yang dapat bertahan dan menunjukkan eksistensi kebanyakan musik gamelan. Musik nongamelan cukup sulit kita jumpai. Bila hadir tentu dalam ruang dan waktu tertentu yang lebih terbatas, seperti ledug, paglak, mamaca, dan krumpyung. Namun musik tradisi itu tidaklah mati atau punah. Hanya ruang tampil lebih terbatas. Karena itu, di Jawa, tempat modernitas berlangsung cepat, musik tradisi bangkrut. Namun yang cukup menggembirakan, festival musik tradisi hari ini mulai digalakkan seperti di Purwakarta (kentongan), Purbalingga (bambu), Banyuwangi (kuntulan), Pacitan dan Magetan (ledug). Musik tradisi mendesak dan penting dihadirkan sebagai simpul yang mengikat manusia Jawa dengan akar kultural mereka.

Bagaimana kemungkinan pada masa depan? Lestari atau justru punah?

Makin lestari jika muncul kesadaran bersama bahwa musik tradisi penting dan ideal dihadirkan kembali sebagai representasi kultural. Bukankah makin deras pengaruh budaya pop, nilai dan karakter diri kian terkikis? Karena itu, butuh jembatan agar manusia menyadari siapa dan dari mana berasal. Musik dalam konteks ini jadi penting sebagai katalisator. Memainkan musik tradisi bukan lagi upaya melestarikan atau konservasi, melainkan kebutuhan hidup yang penting di masyarakat. Sebaliknya, bakal segera punah jika kita tak membacaan musik tradisi secara baik. Seperti saat ini, musik tradisi tak punya ruang pentas lebih terbuka, kalah bersaing dari budaya musik populer yang setiap saat hilir-mudik di telinga lewat berbagai media, terutama televisi dan internet. Pemusik tradisi adalah orangorang tua yang tak punya generasi penerus. Akibatnya jika mereka mati, musik itu pun mati.

Apa langkah untuk mencegah kepunahan suatu jenis musik tradisi?

Hal sederhana yang dapat mencegah musik itu punah adalah mendengarkan kembali, tak lebih. Selama ini banyak jargon bermunculan dengan misi melestarikan musik tradisi, tetapi sekadar wacana, pemanis bibir, gosip, gagasan, dan umpatan. Sebagaimana penyiar televisi Ibu Kota yang berpesan melestarikan musik tradisi sambil memainkan calung, tetapi kita melihat cara memainkan asal-asalan atau sekadar akting di depan kamera. Saat ini banyak sosok seperti itu; memakai musik tradisi sebagai lahan berpamrih. Selain itu, menyiapkan generasi penerus dengan membuka lembaga konservasi dan pengembangan. Namun yang paling penting, menghargai kehadiran musik tradisi dengan menghadirkan kembali di tengah kebutuhan hidup kita saat ini.

Bagaimana peran lembaga pendidikan seni?

Lembaga pendidikan seni selama ini lebih sibuk mencetak seniman daripada mencetak penikmat. Lembaga pendidikan seni bukanlah pabrik, melainkan juga wadah berpikir untuk melahirkan temuan monumental. Selama ini kita jarang melihat temuan itu serta konklusi berkait dengan strategi menjaga musik tradisi. Jadi peran lembaga pendidikan seni kurang terlihat jelas. Posisi lembaga itu antara melestarikan dan mempertahankan, belum mengubah dan menggebrak secara relevan. Kritik ini penting, mengingat eksistensi musik tradisi makin memprihatinkan. Karena itu, harus ada “peta jalan” gagasan lembaga kesenian seni dalam membaca nasib hidup musik tradisi.(44)

 

Berita Lainnya


SMCETAK TERKINI