14 Januari 2018 | Serat

ESAI

Wong Gunung Merawat Tradisi Lisan

  • Oleh Heri Priyatmoko

Dalamlintasan sejarah kekuasaan Jawa, elite keraton yang mengklaim sebagai pemilik sejarah acap tak mereken dinamika sosial masyarakat gunung. Padahal, pada fase tertentu, teranyam hubungan bagus antara keduanya yang lebih egaliter dan saling membutuhkan.

Fakta itu terkandung dalam tradisi ratusan tahun di masyarakat. Dengan menengok realitas itu, Festival Bendera diselenggarakan di kaki Gunung Lawu (30-31/12/2017). Festival itu hendak mengais serpihan fakta yang dicampakkan sejarah resmi dan memperkaya narasi sejarah lokal lewat tuturan wong ndesa.

Gelaran menarik itu tak menyingkirkan aspek gugur gunung dan pelibatan warga, kendati seniman asing pun meramaikan. Bagi masyarakat akar rumput tersedia panggung untuk beraktualisasi, termasuk menafsirkan pertalian sejarah desa dan pusat kekuasaan (istana). Tuk Dira kental nilai patriotisme Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said kala melawan kompeni dan pembesar Kerajaan Mataram Islam dalam ontran-ontran kekuasaan.

Menurut warga, perbukitan itu semula bernama Puthuk (Punthuk) Gendera. Agar gampang mengingat, lidah mereka menyingkat Tuk Dira. Puthuk atau punthuk mengandung arti palemahan kang dhuwur, gundukan tanah tinggi, gendera adalah bendera. Penduduk yakin, Pangeran Sambernyawa yang berperang 16 tahun (1740-1757) tanpa putus menancapkan bendera di lereng gunung itu.

Selama perang yang diikuti laku ngelmu dan prihatin, lelaki yang digambarkan kompeni “bertubuh kecil, namun tegap, mata bersinarsinar seperti mengeluarkan api” itu memperoleh bendera di Gunung Mangadeg, tak jauh dari Punthuk Gendera. Setelah mewejang, para guru, Ki Adisana dan Adirasa, meminta RM Said bertapa di gunung. Mereka melarang pria “seperti alang-alang yang roboh kena tiupan topan, tetapi segera tegak lagi” itu berhenti semadi sebelum menerima wahyu atau sasmita sejati dari Yang Mahakuasa.

Bukan perkara mudah mendaki gunung menjulang tinggi dan berhutan lebat itu. Batang-batang pohon sedemikian besar, diselimuti semak berduri rapat. Di puncak Mangadeg, pangeran itu duduk, bertapa, maneges, tanpa makan, minum, atau tidur. Genap tujuh hari-tujuh malam, terdengar suara menggelegar disertai angin puting beliung. Pendiri praja Mangkunegaran itu membuka mata.

Tampaklah seorang kakek berdiri dan mendekat, mengangsurkan bendera Kiai Dhuda dan tambur Kiai Slamet. Wahyu turun lewat sarana bendera, seperti keris, tombak, atau kelapa yang lazim pada dinasti Mataram Islam. Sejarawan Sartono Kartodirdjo (1988) menginformasikan, kedua pusaka itu kelak tersimpan di Istana Mangkunegaran setelah Perjanjian Salatiga 1757. Perjanjian itu membagi kekuasaan Kasunanan dan Mangkunegaran demi meredam peperangan yang RM Said kobarkan.

Simbol Perjuangan

Selain dianggap pusaka, bendera itu dipahami sebagai simbol perjuangan pangeran penebar maut (sambernyawa) itu. Masyarakat pedesaan menyaksikan gerilya di kawasan pegunungan itu. Bahkan membantu memukul musuh. Di sinilah, Pahlawan Nasional (1988) itu memaknai ulang konsep kawulagusti yang egaliter. Pejuang tangguh itu ngobrol di sawah, bukan di pendapa mewah. Tanpa ragu dia nguwongke wong ndesa, meminta pendapat demi strategi “perang semesta” — pelibatan masyarakat sebagaimana diterapkan pula oleh AH Nasution saat mempertahankan kemerdekaan.

Festival Bendera menyegarkan ulang kenyataan historis itu, untuk melibatkan masyarakat memahami karakter lingkungan dan ekologi budaya di lokasi acara. Dalam tradisi lisan terekam kiprah warga yang tak boleh diremehkan. Berkat petunjuk masyarakat berkait medan gunung yang sulit dan bergabung jadi prajurit, perang meletus begitu dasyat dan barisan musuh kocar-kacir.

RM Said melancarkan taktik perang menggabungkan tiga konsep; jejemblungan (perang gila-gilaan sampai titik darah penghabisan), wewelutan (licin bak belut sehingga sulit ditangkap), dan dhedhemitan (datang tiba-tiba laksana hantu, sukar diprediksi). Kelincahan Pangeran Sambernyawa bersama warga bergerilya dan bergerak cepat membuat petinggi kompeni menyebut pasukan itu “seperti zat cair, yang apabila ditekan dapat menyisih dan masuk segala jenis lubang”.

Mengapa semangat dan nyali RM Said tak pernah surut, meski bertempur dua windu dan dikeroyok? Tafsir terbaru soal Tuk Dira menemukan kebenarannya. Tuk adalah sumber, dira keberanian. Wajar jika RM Said memilih Tuk Dira, kawasan pegunungan Karanganyar, sebagai pusat perjuangan dan dikebumikan di Gunung Mangadeg.

Dalam konteks kekinian, Festival Bendera bertujuan pula mencari sumber keberanian demi menyongsong hari depan yang lebih baik. Juga menyadarkan petinggi negeri supaya peduli terhadap ekologi gunung untuk menjaga keseimbangan alam agar Tuhan tidak murka, sehingga mengirim banjir, longsor, kekeringan. Nyata sudah, tradisi lisan yang dirawat masyarakat lokal tak melulu perkara klenik dan dongeng omong kosong. Namun menyimpan kearifan untuk modal menyongsong masa depan bangsa. (44)

-Heri Priyatmoko, dosen sejarah Universitas Sanata Dharma, narasumber pada Festival Bendera

Berita Lainnya


SMCETAK TERKINI