image

Rumah pemasungan - Makam Raja Sidabutar - Manortor atau menari

14 Januari 2018 | Jalan-jalan

Menjenguk Batak Toba di Huta Siallagan

  • Oleh Agung Mumpuni

Bila Anda mengunjungi Danau Toba, jangan lupa mengenal budaya dan cara hidup kelompok etnis Batak. Menyeberanglah ke Pulau Samosir, injakkan kaki di Huta Siallagan yang masih kental dengan budaya Batak.

Huta Siallagan berada di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, 150 meter dari pinggiran Danau Toba, Pulau Samosir bagian timur, berjarak 3 km dari Tuktuksiadong (pusat perhotelan) atau 5 kilometer dari Huta (Kampung Tomok), dermaga kapal. Jika melalui danau berjarak 12 kilometer dari Parapat. Dari Medan ke Parapat sekitar enam jam perjalanan. Bisa empat jam jika naik angkutan umum yang melaju.

Naik pesawat lebih singkat, cuma dua jam, turun di Bandara Silangit. Desa Ambarita kalah tenar dari Tomok yang jadi pusat wisata budaya dan belanja di Samosir. Penumpang yang turun di Dermaga Ambarita kebanyakan rombongan tur karena kapal biasa jarang membawa penumpang ke desa itu. Jika tak bersama rombongan, Anda bisa naik kapal, turun di Tomok, lalu menyewa sepeda motor atau sepeda ke Ambarita melalui jalur darat. Sekitar 50 menit, Anda sudah masuk ke Huta Siallagan.

Sampai di Ambarita, Anda akan melihat gerbang ber patung batu bernama Pangulubalang. Patung itu diyakini sebagai penjaga dan pengusir roh jahat yang hendak masuk ke huta. Dari pintu gerbang, Anda harus melewati pedagang suvenir ke jantung kampung. Sejauh 200 meter, Anda akan menjumpai lorong masuk yang hanya bisa dilewati dua orang bertuliskan “Huta Siallagan”.

Lihatlah, rumah-rumah bolon berjejer rapi. Huta Siallagan seluas 2.400 meter persegi memiliki pintu gerbang masuk dari baratdaya dan pintu keluar di timur. Huta itu dikelilingi tembok batu alam tersusun rapi setinggi hampir 2 meter. Pada masa lampau, di tembok itu terpacak bambu untuk menangkal gangguan binatang buas atau penjahat.

Dalam bahasa daerah, huta berarti pemukiman atau desa. Huta juga mengidentifikasi keluarga atau marga sebagai penghuni, yakni marga Siallagan. Pembangunan Huta Siallagan konon secara gotong royong atas prakarsa raja pertama, yakni Raja Laga Siallagan, dan diwariskan ke Raja Hendrik Siallagan, lalu Raja Ompu Batu Ginjang Siallagan.

Kisah Mistis Sigale-Gale

Saat memasuki Huta Siallagan, pengunjung akan disambut tetua adat dan diajak manortor (menari) bersama boneka Sigalegale. Perempuan dan laki-laki dipinjami ulos bermotif berbeda dan ikat kepala berbeda bentuk. Tiga-empat tarian dimainkan dipandu dua orang dan satu pemain musik. Suara khas gondang Batak terdengar hingga tarian berakhir dengan seruan, “Horas! Horas!” Di tengah dan akhir pertunjukan, pengunjung bisa menyawer Sigalegale.

Kehadiran Sigale-gale menarik perhatian karena ada latar cerita mistis. Versi pertama dan paling dipercaya adalah kisah seorang raja yang meninggal saat perang. Orang tuanya yang tidak ikhlas membuat sebuah boneka kayu, perwujudan sang anak, yang diberi nama sama, Manggale. Boneka itu menemani sang raja hingga akhir masa hidup. Saat raja mati, boneka itu menari di samping jenazahnya. Sigale-gale memiliki makna religius dan unsur klenik yang kental.

Tarian Sigale-gale biasanya dilakukan ketika ada seorang anak yang meninggal (terutama laki-laki) atau di keluarga yang berduka karena tidak memiliki anak laki-laki. Mereka percaya arwah orang mati bersemayam di Sigale-gale. Konon, Sigale-gale acap menari tanpa orang yang menggerakkan. Boneka itu pun kerap menitikkan air mata.

Sigale-gale adalah wujud atau simbol kasih sayang orang tua dan anak. Namun perjalanan waktu, jumlah dan aspek mistis Sigale-gale menyurut. Kini, Sigale-gale lebih merupakan pertunjukan bagi wisatawan. Tak lagi di samping jenazah, kini Sigale-gale bisa menari kapan pun sekitar satu jam. Matanya bergerakgerak, kepala bergeleng-geleng, sambil sesekali berjongkok atau membungkuk. Berfoto bersama pun tak masalah. Apalagi Sigale-gale seukuran tubuh manusia, meski agak pendek. Lagu pengiring tak lagi manual.

Kini, para dalang memakai alat pemutar rekaman lagu untuk mengiringi tarian. Sebuah boneka Sigale-gale menjadi koleksi Museum Nasional. Usai manortor, Anda bisa berkeliling Huta Siallagan. Anda bisa melihat delapan unit rumah adat tradisional (bolon) berdiri kukuh dan terpelihara. Rumah itu tiga lantai. Salah satu rumah Raja Sidabutar. Kini, rumah sang raja menjadi museum.

Atap rumah kayu berwarna merah dengan corak hitam itu berbentuk tanduk, serupa rumah gadang di Sumatera Barat. Bagian dasar untuk menyimpan ternak, lantai kedua ruang tidur yang disekat dengan ulos. Lantai teratas tempat menyimpan bahan pakan. Rumah itu adalah tanpa paku. Jumlah anak tangga menunjukkan status sosial penghuni. Jika anak tangga genap, penghuni orang biasa. Jika ganjil, penghuni raja. Di rumah tradisional itu ada ornamen cicak dan empat payudara.

Cicak melambangkan persahabatan; di mana pun cicak bisa hidup. Empat payudara melambangkan kesuburan. Artinya, masyarakat Batak yang merantau harus kembali ke tanah kelahiran. Sampai sekarang aturan itu masih berlaku bagi penduduk asli Samosir. Di Huta Siallagan, Anda juga bisa menyaksikan makam Raja Sidabutar, Raja Siallagan, dan keturunan mereka.

Juga ada batu kursi persidangan Raja Siallagan. Batu itu dari puncak Gunung Pusuk Buhit yang terukir khusus. Ada dua lokasi batu persidangan. Pertama, di bawah pohon besar; kursi penentuan bersalah atau tidak sang terdakwa. Kedua, tak jauh dari Pasar Siallagan, sebagai tempat eksekusi. Raja Siallagan memakai kalender Batak untuk mencari hari baik untuk bersidang bersama tetua adat. Para tetua adat akan mengusulkan jenis hukuman sesuai dengan derajat kesalahan.

Raja kemudian menetapkan hukuman, entah denda, pasung, atau pancung. Alkisah, tubuh terhukum yang dipancung akan dipotong-potong dan dibagikan untuk dimakan beramai-ramai. Ritual itu perlahan-lahan menghilang setelah pendeta asal Jerman, Dr Ingwer Ludwig Nommensen, menyebarkan agama Kristen pertengahan abad ke-19.

Raja Siallagan yang menganut Parmalim, agama asli Batak, kemudian memeluk Kristen. Hukum pancung dihapus, ilmu kebatinan makin ditinggalkan. Bila terjadi kejahatan, hukum adat dan hukum negara (pidana dan perdata) yang diterapkan.(44)

Berita Lainnya


SMCETAK TERKINI