14 Januari 2018 | Berita Utama

Hasil Impor Beras Dipertanyakan

JAKARTA- Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Arief Poyuono mempertanyakan kenapa Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ngotot impor beras. Menurut dia, itu aneh, surplus malah impor beras sebanyak 500.000 ton. Apalagi dilakukan saat stok tercukupi. ’’Katanya tidak mau ambil risiko kekurangan pasokan. Artinya jika selama ini harga beras tetap tinggi di pasar yang dibeli masyarakat bukan karena kurang pasokan,’’ ucap dia, kemarin.

Dia menduga itu karena ada mafia impor beras di sekitar kekuasaan pemerintahan yang menangguk untung besar dari impor beras tadi . Dia juga mempertanyakan alasan Menteri Perdagangan impor beras. ’’Apa iya masuk akal. Contoh saja 500 ribu ton dengan mengunakan harga beras di negara Asia Tenggara lain yang berada di lembah Mekong seperti Thailand yakni 0,33 dolar AS/kg, Myanmar 0,28 dolar AS/kg, Kamboja 0,42 dolar AS/kg.

’’Sementara harga rata-rata beras di Indonesia yakni 0,79 dolar AS atau Rp 10.499. Pada tahun lalu, sebagaimana dirilis FAO,’’ ungkap Ketua Umum Federasi Serikat Perkerja BUMN Mandiri ini. Artinya importir beras setelah dikurangi ongkos angkut ke Indonesia bisa untung sebesar Rp 3.000/kg itu sudah termasuk biaya pengiriman dan distribusi di dalam negeri,’’turur Arief.

Rp 1,5 Triliun

’’Nah jika dikalikan 500 ribu ton x 1.000 x 3.000, maka dihasilkan untung Rp 1.5 triliun,’’ ungkap dia. Anggota Komisi IVDPR RI Firman Subagyo juga menilai aneh, surplus malah impor beras sebanyak 500.000 ton. Apalagi dilakukan saat stok tercukupi, sehingga bisa menyengsarakan petani.

’’Ada apa di balik impor beras 500.000 ton yang dipaksakan menghadapi tahun politik ini,’’tanya Firman. Menurutnya, kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Perdagangan terkait impor beras sebanyak 500.000 ton itu terkesan dipaksakan, sehingga kebijakan tersebut patut dipertanyakan.

Firman juga menjelaskan, logika berpikirnya, bahwa Oktober 2017 adalah musim tanam dan Januari sudah panen raya yang puncaknya pada Febuari 2018. Sesuai informasi yang didapat dan didukung data yang bisa dipertanggungjawabkan, surplus beras sudah dapat dicapai dan dipertanggungjawabkan. Karena, menurut Firman, faktanya Januari 2018 stok beras masih ada di mana-mana. ’’Bahkan harga baik menjelang Lebaran dan Natal Tahun Baru juga dapat terkendali,’’ tutur anggata Fraksi Golkar.

Sangat Janggal

Oleh karena itu Firman sangat kecewa dan mengecam keras kebijakan Mendag Enggartiasto yang akan semakin membuat kecewa dan menyengsarakan petani. ’’Kami sebagai anggota Komisi IV selaku berkoordinasi dan monitoring baik di tingkat pasar dan petani,’’tegas Firman. Dia juga mengingatkan, 2018 adalah tahun politik, sehingga perlu waspada.

’’Sangat janggal karena impor beras harusnya merujuk pada UU Pangan bilamana produk nasional dan stok nasional tidak tercukupi, maka baru diperbolehkan impor. Itu pun harus dapat rekomendasi dari Kementerian Pertanian.’’

Kejangggalan berikutnya, menurut Firman, kebijakan diambil setelah melakukan rapat dengan para pelaku dagang tengkulak. ’’Padahal semua kita tahu mafia pangan selama ini adalah mereka-mereka juga,’’ tegas dia. Seharusnya yang benar Mendag perlu berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian lebih dulu bukan dengan pelaku dagang.

’’Ini sangat mencurigakan dan aneh ada apa,’’ tanya dia. Firman juga mengklarifikasi dan croscek ke Mentan apakah benar akan terjadi kekurangan stok ’’Dan pernyataan Kementan stok pangan nasional lebih dari cukup. Bahkan dijelaskan, pada Januari dan puncaknya Februari akan terjadi panen raya di wilayah tertentu.’’

’’Oleh karena itu kebijakan impor yang dilakukan Mendag akan semakin menyengsarakan petani dan tidak sejalan dengan nawacita Presiden Joko Widodo,’’ ucapnya. Firman juga menegaskan, Mendag akhir-akhir ini banyak membuat kebijakan yang anehaneh seperti mengeluarkan Kepmen Tata Niaga Impor Tembakau yang juga sudah dibatalkan. ’’Ini memalukan, menunjukkan tidak profesional,’’ucapnya.( di-15)

SMCETAK TERKINI