14 Januari 2018 | Berita Utama

Titiek Puspa Legenda Bintang Radio

SAATini publik mengenal berbagai kontes menyanyi yang diselengarakan sejumlah stasiun televisi swasta Tanah Air. Namun jauh sebelum itu, ada sebuah kontes menyanyi yang diselenggarakan radio.

Adalah Radio Republik Indonesia (RRI) yang menggelar kontes Bintang Radio untuk mencari bakat di bidang tarik suara. Kontes menyanyi itu digelar untuk memperingati Hari Radio 1951, tepatnya 31 Desember. Ada tiga kategori lomba, yakni keroncong, seriosa, dan hiburan. Kategori hiburan adalah sebutan yang lazim pada waktu itu untuk jenis musik pop.

Ada banyak biduan lahir dari kontes yang pada 1974 berubah menjadi Bintang Radio dan Televisi, setelah RRI bekerjasama dengan stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI). Dikenallah antara lain Sam Saimun, Bing Slamet, Suprapto Pranadjaja, Ping Astono, Sunarti Suwandi, dan tentu saja sang legenda Titiek Puspa. Berbeda dari pemilik nama tenar lain, Titiek Puspa bukanlah juara kontes Bintang Radio. Dia justru peserta yang kali pertama tereliminasi ketika mengikuti Bintang Radio pada 1954. "Itu momen yang tidak pernah hilang dari ingatan.

Menjadi pengalaman yang sangat memalukan sekaligus titik balik karier saya sebagai penyanyi tingkat nasional," ujar Titiek Puspa, yang berangkat dari Semarang. Dia mengenang keikutsertaan pada ajang Bintang Radio sebagai jembatan bagi para penyanyi menuju tangga keterkenalan. Di kediamannya di Jakarta Selatan, Titiek mengisahkan saat itu sedang menggemari Bing Slamet.

Sebelumnya dia hanya bisa mendengarkan suara merdu Bing Slamet melalui radio. Ketika tiba di Jakarta untuk mengikuti Bintang Radio, tak dinyana dia berjumpa dengan sang idola di Lapangan Ikada, sekarang Monumen Nasional. Melihat sang idola dari kejauhan, Titiek pun berlari menghampiri untuk meminta tanda tangan. Seolah tak percaya, gadis 17 tahun itu menggengam erat kertas bertanda tangan Bing Slamet hingga saat tidur malam menjelang kontes.

Saat kontes berlangsung dia memamerkan kertas bertanda tangan itu ke peserta lain, sampai tak mendengar namanya dipanggil untuk menyanyi. Setelah berkali-kali dipanggil tak mendengar, akhirnya seorang teman mendorong dia sampai ke depan mikrofon. "Aku didorong, terus temanku bilang, 'Kamu dipanggil.' Saya berdiri depan mikrofon, lalu masuk intro [lagu] dan saya cuma berkata, 'Ana apa tah iki?'

Blank," ucap Titiek sambil memperagakan reaksinya saat itu. Kesalahan fatal itu membuat dia menjadi peserta yang paling awal kalah, atau istilah sekarang tereliminasi. Namun dia terpilih mengisi di panggung final Bintang Radio. Dia membawakan lagu "Candra Buana". Dan, itulah titik balik bagi karier dia. Publik menyukai penampilan dia. Tepuk tangan menggemuruh menyambut dia. Sejak itulah dia menetapkan diri menjadi penyanyi.

Penyanyi Istana

Kembali ke Semarang, Titiek rekaman di Lokananta yang rajin datang ke berbagai stasiun RRI. Dia pun menarik perhatian Nien Lesmana, ibunda musikus Indra Lesmana. Nien mengajak dia rekaman di label miliknya, Irama Record.

Titiek pun pindah ke Jakarta dan menetap secara permanen mulai 1959. Dia menarik minat berbagai kalangan masyarakat, hingga Presiden Soekarno yang memerintah kala itu. Presiden pun memanggil dan meminta Titiek menyanyi. Itulah kali pertama Titiek menyanyi di Istana Negara. Karier Titiek pun menanjak.

Bukan hanya menyanyi, Titiek juga ditawari main film. Misbach Yusa Biran, mendiang suami aktris Nani Wijaya, sosok yang menerjunkan Titiek ke dunia film melalui Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1966). Kendati sudah membintangi 21 judul film, Titiek menyatakan lebih senang menyanyi. Titiek Puspa masih berkarya hingga saat ini berkat ajang Bintang Radio.

Namun bagaimana kabar ajang Bintang Radio? Ternyata setelah 66 tahun berlalu, ajang itu masih terus diselenggarakan. Tahun lalu, misalnya, Bintang Radio digelar RRI Pekanbaru. Tahun sebelumnya digelar RRI Kupang. Sayang, meski terus digelar, Bintang Radio saat ini nyaris tak terdengar. Para pemenang pun seperti menghilang ditelan waktu.(Tresnawati-44)

Berita Lainnya