image
04 Februari 2018 | Bincang-bincang

Gayeng Semarang

Aliran Sesat

  • Oleh Abu Su’ud

ASSALAMU’ALAIKUMWarahmatullahi Wabarakatuh.

Alkisah, Minggu, 21 Januari 2018, sebuah minibus berhenti di pengkolan jalan. Dari minibus itu segera berhamburan 10 penumpang laki-laki dan perempuan. Mereka membagi diri menjadi kelompok-kelompok kecil beranggota dua-tiga orang, lalu masuk ke permukiman, menuju sasaran masing-masing.

Mereka tak lain pemeluk Nasrani yang mendatangi umat untuk menjalankan penginjilan liar. Mereka bergerak door to door. Mereka tak pernah menyebutkan identitas dan hanya mengatakan bertujuan berbagi kebenaran dan senang bertemu siapa saja.

Inti tujuan mereka tak lain memperkenalkan kebenaran agama dengan cara bertukar pikiran dengan penduduk. Mereka menanyakan antara lain agama, kesehatan, dan bacaan kesukaan penduduk. Mereka juga menanyakan dulu mana kelahiran Alkitab atau Alquran. Lalu mereka menjelaskan Alkitab lebih dahulu dikenal di masyarakat ketimbang Alquran.

Akhirnya, mereka membagi pamflet atau lembar bacaan mengenai agama. Dari selebaran itulah orang menjadi tahu, mereka berasal dari Saksi Yehuwa, Jehova’s Witnesses. Tak pernah terjadi perdebatan intensif karena mereka segera pergi setelah menyerahkan selebaran yang dengan jelas mencantumkan alamat website www.JW.org.

Di Google bisa kita baca tentang mereka, yang merupakan denominasi Kristen atau milenarian atau restorasionis yang dahulu bernama Siswa-Siswa Alkitab pada 1931. Agama itu diorganisasikan secara internasional. Di Barat lebih dikenal sebagai Jehovah’s Witnesses atau Jehovas Zeugen. Mereka berupaya mewujudkan pemulihan dari gerakan kekristenan abad pertama yang dilakukan para pengikut Yesus Kristus.

Saksi Yehuwa bukanlah sekte. Mereka tak pernah memisahkan diri dari gereja atau kelompok besar mana pun. Wewenang tertinggi kehidupan mereka berdasar hukum dan prinsip dalam kitab suci atau Alkitab. Mereka menolak doktrin Tritunggal karena tak berdasar firman Allah dalam Alkitab (saya kutip dari Wikipedia).

***

WALAH, walah, Jagad Dewa Bathara. Ketika masih belajar di SMA2-Apada 1950- an, saya kedatangan seseorang yang mengaku dari Saksi Yehuwa. Saya temui dia di tempat kos. Tentu itu hari Minggu karena saya ada di rumah kos, tak berangkat sekolah. Saya bertanya, “Kenapa Anda tidak pergi ke gereja?”

Katanya, sebagai penganut Yesus Kristus, mereka tidak melakukan kebaktian di gereja tertentu. Sebab, Yesus tak mengenal Gereja. “Tugas kami hanyalah menginjilkan masyarakat pada hari Minggu.”

Ketika saya bertanya tentang mereka pada beberapa teman yang beragama Katolik serta Kristen Protestan seperti Baptis, Pantekosta, Injil Sipenuh, kawan saya mengatakan Saksi Yehuwa merupakan aliran sesat. Kata mereka, bandingkan ajaran atau aliran Ahmadiyah dalam Islam yang juga dikenal sebagai aliran sesat, meski mereka mengaku memiliki surat keputusan dari menteri.

Memang benar, pada 2008 Pemerintah Indonesia telah menentukan Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Karena itu, para penganut ajaran Ahmadiyah harus kembali mengikuti ajaran Islam yang baku. Beberapa tahun lalu, di Indonesia pernah geger oleh kemunculan aliran agama Islam Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Mereka mempunyai markas di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, dan membentuk sebuah komunitas agraris. Pengikut Gafatar berasal dari kelompok kajian di berbagai daerah yang lebih menonjolkan kerja sosial, seperti donor darah dan kerja bakti.

Setelah menjual semua harta kekayaan di daerah asal masingmasing, mereka bergabung di Mempawah, menyatu dalam komunitas agraris. Entah bagaimana, Pemerintah Indonesia bisa mengendus latar belakang sesungguhnya komunitas Gafatar.

Secara akidah, para anggota komunitas itu telah melepaskan diri dari ajaran agama asal masing-masing dan memeluk keyakinan baru berdasar berbagai kitab suci, seperti Taurat, Injil dan Alquran. Pemerintah juga mengendus ada konspirasi separatisme, yaitu keluar dari NKRI dan membentuk kelompok politik tersendiri. Konon, akar gerakan atau ajaran itu adalah DI/TII. Itulah gerakan pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.

Dengan cepat Pemerintah Indonesia membubarkan komunitas separatis itu dan mengembalikan semua warga ke daerah asal masing-masing. Di daerah masing-masing segera dilakukan proses deradikalisasi karena mereka dinyatakan sebagai gerakan sesat dan menyesatkan.

Aneh juga manusia ini. Konon, menurut peribahasa lama malu bertanya sesat di jalan. Namun kali ini mereka menjadi sesat di jalan bukan karena malu bertanya, melainkan tidak mau diberi tahu.

Ya, begitulah. Kisah kali ini mengenai orang-orang yang mengikuti aliran sesat. Sebagai pesan terakhir, menyambut fenomena alam gerhana bulan saat Supermoon dengan shalat gerhana berjamaah, semoga kita tidak tersesat di jalan karena rembulan tetap bersinar. Itu sekadar fenomena alam yang tidak berkaitan dengan nasib umat manusia atau bangsa karena alasan politik apa pun.

Sudah ya. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.(44)

Berita Lainnya