image
04 Februari 2018 | Bincang-bincang

Gus Mus: Makna Kekitaan Makin Dilupakan

KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin barubaru ini, menerima Penghargaan Yap Thiam Hien. Apa pendapat dia soal hak asasi manusia? Apa pula tanggapan alumnus Universitas Al Azhar Cairo, Mesir, itu di tengah hiruk-pikuk pemilihan kepala daerah yang rentan gesekan? Berikut perbincangan wartawan Suara Merdeka Aris Mulyawan dengan Gus Mus.

Bagaimana Anda memaknai Penghargaan Yap Thiam Hien?

Saya hanya melakukan apa yang saya pelajari dari kiai-kiai desa, kiai kampung. Saat pemberian penghargaan itu saya berpidato. Saya HAM saja tidak tahu. Katanya, itu ide orang Barat pada abad XVI atau XVII, saya tidak mengerti. Wong nasionalisme saja saya tidak tahu. Saya ini orang old. Cuma, kiai saya di desa memberi tahu Indonesia ini rumahmu, tolong jaga, rawat. Jadi tidak ada kaitan dengan ismeisme dari Barat. Tidak ada.

Apa yang diajarkan para kiai sepuh tentang HAM?

Di pesantren, tempat saya belajar dengan kiai-kiai old , hak di belakang kewajiban. Kiai-kiai saya mengajarkan tentang hak orang lain dengan menegaskan kita wajib menghargai hak orang lain. Dalam Alquran Surah Al- Israa Ayat 70, Allah berfirman, Tuhan sendiri memuliakan, menghormati manusia. Kalau ada orang tidak terhormat karena dia tidak mau menghormati diri sendiri.

Karena itu, saat ada orang Jakarta mau bikin acara mengkritik George Bush, saya membuat puisi yang dinyanyikan Iwan Fals berjudul ‘’Aku Menyayangimu’’.Aku menyayangimu karena kau manusia/Tapi kalau kau sewenang wenang kepada manusia/ Aku akan menentangmu/Karena aku manusia....Lalu, kenapa Tuhan mengutus Kanjeng Nabi Muhammad? Karena, Kanjeng Nabi paling manusia, mengerti manusia, dan memanusiakan manusia. Kanjeng Nabi tidak menunjukkan beliau itu lebih tinggi dari yang lain. Kanjeng Nabi menganggap orang sama-sama dihormati Allah. Jadi tidak sama seperti pemimpin lain. Kanjeng Nabi m e - nerima siapa pun, apakah itu rakyat jelata atau pejabat.†Beliau manusia yang mengerti manusia. Sekarang ini banyak pemimpin kelihatannya manusia tetapi tak mengerti manusia. Menyangka manusia itu yang seperti dia, yang tidak seperti dia tidak manusia.

Bagaimana menjaga rumah bersama ini. Saat ini kan rumah ini sedang krodit?

Ini tanggung jawab kita. Tidak semua anggota rumah ini baik. Kita harus menjaga bersama- sama karena ini rumah bersama. Bukan rumah saya sendiri, bukan rumah Anda sendiri, melainkan rumah kita, kita. Kita tak bisa bicara dalam satu rumah dengan mengatakan mereka, tak bisa. Kita ini keliru jika dalam satu rumah mengatakan mereka, dia. Kita, harus kita.

Bagaimana dengan aturan, karena ada yang membuat aturan sesuai dengan keinginannya?

Aturannya pun aturan kita. Ini rumah kita. Sejak dulu begini ini. Nggakusah neka-neka. Ada yang mentang-mentang sudah sekolah ke luar negeri, setelah pulang membuat aturan sendiri. Sejak dulu ya baik-baik saja. Maka ketika Sekutu datang ke Indonesia, kiai omong: lawan! Ini mau membakar rumah kita. Kita bisa keras. Fatwa jihad itu wajib per orang karena rumah kita diganggu.

Bagaimana dengan kondisi sekarang ini, saat ancaman dari luar tidak terlihat?

Jangan terlalu individual di rumah ini. Kita sekarang di rumah, tetapi krisis kumpul-kumpul. Minimal di rumah itu kalau makan bersama-sama. Jadi bisa duduk bersama. Satu rumah kok tidak duduk bersama.

Kalau ancaman itu dari luar gampang, kita bisa maju bersama. Kalau dari dalam bagaimana?

Rumah kita ini sedang gawat, karena krisis kumpul-kumpul. Kita sudah terlalu lama tidak menggunakan kata ‘’kita’’, selalu mereka, mereka, dia.

Bagaimana solusinya?

Duduk bersama. Satu keluarga penghuni rumah kumpul, duduk bersama, kumpul. Selain itu harus menyadari ini rumah kita. Jadi kalau mau berusaha di rumah ini untuk kepentingan bersama, jangan untuk kepentingan diri sendiri.

Jawa Tengah akan menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada). Apa saran Anda?

Tanyalah mereka yang sekarang berpolitik itu. Apa kepentinganmu berpolitik? Untuk berkuasa? Untuk apa kekuasaan itu? Nanti akan menjawab untuk kepentingan rumah kita. Semestinya begitu. Namun kalau tidak punya jawaban, ngapainnempelnempel gambar di jalan? Kan supaya dipilih. Kalau sudah dipilih, mau apa? Kan untuk kepentingan rumah.

Pertama, para politikus itu harus ingat berniat maju untuk apa? Harus memberitahukan niat mereka, sehingga rakyat tak perlu ribut-ribut, tak perlu sepaneng. Kalau setiap pihak menyadari dan melakukan sesuai dengan kesadaran bahwa mereka dipilih untuk Indonesia, tidak masalah. Pemilih enak saja, tinggal memilih pandai mana dan lari kencang mana, karena semua untuk Indonesia.

Bagaimana dengan posisi NU yang sekarang jadi rebutan?

Bukan sekarang saja NU jadi rebutan. Sejak dulu NU jadi rebutan karena bermassa banyak. Terbukti, calon di Jawa Timur dan Jawa Tengah dari NU semua, ya nggak papa. Menurut LSI saja jumlahnya 60 juta orang. Jumlah yang menggiurkan itu. Sebab, tujuan pilkada atau pilpres untuk mengumpulkan suara terbanyak.

NU seperti dijadikan satpam Indonesia terus-menurus?

Bagaimana ini?Saat dengan Gus Dur dulu, saya bilang NU itu kok kayak satpam saja Gus. Kalau geger-geger, nggak normal, krisis, kita disuruh maju. Kalau normal, kepenak, mojok, merokok. Kalau geger lagi, disuruh muncul lagi, maju lagi.

Saat itu saya bermaksud mengajak diskusi Gus Dur. Dia menjawab, “Lo, Gus, apa kurang mulia jadi satpam Indonesia?” Ya, sudah, kalau sudah nrima jadi satpam, ya sudah, tidak usah gela.

Bagaimana sikap politik para kiai?

Sejak dulu kalau disebut berpolitik, politik kiai itu kebangsaan dan kerakyatan. Kebangsaan ya menjaga rumah karena mereka mendirikan NKRI. Melok dandandandan gawe omah, maka mereka punya kewajiban menjaga.

Kita sudah berkali-kali mengangkat Soekarno sebagai waliyul ‘amri dharuriy bi al-syawkah. Itu politik kebangsaan. Menerima asas Pancasila, itu politik kebangsaan.

Kedua, politik kerakyatan sekarang banyak dilupakan, yaitu membela rakyat kecil agar mencapai keadilan sosial bagi rakyat Indonesia. Itu politik NU.

Jika ada pengusaha melawan rakyat, ya kami membela rakyat, apa pun karena dia yang lemah. Apalagi kalau pengusaha join dengan penguasa melawan rakyat. Ini rakyat yang terlemah.

Di Jawa Tengah, dua kandidat melibatkan NU. Bagaimana jika NU kultural dan struktural bergesekan?

Itu orang salah paham saja. Jadi kalau mendikotomikan seperti itu karena tidak mengerti sejarah NU. Orang NU punya pilihan sendiri, tidak bisa dipaksa. Salah satunya pilihan politik. Namun dalam beberapa hal mereka bersatu tanpa disuruh, seperti saat selawatan dan tahlilan.

Selain itu, di NU ada garis-garis perjuangan Nahdlatul Ulama. Banyak anggota NU yang membaca. Jadi mereka bisa menilai, ini tokoh yang konsisten terhadap khitah atau tidak. Kalau tidak ya dileleti injet.

Mereka itu macam-macam. Macam-macamnya NU itu sejak dulu. Harus diingat, yang bernama kultural itu lebih banyak daripada yang stuktural. Apa artinya? Jamaah NU itu lebih banyak dari jamiah NU. Jamaah NU meliputi pesantren-pesantren yang tidak masuk secara struktur ke NU.

Kalau dalam data lembaga survei jumlahnya 60 juta orang. Itu hanya yang tercatat di struktural. Sebenarnya jamaah lebih banyak dari itu. Sekali lagi, NU itu banyak. Orang itu keliru memotret pesantren karena menyangka pesantren itu satu, tunggal. Jenis pesantren itu sebanyak jumlah kiai. (44)

Berita Lainnya