04 Februari 2018 | Jalan-jalan

Kampong Glam yang Memesona

  • Oleh Agung Mumpuni

Singapura negara yang dekat dengan Indonesia, memang menarik perhatian. Meski negara kecil, Singapura berupaya memaksimalkan dan memoles potensi wisata agar menarik wisatawan. Salah satunya kawasan Kampong Glam dan Arab Street yang memiliki nilai sejarah dan menjadi pusat masyarakat muslim Singapura yang sekarang menjadi destinasi favorit wisatawan.

Untuk mencapai tempat itu, Anda bisa naik MRTmenuju Stasiun Bugis. Tak jauh dari Stasiun Bugis, Anda bisa menjumpai beberapa tempat perbelanjaan seperti Bugis Junction, pasar di Bugis Street, dan tentu saja Kampong Glam.

Saat berjalan-jalan di kawasan itu, Anda akan menyaksikan perkampungan dengan rumah tradisional di tengah kemegahan gedung pencakar langit. Rumah toko (ruko) bercat meriah berderet di sepanjang Jalan Bussorah, Baghdad, dan Kahandar. Sebagian besar ruko itu merupakan perusahaan desain dan IT, restoran, galeri seni, dan toko kerajinan tangan.

Sementara itu, rumahrumah kuno di pinggir jalan dipoles menjadi kedai di lantai bawah dan lantai atas sebagai tempat tinggal. Kampong merupakan bahasa Melayu. Dalam bahasa Indonesia berarti kampung, daerah pedesaan. Dulu, area itu dikenal dengan pohon gelam (atau pohon paperbark). Itulah pohon yang digunakan untuk membuat kapal.

Kampong Glam dulu desa nelayan di tepi Rochor River. Pada 1822, Stamford Raffles menghibahkan daerah itu kepada sultan berbangsa Melayu, Sultan Hussain Mohammed Shah. Adapun kawasan lain untuk komunitas muslim, termasuk pedagang Arab dan Bugis. Kampong Glam saat itu menjadi pusat Kesultanan Melayu di Singapura. Saat ini, tanah ”istana” menjadi rumah bagi pusat warisan sejarah dan budaya Melayu.

Di kawasan itu, Anda akan menjumpai banyak bangunan berarsitektur unik, hidangan khas Melayu seperti nasi padang dan kuih (kue) sampai makanan Timur Tengah, Jepang, Swedia, Meksiko. Para penggila belanja dapat menuju ke Haji Lane yang penuh warna dengan barisan toko multilabel, butik unik, bar modern, dan kafe. Atau, pilihlah barang tradisional seperti karpet Persia, kebaya, dan parfum buatan tangan di Arab Street dan Bussorah Street. Sejak dulu hingga kini Kampong Glam menjual alat ibadah umat muslim seperti peci serta Alquran, sajadah, dan aneka tekstil.

Juga batik asal Indonesia dan Malaysia. Demi citra dan kepentingan pariwisata, sejak 1980, Kampong Glam dideklarasikan sebagai national heritage dan dilindungi, termasuk Masjid Sultan dan Malay Heritage Centre.

Pecahan Botol di Masjid

Di Kampong Glam juga ada situs sejarah umat Islam, Masjid Sultan. Masjid di North Bridge Road itu memiliki kubah warna emas dan tempat shalat sangat luas. Tempat ibadah itu dibangun pada 1824 untuk Sultan Hussein Shah, sultan pertama di Singapura. Dahulu Sultan Hussain Shah dari Johor, yang merupakan pemilik Pulau Singapura. Dia membangun sebuah istana di kawasan itu, kemudian membawa semua keluarga dan pengikut dari Kepulauan Riau. Banyak pengikut sultan dan tumenggung berasal dari Riau, Malaka, dan Sumatera.

Mereka akhirnya menetap di Kampong Glam. Kemudian datanglah Stamford Raffles, pendiri Singapura. Stamford memberikan sumbangan 3.000 dolar Singapura untuk konstruksi gedung satu lantai dengan atap dua lapis. Tempat ibadah itu memiliki aturan yang harus dipatuhi seluruh pengunjung. Mereka wajib berjubah atau sejenis gamis bagi pengunjung yang tak mengenakan busana tertutup.

Pakaian itu dapat dipinjam gratis oleh pengunjung yang ingin berwisata religi masuk ke dalam masjid. Seratus tahun kemudian, masjid tua itu memerlukan perbaikan. Masjid yang terlihat saat ini didesain Denis Santry dari Swan and Maclaren, firma arsitektur tertua di Singapura, dan dibangun kembali pada 1932. Sedikit sekali yang mengetahui pada masa rekonstruksi, North Bridge Road dipaksa dibelokkan mengitari masjid dan diperpanjang sampai Arab Street.

Jika Anda berada di sana, lihatlah lebih dekat kubah berbentuk bawang. Setiap dasar kubah didekorasi dengan ujung botol kaca yang disumbangkan umat muslim yang kurang mampu selama masa pembangunan. Jadi tidak hanya umat yang kaya yang dapat berkontribusi. Dikukuhkan sebagai monumen nasional pada 1975, Masjid Sultan merupakan titik utama masyarakat muslim sampai kini.

Jika Anda berada di sana selama Ramadan, pergilah ke pasar malam dan temukan banyak gerai makanan. Ikuti tur masjid berpemandu informatif, pemandu berbahasa Inggris, Melayu, Tionghoa, dan bahkan. Di halaman depan masjid, kita dapat menemukan toko-toko berarsitektur China.

Kedai itu menjual jenis pakaian dan suvenir. Selain Masjid Sultan, di Kampong Glam Anda bisa menemukan bekas istana yang dijadikan museum, Malay Heritage Centre. Istana itu dibangun 160 tahun lalu oleh Sultan Ali, putra Sultan Hussein Shah. Istana Kampong Glam dulu pusat Kesultanan Melayu di Singapura. Istana Kampong Glam pertama awalnya berstruktur kayu dibangun di atas panggung. Tingkat atas dikenal sebagai ”panggung” atau ruang tamu utama dan ruang tidur rumah itu.

Di tingkat dasar, kolong digunakan sebagai area penyimpanan, pekerjaan atau pelayanan, bahkan area bermain anak-anak. Setelah direstorasi, istana seluas 8.000 meter persegi itu menjadi museum untuk memperlihatkan kejayaan masa lampau. Tempat bersejarah itu masih mempertahankan penataan asli bangunan. Malay Heritage Centre memamerkan warisan dan budaya Melayu di Singapura, dengan artefak sejarah, pameran multimedia interaktif dan penuh warna dari koleksi nasional Singapura serta kontribusi masyarakat.

Anda bisa mempelajari sejarah Kampong Glam sebagai kota pelabuhan yang berkembang sebelum kedatangan Stamford Raffles pada 1819. Atau, cari tahu tentang budaya Melayu lain, seperti pelaut Bugis. Banyak di antara mereka adalah pedagang dari berbagai kepulauan di Indonesia. Malay Heritage Centre juga menyelenggarakan program budaya Melayu dan lokakarya.

Kegiatan itu bermanfaat untuk menambah pengetahuan pengunjung, terutama mengenai ilmu budaya Melayu. Hasil program itu untuk biaya operasional kegiatan guna meningkatkan Malay Heritage Center menjadi museum bertaraf internasional. Dengan harapan, museum itu kelak dapat bekerjasama dengan museum daerah lain di Indonesia dan Malaysia.(44)

Berita Lainnya