image

\SM/Ryan Rachman - KERJA BAKTI : Warga Desa Sirau, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga dan pihak terkait bekerja bakti menyingkirkan material longsor yang menutup jalan yang terjadi pada akhir pekan lalu. (23)

10 Februari 2018 | Spektrum

Selalu Melek saat Hujan Turun

PURBALINGGAmerupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang paling rawan bencana longsor. Setidaknya, selama 2017 , dalam catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga terjadi 40 kejadian.

Sedikitnya ada tujuh kecamatan yang menjadi wilayah rawan longsor yaitu Karangjambu, Karangmoncol, Karanganyar, Karangreja, Bobotsari, Kertanegara dan Rembang. Di Desa Sirau, Kecamatan Karangmoncol misalnya.

Desa yang berada di baris pegunungan Siregol ini, masyarakatnya sangat akrab dengan bencana longsor. Selama beberapa bulan terakhir, hampir tiap pekan ada saja longsor dan tanah retak. Terakhir terjadi pada akhir pekan lalu yang menutup jalur utama Desa Sirau- Kramat.

"Di ruas Jalan Sirau-Kramat bahkan sudah enam kali terjadi longsor. Namun berkat kesigapan warga dan masyarakat tanggap bencana (mastana), jalan bisa dilewati kembali dalam waktu sehari," kata Kades Sirau, Hendri Sutrisno, Rabu (7/2).

Tim Geologi Bandung yang datang dua pekan lalu menyimpulkan kontur tanahnya miring sehingga mudah sekali longsor ketika dihantam hujan dengan intensitas yang cukup lama. Apa lagi musim hujan kali ini terjadi hampir sepanjang tahun, sehingga membuat masyarakat ekstra waspada.

Akibat longsor tahun lalu, sedikitnya 18 keluarga yang berada di Dusun 5 dan 4 di desa tersebut harus segera direlokasi ke tempat yang lebih aman. Bagaimana tidak, jika hujan turun pada malam hari, maka dipastikan mereka tidak akan tidur hingga hujan reda. Sebab, sewaktu-waktu rumah mereka bisa hilang atau rusak terbawa atau tertimbun longsor.

"Kami membentuk masyarakat tanggap bencana (Mastana) yang selalu piket bergilir untuk melek jika hujan tiba. Di balai desa ada posko siaga bencana 24 jam. Kami sinergi dengan instansi terkait seperti polsek, koramil, kecamatan dan BPBD," katanya.

Dia berharap, ada alat berat yang selalu siaga di wilayah desa itu sehingga setiap kali ada longsor bisa langsung ditangani tanpa harus menunggu didatangkan dari kota yang memakan waktu cukup lama. Dia juga berharap agar Pemkab segera menepati janjinya untuk merelokasi warganya yang terancam longsor. Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu juga merupakan salah satu daerah rawan longsor.

Pada 2016, 43 keluarga harus direlokasi akibat bencana ini. Kades Jingkang, Bambang Hermanto mengatakan, kejadian longsor terakhir pada akhir tahun lalu tapi tidak di permukiman, hanya di jalan perbatasan dengan Desa Danasari.

"Kami berharap semua warga untuk saling menjaga alam sekitar, selalu waspada dan tentu diiringi dengan doa agar bencana longsor tidak terjadi di desa kami," katanya.

Di Desa/Kecamatan Karanganyar, kejadian longsor terjadi baru-baru ini. Sebelumnya daerah itu tidak masuk dalam wilayah rawan longsor karena dekat dengan pegunungan. Kalau toh ada hanya jalan yang amblas. "Baru setahun belakangan desa kami terjadi beberapa kali longsor.

Mungkin karena intensitas hujan yang sangat tinggi. Tahun ini ada satu rumah warga yang direlokasi oleh Pemkab, tahun lalu satu lagi," kata Kades Karanganyar, Tofik. Karena belum terbiasa mengalami, warganya seperti gagap terhadap bencana.

Untungnya Pemkab melakukan pelatihan siaga bencana bagi para pemuda di desa itu. Kalau untuk mengantisipasi terjadinya longsor, saat ini baru sebatas memberi imbauan kepada warga untuk meningkatkan kewaspadaan baik di acara formal maupun nonformal serta lewat siaran radio komunitas.

"Kalau sudah terjadi longsor, warga langsung bergerak untuk kerigan. Harapannya warga tetap waspada dan menjaga lingkungan terutama kebersihan. Sebab longsor itu kan terjadi karena aliran air yang deras tidak bisa pergi akibat saluran mampet oleh sampah.

Untuk Pemkab, kami minta ada identifikasi daerah mana saja di desa kami yang rawan longsor, penyebabnya apa dan masyarakat diberi pemahaman tentang itu semua," terangnya. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Satya Giri Podo mengatakan, selama 2017 terjadi 40 kejadian.

Pihaknya terus berupaya mengingatkan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana untuk selalu waspada mengingat saat ini hujan turun setiap hari. Paling tidak dengan kewaspadaan tinggi, jika terjadi bencana longsor sewaktu-waktu, minimal tidak terjadi korban jiwa baik yang terluka atau meninggal.

Beberapa program penanggulangan bencana yang dilakukan yaitu melakukan pelatihan penilaian kerusakan dan kerugian akibat bencana dan fasilitasi penanganan darurat atau pemulihan awal akibat bencana serta fasilitasi rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. "Kegiatan pelatihan dan sosialisasi budaya sadar bencana tak hentihentinya kami lakukan.

Hal itu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bencana yang selalu mengancam. Sehingga mereka siap dan tahu apa yang harus dilakukan jika bencana itu terjadi sewaktu-waktu," terangnya.

Di sisi lain, pihaknya juga menyiapkan stok logistik yang akan disalurkan kepada keluarga terdampak bencana. Terkait program rehabilitasi rehabilitasi infrastruktur, BPBD selalu melakukan pengadaan stok bronjong kawat untuk penanganan darurat bencana serta mobilisasi jembatan knockdown darurat bencana.(23)

Penulis: Ryan Rachman dan Zakki Amali
Penyunting: Dwi Ani Retnowulan

Berita Lainnya