image
11 Februari 2018 | Sehat

Risiko Infeksi Menular Seksual pada LGBT

Secara umum, melakukan hubungan seksual yang tidak aman atau lebih dari satu pasangan, memiliki risiko tinggi, termasuk pada pasangan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT).

Beberapa perilaku memudahkan seseorang tertular Inveksi Menular Seksual (IMS) hingga HIV/AIDS. Dr Lewie Suryaatmadja SpKK(K) memaparkan, perilaku seksual seperti melakukan french kissing, orovaginal, felasio, dan hubungan seks dengan kondom, memiliki risiko rendah tertular penyakit.

Adapun yang berisiko tinggi antara lain melakukan hubungan seks vaginal (genito-genital) atau ano-genital tanpa kondom, fisting, rimming dan praktik sadomasokistik.

Bakteri, virus, parasit, dan jamur tentu saja bisa ditularkan melalui hubungan seksual, baik yang dilakukan sekali maupun berulang, dan ditularkan melalui oral-anal pada homoseksual, yang berisiko besar terhadap gay bowel syndrome. Yakni penyakit gonore akibat melakukan seks melalui dubur.

Promiskuitas; perilaku perkawinan dengan tidak membatasi pada satu jodoh saja atau melakukan hubungan seksual antara sejumlah pria dan wanita tanpa ada aturan yang mengikat, Men Who Have Sex With Men (MSM) dan Women Who Have Sex With Women(WSW), merupakan perilaku seksual yang berkaitan dengan risiko IMS. Baik MSM, WSWmaupun biseksual dengan beragam jenis hubungan pasangan seksual secara homoseksual dan heteroseksual, memiliki risiko sama.

Baik yang memiliki pasangan utama dan memiliki pasangan lain (bisa lebih dari satu orang), yang memiliki pasangan seksual regular di luar pasangan seksual utamanya, yang memiliki partner seksual sesekali, sekali waktu dengan orang yang tidak dikenal, atau melakukan hubungan seksual demi uang atau gratifikasi lainnya.

Lewie menjelaskan, IMS yang sering dijumpai pada MSM dan biseksual adalah sifilis, gonore, infeksi klamidia, urethritis non gonore, limfogranuloma venerum, infeksi HSV(Herper simplex virus) tipe 2, infeksi HPV(Human papilloma virus), gay bowel syndromeserta infeksi HIV/AIDS.

Adapun faktor risiko terhadap wanita (WSW) antara lain lesi oral pada pasangan yang aktif (herpes, sifilis, dan gonore), tertular sekret servikovaginal (cairan yang dihasilkan organ kewanitaan) yang terinfeksi, tertular sekret anorektal (cairan yang dihasilkan dubur) yang terinfeksi, hepatitis A, B, C, kuman patogen enterik, HPV, iritasi vulva, infeksi dari penggunaan alat bantu seks tanpa dibersihkan, dan HIV/AIDS.

Gunakan Kondom

Jadi secara umum, IMS yang sering dijumpai pada WSWadalah infeksi HPVgenital, herpes genitalis, virus hepatitis A, B, C, sifilis dan vaginitis, termasuk vaginosis bakterial. “Penularan HIVpada kontak seksual WSWitu melalui sekret servikovaginal, terutama kalau ada keterlibatan darah menstruasi.

Kemudian aktivitas seksual penetrasi pada vagina atau anal yang terlalu berlebihan, bisa menimbulkan luka pada mukosa, bahkan perdarahan,” papar Lewie yang belum lama ini menjadi salah satu pembicara, dalam seminar Perdoski (Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia) yang bertema “LGBTTerhadap Peningkatan IMS (HIV/AIDS)”.

Untuk mencegah penularan IMS dan HIV, yakni dengan menggunakan kondom, baik untuk pria maupun wanita. Kondom yang 97?rbahan lateks bagi pria, dapat mencegah penularan IMS; HIV, gonore, klamidia, trikomoniasis dan hepatitis B.

Apabila tidak selalu menggunakan kondom pada tiap hubungan seksual atau sepanjang hubungan seksual, terjadi kerusakan dan penggunaan lubrikan yang tidak sesuai, dapat menurunkan efektivitas kondom.

Sementara untuk wanita, kondom yang digunakan berbahan polyurethane halus yang loose-fitting dengan dua cincin polyurethane.

Kondom pada wanita berguna sebagai barrier atau perlindungan antara vagina dan introitus, terhadap HIV, cytomegalovirus, serta berbagai virus lainnya. Penelitian menyebutkan kalau kerentanan rusaknya kondom wanita dibandingkan dengan kondom pria lebih rendah, dengan persentase 0,1%:3,1%.

“Barrier servikal sangat penting karena serviks merupakan target utama dari gonore, klamidia dan HIV. Karena mengandung banyak reseptor kemokin spesifik yang diketahui sebagai koreseptor HIV,” kata Lewie.(Irma Mutiara Manggia-58)

Berita Lainnya