image

SM/ Yusuf Gunawan : GREBEG SUDIRO : Iring-iringan peserta kirab Grebeg Sudiro melintas di Jalan Jendral Sudirman, baru-baru ini. (66)

15 Februari 2018 | Berita Utama

Sudiroprajan, Cermin Akulturasi Tionghoa-Jawa

Tak Ada Lagi Perbedaan Etnis

Perpaduan budaya antara satu dan lain sehingga menciptakan budaya baru atau akulturasi merupakan gambaran yang melekat di daerah seputar Pasar Gede, Solo. Pembauran budaya Tionghoa dan budaya lokal dalam kehidupan masyarakat di kawasan tersebut terus berkembang hingga kini.

TAKlama setelah Kerajaan Mataram pindah dari Kartasura ke Surakarta (Solo), masyarakat Tionghoa kemudian tinggal di kawasan seputar Pasar Gede yang kini lebih banyak masuk ke wilayah administratif Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres.

Kampung Balong di kelurahan tersebut merupakan daerah yang paling banyak dan kali pertama dihuni kelompok etnis Tionghoa di Solo. RW 5, RW 6, RW 7, dan RW 9 merupakan wilayah yang banyak dihuni masyarakat hasil pembaruan itu. Tapi ada juga di beberapa kampung lain seperti Samakan, Mijen, dan Kepanjen, pada kelurahan yang sama.

Data kependudukan setempat per Oktober 2017 menyebutkan, 3.599 penduduk yang menghuni Kelurahan Sudiroprajan, sebagian di antaranya merupakan campuran warga keturunan Tionghoa dan Jawa. Keberagaman masyarakat tersebut menciptakan kelompok etnis baru yaitu Jawa-Tionghoa. ”Dulu perkawinan antaretnis Tionghoa dan Jawa sangat jarang ditemukan. Pernikahan dilakukan hanya sesama etnis. Namun lambat laun, hal tersebut berubah. Etnis Jawa dan Tionghoa akhirnya bisa membangun bahtera rumah tangga dan mempunyai keturunan,” kata Lurah Sudiroprajan Dalima, Rabu (14/2).

Dia mengungkapkan, warganya di beberapa kampung tersebut bahkan sudah menolak jika disebut dari etnis Jawa maupun Tionghoa. ”Mereka ingin disebut warga Indonesia saja. Tak ingin dibeda-bedakan dalam batasan etnis,” ungkapnya. Tokoh masyarakat Tionghoa Solo Sumartono Hadinoto membenarkan hal tersebut.

Menurutnya, pernikahan beda etnis seringkali memunculkan penolakan dari pihak keluarga. Namun karena dasar cinta dan kasih sayang, hal tersebut tidak lagi dapat dihalangi. Alhasil terjadi pembauran tanpa mengganggu kehidupan yang harmonis di Kelurahan Sudiroprajan. Tak ada lagi perbedaan etnis di kawasan tersebut. ”Keluarga kami sudah berbaur menjadi satu, ada budaya Jawa, Manado, dan Tionghoa. Walaupun kami berbeda budaya tetap menjalin sebuah komunikasi yang baik, karena dasar kami adalah saling mengerti,” ungkap Martono, sapaan akrabnya. Grebeg Sudiro yang telah bertahuntahun digelar menjadi salah satu momentum sajian barongsai yang dimainkan oleh kelompok etnis Tionghoa dan Jawa. Grebeg tersebut kali terakhir digelar Minggu (11/2) lalu.

Menurutnya, tradisi kirab Grebeg Sudiro yang dilakukan menjelang imlek merupakan ide dari masyarakat Jawa, sebagai bentuk saling menghormati dengan kalangan Tionghoa. Dengan begitu, ada kolaborasi tradisi antara Jawa dan Tionghoa. ”Misalnya gunungan. Budaya Jawa biasanya meletakkan sayur mayur buahbuahan serta hasil bumi lain di atasnya. Sedangkan di kawasan Pasar Gede itu kami kolaborasikan dengan makanan khas Tionghoa, kue keranjang dan bolang-baling. Jadi akulturasi tersebut menjadi hal yang luar biasa,” katanya.

Pria yang sangat fasih krama inggil dalam bahasa Jawa itu menyebutkan, akulturasi di Sudiroprajan merupakan sebuah kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Mestinya, tidak hanya Jawa dan Tionghoa saja yang harus berbaur, namun juga etnis-etnis lain dapat berbaur dan menciptakan budaya-budaya baru di Indonesia. ”Memang kita berbeda pikiran dan pandangan. Namun ketika komunikasi antarwarga terus dilakukan, saling memberikan senyum kepada orang lain, saling mengerti dan menjaga perilaku, maka perbedaan dapat diselaraskan untuk membangun Indonesia lebih baik lagi,” tambahnya.

Dia juga mengungkapkan, Sudiroprajan menjadi sebuah kawasan yang dapat dijadikan contoh dan panutan untuk kawasan lain yang memiliki etnis dan budaya berbeda dalam satu kota. Dia yakin perbedaan itu lambat laun akan hilang ketika orang-orang tidak mempermasalahkan suku, ras, dan agama. ”Selama kita saling menjaga kerukunan tanpa memandang suku, ras, dan agama, konflik antarmasyarakat di Indonesia akan berkurang, sehingga tercipta kedamaian di Tanah Pertiwi ini,” tuturnya.( Muhammad Ilham Baktora-67)

Berita Lainnya