image

SM/M Noor Efendi - UNJUK KEMAMPUAN : Peserta festival rebana unjuk kemampuan di GOR Gotong Royong Jalan MH Tamrin, kemarin. (75)

15 Februari 2018 | Suara Muria

Syubanul Wathan Menggema di Pecinan

  • Festival Rebana Warnai Perayaan Imlek

PATI- Lagu yang membakar semangat kebangsaan ”Syubanul Wathan” karya KH Wahab Chasbullah menggema di kawasan Pecinan Pati, kemarin. Lagu bertema cinta tanah air itu, berkumandang dari pagi hingga sore di tengah Pasar Imlek Pati.

30 grup rebana secara bergantian melantunkan lagu tersebut dalam festival rebana dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek 2569. Perayaan yang berlangsung rutin setiap tahun itu melibatkan umat lintasagama.

Ajang kompetisi kesenian Islam tersebut digelar Pimpinan Cabang Majelis Dzikir dan Shalawat (PC MDS) Rijalul Ansor Pati bekerja sama dengan komunitas Gusdurian berlangsung di Gedung Olahraga (GOR) Gotong Royong Jalan MH Tamrin Pati.

Tak hanya menyedot perhatian umat Islam, kegiatan tersebut juga menarik perhatian warga lintasagama. Ketua PC MDS Rijalul Ansor Pati Abdullah Syafiq mengatakan, festival rebana mewarnai perayaan Imlek di Pati dalam beberapa tahun terakhir.

Mereka berasal dari kalangan pesantren dan madrasah/sekolah. Grup rebana berasal dari 13 kecamatan di Pati, yakni Kayen, Sukolilo, Gembong, Juwana, Tlogowungu, Gunungwungkal, Dukuhseti, Margoyoso, Wedarijaksa, Margorejo, Trangkil, Pati Kota, dan Cluwak.

Setiap peserta wajib membawakan lagu wajib ”Syubanul Wathan” dan satu lagu (shalawat) lagi bebas. Pria yang akrab disapa Gus Syafiq ini mengungkapkan, kegiatan bersama tersebut dalam rangka menerapkan nilainilai Pancasila dan merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mengingat, belakangan ada kelompok tertentu yang mencoba mengoyak keberagaman bangsa dengan tujuan memecah persatuan dan kesatuan. ”NKRI dan Pancasila harus dipertahankan bersama-sama oleh seluruh elemen bangsa yang terdiri atas beragam suku, agama, dan ras.

Dengan begitu, bangsa ini tenteram, aman, dan sejahtera sehingga memiliki kesempatan besar untuk berkembang,” jelasnya. Lebih lanjut dia mengemukakan, upaya tersebut mengambil inspirasi guru bangsa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam urusan kerukunan, presiden RI keempat itu memberi banyak teladan.

”Gus Dur mampu menerapkan sikap toleran yang tinggi terhadap semua pihak, baik dari kalangan mayoritas maupun minoritas. Beliau benar-benar memikirkan keutuhan dan kebesaran bangsa melalui penerapan nilai-nilai Pancasila secara konsisten. Itu patut diteladani,” tandasnya.(H49-75)

Berita Lainnya