08 April 2018 | Serat

ESAI

Raibnya Otoritas Pengisah dalam “Darah Muda”

  • Oleh Abdul Aziz Rasjid

Sungai yang mengering selama Oktober jadi awal sekaligus penutup cerita ”aku” dalam novel Darah Muda (2018) karya Dwi Cipta. Si aku menemukan riwayat diri, hidup, dan makna yang berputar di sekitar dirinya dari kata-kata.

Dimulai dari tutur lisan kakek dari kakek buyut, empat generasi keluarga mengalami pelik persoalan tanah dan rumah. Soal pelik berpangkal dari pembangunan sungai irigasi untuk mendukung pabrik gula yang berujung eksploitasi dan konflik. Terbentur praktik kolonial mencaplok lahan warga, petani bergejolak menentang rencana penyewaan tanah, sampai tuntutan penyamarataan lahan berujung pada tragedi Gestok adalah rentetan permasalahan yang jadi pintu bagi penulisan catatan si aku.

Catatan itu mewujud dalam sebundel naskah 18 bab berupa kisah biografis. Si aku mengirim naskah itu ke seorang penyair yang tinggal di kota kecil. Kisah biografis itulah bagian terbesar isi Darah Muda. Si penyair menyebutnya catatan soal masa kanak-kanak, kehidupan ranum remaja, tikungan masa gelap awal masa dewasa, juga impian tak sampai menulis cerita.

***

Barangkali lewat Darah Muda, Dwi Cipta hendak mengolok-olok superioritas pengisah atas tokohtokoh rekaannya. Ia membuat si aku yang terobsesi menjadi penulis, justru jadi pihak yang dibedah oleh tokoh dalam catatannya. Dalam cerita biografis si aku, si penyair disebut satu-satunya yang paling bisa memahami perasaannya.

Si penyair kerap menemani si aku di perpustakaan kampus, sama-sama mempertautkan kegandrungan terhadap sastra - puisi dan prosa — yang menguasai jiwa. Bayangan si penyair pula yang muncul ketika si aku didera putus asa, menyadari tak mudah jadi perakit kisah seperti kakek dari kakek buyut hingga neneknya.

Di sisi lain, si penyair jadi narator yang menulis pracerita. Ia membocorkan riwayat: si aku memilih hidup berkelana usai dirasuki darah muda penciptaan yang bergelora. Ialah pembaca sekaligus pengapresiasi pertama catatan si aku: ”Pembaca yang budiman, catatan ini ditulis oleh seorang lelaki yang tengah putus asa di usia tiga puluh tahunnya yang menentukan. Impian terbesar dalam hidupnya pupus” (halaman vii).

”Selesai membaca catatan yang ia kirimkan beberapa hari lalu, tidak putus-putusnya aku berharap ia masih bisa menemukan impiannya” (halaman viii). Jika antara pracerita dan catatan si aku disatukan, alur yang tampaknya tak bergeser, cerita dirakit dan beredar di antara sesama anggota keluarga. Sebagaimana si aku bercerita soal keluarga dari mendengar cerita kakek buyut hingga orang tuanya; sipenyair membaca bab demi bab catatan si aku, lalu menceritakan pada sang istri. Cerita telah membawa kembali sastra prosa dan puisi ke dalam rumah.

Rumah jadi wilayah domestik, tempat awal cerita tumbuh dan beredar sekaligus diapresiasi secara intim. Kisah sungai kering selama Oktober, misalnya, beredar turun-temurun terus bertambah sesuai dengan masa dan latar hidup pencerita.

”kisah ini membuat generasi demi generasi keluargaku merasa nyaman tinggal di sebuah desa yang tidak pernah tertera di peta dan kisah besar negeri ini. Dari sekedar pengisi waktu luang, lambat laun ia menjadi semacam kewajiban untuk dituturkan oleh orang tua pada generasi yang lebih muda. Ia juga menjadi uji ketrampilan dalam menciptakan dusta-dusta yang mesti diyakini sebagai kebenaran oleh anak keturunannya” (halaman 1-2).

Sedang di sekolah, kampus, atau di tangan kritikus, sastra acap dimaknai berputar dalam lingkaran analitis yang kaku dan tak konstektual. Deskripsi itu dalam rupa kritik terhadap kejumudan pendidikan, terurai sebagaimana kata si aku, ”Suara beberapa dosen yang mengajar diktat kuliah yang tidak pernah berubah selama dua puluh tahun terdengar lebih menyedihkan daripada kaset rusak”( halaman 233).

***

Sebagai pembaca Darah Muda, kita menghadapi penulis catatan yang tak murni lagi ditempatkan sebagai pemegang otoritas tunggal atas tokoh-tokoh yang ia kisahkan. Justru berkat si penyairlah catatan itu terceritakan, menyapa pembaca, mengenalkan sekilas tokoh aku sampai menulis tanggapan dalam pracerita. Antara aku dan penyair, otoritas pengisah raib.

Keduanya berada sejajar sebagai bagian pengisah, menghubungkan yang lampau dan kini, aku-kamu-mereka yang terpisah. Sayang, Dwi Cipta dalam novel ini tak memberi porsi lebih pada suara si penyair. Sebagai pembaca pertama, si penyair tak mendapat keleluasaan merespons catatan aku. Baik mengomentari skenario cerita, mengonstruksi ulang wacana yang bertebaran; singkatnya tanggapan berkesinambungan di sela-sela catatan aku.

Padahal, pada awal novel ini, cerita sungai kering punya modal mewujudkan kerapuhan kemandirian narasi dalam satu desain besar pembentuknya yang digubah dalam berbagai versi oleh para pendengar. Dalam cerita sungai kering, tak ada pencerita yang sejak semula ditempatkan sebagai pemegang otoritas tunggal. Namun, sayang cerita yang bergulir mendeskripsikan aku terobsesi jadi penulis dari masa kanak sampai dewasa, justru tampil konvensional bersandar pada tuturan diri semata.

Di luar kekurangan itu, Darah Muda menegaskan setiap orang merupakan pengisah yang berupaya merawat, menafsir, sekaligus menyikapi secara kritis berbagai hubungan, kenangan, dan pengalaman. Memang, tak ada versi tunggal dalam ”kisah keringnya sungai di bulan Oktober” yang diurai Dwi Cipta. Di dalamnya terlibat banyak pengisah, empat generasi keluarga dari suatu desa terpencil yang dengan cara tersendiri menegakkan martabat tak ingin timpas dan kalah oleh kemalangan nasib. (44)

-Abdul Aziz Rasjid, jurnalis dan esais, bergiat di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto.