08 April 2018 | Serat

PUISI

Budi Setiawan

Kesaksian Lain dari Bagian-Bagian Tubuhku

/1/ mulut
Aku rumah, tempat rebah segala kata-kata
Terkadang bergelung diam menunggumu
Atau mendesis liar seperti ular itu
Mencokot ribuan telinga
Melilit hati yang mudah terluka
Dan kau pun dibuatnya percaya
Racun di bibirku berbisa
Bisa membunuh siapa saja

/2/ mata
Berhati-hatilah kalau bermain desah padaku
Sebab detak jantungmu yang mengalun indah
bisa seketika basah
Tapi jika kau telah pasrah
Hentikan saja gerutumu
Biar waktu yang tak pernah lelah itu
Menipu dirimu lewat kedipan mautku

/3/ telinga
Kau memasukiku dengan rindu paling merdu
Aku tahu, gaungmu selalu memecah dinding
kesunyianku
Karena suaramu adalah penghuni setia bagi
gelap sebuah gua
Maka khusyuklah di sana
Hingga aku tak mampu lagi mendengarmu
bernyanyi

/4/ tangan
Kau kembali menciumku dengan bibir merah
bergincu
Tapi aku masih saja butuh kecupan dari sang
waktu
Untuk sekadar menidurkan rindu
Sebagaimana lambaianmu
Meninggalkan jarak lengang
Yang lebih panjang dari bentangan tangan
Antara kanan dan kiriku apakah
Pernah kau temukan sebuah jalan
Untuk berpulang padaku?

/5/kaki
Kau bisa saja membunuhku waktu itu
Tapi tetap ingin membiarkanku
Hidup dalam kesendirian
Hujan yang kau tinggalkan
Jatuh perlahan di kubangan
Dan seorang pejalan meraba jejak Tuhan
Yang selalu becek dalam ingatan
 

Persetubuhan Kopi

1/
Persetubuhan kita malam itu
Hanya meninggalkan berahi candu
Pada sepasang bibir yang merindu

2/
Aku melihat bulan telanjang
Di tubuhmu yang dingin
Seorang kekasih berbahagia
Merayakan jarak cintanya
Menyisakan kekosongan
Yang memabukkan

3/
Sebelum kembali kulecuti
Sisa nafasmu membelenggu
Dalam pekat yang sekarat
Pagi datang
Mengantarkan sebuah ingatan
Yang selalu kita tuang tiap malam-malam
Berpulang kepada Tuhan

Budi Setiawantinggal di Temanggung. Alumnus Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Muhammadiyah Magelang ini bergiat di Komunitas Seni Turonggo Setro. Puisinya termaktub dalam antologi bersama, antara lain, 100 Puisi Qurani (2016), Puisi untuk Indonesia (2017), Sajak untuk Saudaraku (2017), dan 100 Sajak untuk Gus Dur (2018). (44)