image
08 April 2018 | Serat

Taraji, Oh Taraji

  • Cerita Chandra Buana

Tak mudah memang menjadi lelaki idealis. Setelah terusir dari keluarga lima tahun lalu, kini Taraji kerap memikirkan perkara yang realistis. Misalnya, pulang ke rumah. Namun egonya terlalu besar, sehingga Taraji memutuskan bertahan. Pulang? Tidak. ”Aku hanya akan jadi bahan olokan Bapak jika pulang. Lebih baik aku mati kelaparan di sini,” gumam Taraji. Lima tahun lalu, Taraji berdebat dengan sang bapak.

Taraji ingin meneruskan sekolah di kota, sedangkan Bapak ingin Taraji membantu di sawah. ”Dasar bocah gendeng! Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya kamu kembali ke sawah?” ”Bapak gak ngerti. Sekolah penting, Pak.” ”Persetan! Sekolah hanya menghabiskan uang, Taraji. Tak menghasilkan uang. Lebih baik kamu bantu Bapak garap sawah.”

”Tidak, Pak, aku mau sekolah di kota.” ”Uang dari mana? Kamu sanggup membiayai hidupmu di kota?” Taraji terdiam. Ibunya di dapur pun diam. Namun ada air menetes dari mata sang ibu. Cuma sang ibu tak bisa berbuat apa-apa. Jika mereka sudah berdebat macam itu, tak ada yang bisa dia lakukan. Hanya pasrah pada Tuhan.

”Pokoknya aku mau sekolah. Titik!” ”Kamu mau melawan orang tua? Siapa mengajarimu seperti ini?” Taraji kembali bungkam. Bapak masuk ke kamar. Taraji tetap diam di meja makan, lalu pergi keluar rumah. Malam hari Taraji baru pulang. Dia berdiam diri melihat sang ibu menunggu di beranda. Dia masuk tanpa salam. Mulut Taraji bungkam. Dia buka tudung saji. Hanya ada nasi, sekerat tempe, dan secolek sambal terasi. Dia tutup kembali tudung saji, lalu masuk kamar. ”Aku harus pergi dari rumah ini,” batin Taraji.

***

”Astaghfirullah, mau ke mana kamu?” ”Pergi, Mak. Tak guna terus bertengkar dengan Bapak. Bapak tak mengizinkan aku sekolah.” ”Istighfar, Nak, istighfar.” ”Sudahlah, Mak, tekadku sudah bulat.” Bayangan itulah yang selalu menghantui pikiran Taraji. Dulu di rumah, ketika lapar setidaknya masih ada nasi. Sekarang? Untuk minum pun, dia harus ke masjid. Mengendapendap ke kamar mandi, lalu minum air untuk wudu.

”Nasi sudah jadi bubur. Masa aku menjilat ludahku? Tidak, tak akan kulakukan.” Pernah suatu kali dia benar-benar ingin pulang. Dia berjalan berjam-jam dari kota. Namun ketika sudah setengah perjalanan, dia urungkan niat itu. ”Apa kata Bapak melihat aku balik ke rumah? Mana bajuku compang-camping begini. Sudahlah, biar aku mati kelaparan di kota.” Kini, sudah tiga hari Taraji belum makan. Tiga hari dia hanya minum air. Badannya kurus-kering. Mukanya kucal, baju compangcamping.

Dia tinggal di pasar. Pagi hari dia bangun, melipat kardus alas tidur, lalu pergi. Malam tiba, kembali ke pasar. Siang itu, ketika berjalan kian-kemari tak keruan juntrungan, dia melihat kebun singkong. Karena sudah berhari-hari tak makan, dia memutuskan mencuri. Akal sehat Taraji sudah terbungkus lapar. Taraji pun mengendap-endap. Ketika sudah berada di tengah kebun, dia mencabut sebatang pohon singkong. ”Sebonggol sudah cukup,” pikir dia. Dia mematahkan batang pohon singkong, lalu mengambil umbinya.

Batang itu dia tanam kembali. Sial, baru saja menancapkan batang singkong ke tanah, sang pemilik kebun datang. Taraji tertangkap. Pemilik kebun meneriaki dia maling. Beberapa orang datang dan menghajar Taraji tanpa ampun. Mereka membawa dia ke kantor polisi. Taraji dipenjara dua bulan. Selama di penjara, Taraji amat senang.

Dia bisa makan, meski hanya sekali sehari. Jatah makan di penjara hanya dua kali. Jika ambil porsi nasi standar, kau boleh mengambil lauk. Namun jika mengambil nasi terlalu banyak, tak ada lauk. Saat waktu makan, Taraji mengambil nasi sebanyak-banyaknya. Lalu dia meminta garam dan menaburkan di atas nasi.

Taraji sungguh senang, bisa makan tanpa bekerja. Namun di penjara, semua serbamembayar. Untuk memperoleh air satu setengah liter harus membayar 10.000 rupiah. Namun itu bukan masalah besar bagi Taraji. Dia memilih tak mandi. Buang air besar bisa dia lakukan di sembarang tempat. Kadang di taman, selokan, kamar mandi sipir, atau di mana saja.

Semua dia lakukan diam-diam. Tak ada yang tahu, itu kotoran siapa. Hanya Taraji dan Tuhan yang tahu. Sekeluar dari penjara, Taraji kembali hidup seperti semula. Dia kembali tak bisa makan dan minum. Berhari-hari dia mencari makan dan minum, tetapi sia-sia. Tak seorang pun memberi sesuap nasi. Muncul kembali niat mencuri agar bisa masuk penjara lagi.

Namun jika hanya maling singkong, pasti hanya beberapa bulan di penjara. Akhirnya dia berencana membobol rumah seorang saudagar. Begitulah, setelah merencanakan secara matang, akhirnya Taraji membobol rumah saudagar itu. Malam hari, dia mengendap- endap, mencungkil pintu, dan masuk. Dia mengambil radio dan kipas angin. Aksinya berjalan mulus.

Taraji pun kembali ke pasar dan tidur. Keesokan hari, Taraji bangun pagi-pagi sekali. Dia tak sabar menunggu ditangkap karena telah mencuri. Dia mondarmandir di sekitar pasar. Dia gelisah karena polisi tak kunjung datang. Sementara itu, para pedagang sudah bersiap berjualan. Taraji pun terusir dari pasar. Siang terik. Taraji kehausan. Dia mengempit radio dan kipas angin jarahan.

Dia memutuskan menjual salah satu barang itu untuk mengisi perut. Akhirnya dia melepas kipas angin seharga 50.000 rupiah. ”Lumayan, bisa buat makan seminggu,” gumam dia. Namun setelah seminggu, polisi tak kunjung datang. Dia heran, mengapa polisi tak datang dan menangkap. Uang 50.000 rupiah sudah habis tiga hari lalu.

Kini, sudah tiga hari dia tak makan. Dia kelaparan. Mau tak mau dia harus menjual radio curian. Tak perlu lama, radio itu terjual 30.000 rupiah. Tiga hari perutnya aman. Ketika uang habis, Taraji kembali kelaparan. Sampai seminggu kemudian, dia hanya bisa mengisi perut dengan air. Taraji tak kuat. Akhirnya dia menyerahkan diri ke kantor polisi.

Di kantor polisi, dia mengakui segala perbuatan; mencuri radio dan kipas angin dari rumah seorang saudagar. Namun polisi tak percaya karena tak ada barang bukti. Taraji gusar sekaligus bingung. Dia memohon- mohon dimasukkan ke penjara. ”Kenapa kamu ingin sekali masuk penjara?” tanya polisi. Dengan tubuh lemas, Taraji menjawab, ”Cuma di penjara, aku bisa makan tanpa kerja.” (44)

Semarang, 21 Maret 2018: 20.55

-Chandra Buanakelahiran Lampung, mahasiswa Jurusan Manajemen Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang