15 April 2018 | Pamomong

BLENCONG

Perempuan yang Dituduh Kawin Gandarwa

  • Oleh Saroni Asikin

SUDAH  hampir satu jam dia berbicara kepadaku. Ah tidak, dia tidak berbicara. Dia menumpahkan isi hati. Nada kalimatnya berubah- ubah. Dia jadi mirip pemain sandiwara tunggal yang bercerita di atas sebuah kursi, sementara tanganku terus memijiti seluruh bagian kakinya.

Sesekali dia berjeda untuk mencecap teh uwuh yang kusajikan untuknya. Sesekali dia bertanya kepadaku. ''Mereka bilang aku kawin gandarwadengan lelaki Madukara itu. Mereka bilang, lelaki itu selalu menyelinap ke Keputrian Astina pada malam kelam, dan kami mengayuh biduk asmara di sini, di kamar ini.

Kau juga mendengar gunjingan itu, Hesti?'' ''Sahaya, Ratu.'' ''Sahesti, kau sudah bersamaku sejak di Mandaraka. Kau tak sekadar biti perwara. Kau mirip saudaraku. Dan kau sudah mendengar gunjingan seperti itu sejak aku masih gadis di sana, sejak aku masih bersama kedua kakak perempuanku, Erawati dan Surtikanti.

Kami memang pernah bertemu di Taman Keputrian Mandaraka. Ya, sekali itu. Itu karena dia tersesat saat seekor burung buruannya hinggap di ranting pohon kepel di keputrian. Kau ada di sana ketika itu.

Dan sejak itu, kau sudah tahu apa perasaanku karena hanya kepadamu kuceritakan betapa aku jatuh cinta kepadanya. Ya, hanya sekali itulah aku bertemu dengannya. Setelah itu aku lebih banyak melihatnya dari kejauhan, mengaguminya dari kejauhan. Tapi gunjingan tetap mengalir bagai udara.

Orang-orang bilang, lelaki itu, si putra Pandu itu sering menyelinap ke Keputrian Mandaraka.'' Dia, Ratu Astina, berhenti, mengunjal napas dan mengempaskan panjang-panjang. ''Ah, semestinya tak perlu kuceritakan lagi kepadamu. Kau saksi semuanya.

Ya, sejak itu aku memang sangat mencintainya. Tapi inilah nasib perempuan, betapapun aku seorang putri raja, aku tak kuasa menolak jadi putri boyongan ketika Raja Duryudana, rajamu itu, meminangku dan memboyong ke sini.

Oh, Sahesti, kau bahkan yang mengganti bantal basah oleh air mataku ketika pinangan itu diterima ayahku, Raja Salya. Bantal basah itu masih sering kauganti hingga kita berada di Istana Astina ini.'' Aku terus memijiti kakinya. ''Kau ingat ketika dua hari lamanya air mataku tak jua berhenti? Ah, pasti kau ingat, Hesti.

Itu saat orang bergunjing bahwa aku meminta putra Pandu itu yang memandikanku dalam upacara siraman sebelum pernikahanku dan rajamu itu. Kaulah saksi siapa yang memandikan aku untuk upacara itu. Gunjingan itu masih bisa aku tanggungkan.

Tapi gunjingan yang membuatku ingin mati saja itu bergaung ketika Lesmana lahir. Bagaimana bisa lelaki Madukara itu ayah Lesmana? Bagaimana bisa, satu-satunya pertemuanku dengannya, dan saat itu pun kami hanya saling pandang dalam jarak tiga depa....''

Suaranya tercekat. Dia berhenti, mengunjal napas, mengempaskan, lalu mengambil batok teh uwuh, dan mencecapnya. ''Kudengar, seorang sandi menangkap pengirim ketaka.

Kudengar itu akan dijadikan bukti tuduhan bahwa aku benar-benar telah melakukan kawin gandarwa dengan lelaki Madukara itu. Ah, Hesti, aku tak takut menghadapi pidana.'' Dia berjeda lagi. ''Mereka berlebihan menilai kata-kata di dalam lembaran ketaka.

Tapi memang kuakui, satu-satunya kesalahanku, kalau itu dianggap salah, adalah aku masih mencintai lelaki itu ketika aku sudah jadi istri lelki lain, dan mengungkapkan perasaanku di atas lembaran-lembaran ketaka.

Andai aku ini seorang kawi, aku akan menulis kakawin saja. Itu pasti!'' Sambil terus memijiti kaki Ratu Banowati, hatiku membenarkan semua ucapannya. Dengannya aku tak pernah genggang sakrambut. Aku baca semua ketaka dari dan ke lelaki Madukara itu.

Siapa pun yang membacanya memang bakal berpikir bahwa ada percintaan yang tak hanya berwujud kata-kata. Tapi hanya dia dan aku si Sahesti, si biti perwara yang telah bersamanya sejak dia remaja, yang mengetahui kebenaran sejati tentang kisah cinta mereka.(44)

Catatan
Kawin gandarwa: perselingkuhan secara seksual.
Ketaka: pudak atau bunga pandan yang dipakai sebagai alat tulis.