15 April 2018 | Pamomong

PRINGGITAN

Centhana

  • Oleh Triyanto Triwikromo

"AKUadalah kenangan bersama seratus dua puluh juta manusia Jawa, pengembaraan edan luar batas, dua belas jilid, empat ribu dua ratus halaman, tujuh ratus dua puluh tembang, dua ratus ribu bait lebih....

Sebenarnya aku sudah tiada lagi...." Tak ada lagi? "Aku kan sudah terbakar saat api berkalikali melahap keraton?" tulis Elizabeth D Inandiak dalam "PengakuanCenthini", ".... Oh, lupa aku memperkenalkan diri.

Suluk Tambangraras namaku... aku lahir di zaman huru-hara manusia dan alamnya...." Hingga sekarang kita tidak tahu mengapa Suluk Tambangraras lebih disebut sebagai Serat Centhini.

Hingga sekarang kita juga masih belum paham mengapa nama abdi Tambangraras itu yang lebih ditonjolkan ketimbang Amongraga. Kita hanya tahu dari Centhini, "Aku lebih memandangnya sebagai suatu keakraban, kedekatan yang menyentuh antara pembaca dan aku, atau suatu upaya teraling dan makar yang dengan sengaja mengangkat wong cilik menjadi tokoh sohor."

Apakah sulukatau suara meninggi dalam pewayangan itu akan diberi nama Centhana jika sang abdi bernama Centhana? Apakah nama Centhini sengaja dipilih karena pada akhirnya ia menghilang, meniada dari keriuhan alam? Semua itu masih menjadi misteri.

Kita hanya tahu lewat Inandiak, Centhini bilang, "Aku, Centhini, begitu melupakan diri sendiri dan begitu mengabdi kepada para junjunganku sehingga aku akhirnya memudar, padu lebur dan larut, lenyap dari suluk, pulang ke zatku yang sejati, Ilahi." Tentu saja jawaban semacam itu bisa membingungkan orang yang tidak paham makna kenangan.

Kenangan dalam segala yang berpaut dengan kejawaan adalah sesuatu yang dieling-eling,. Sesuatu yang diingat-ingat itu senantiasa dianggap sebagai kenyataan atau kasunyatan meskipun sudah tiada lagi. Kenangan itu, apakah ia fakta atau fiktif, tetap saja dianggap ada karena ia pernah dilahirkan.

Jawaban semacam itu juga membingungkan orang yang tidak paham yang tampak atau tak tampak, sing katon lan sing ora katon. Yang tampak dan tak tampak itu ada, sing ketok lan ora ketok kuwi ana.

Karena itulah tidak perlu heran jika Sean O'Casey dalam Eksotopi Goenawan Mohamad menyatakan, "Altar drama bukanlah di atas pentas." Itu berarti apa pun yang tampak di pentas bukanlah realitas yang sesungguhnya.

Dalam konteks Serat Centhini yang terpenting bukanlah Tambangraras, Amongraga, Centhini, atau Pangeran Anom Hamengkunegara III, melainkan apa pun yang ditindakkan, dipikirkan, dan dilengkingkan oleh mereka. Tak hanya itu. Perspektif pascabacalah atau tafsirlah yang lebih penting.

Tanpa perspektif baca yang memadai, tak mungkin saat bertemu dengan Inandiak, Onghokham bilang, "enthini, cíest Rebelais." Buku-buku Rebelais, menurut Inandiak, tidak mengenal batasan antara dunia awam dan dunia keramat, antara yang ilmiah dan rakyat, yang halus dan kasar.

Ini semakin menyadarkan kita betapa "suara lain"-lah yang dikehendaki muncul setelah seseorang memahami rahahasia atau enigma teks. Dalam kasus Serat Centhini, yang lebih diharapkan setelah seseorang berelasi dengan pengembaraan Amongraga pastilah bukan bagaimana Pangeran Jayengresmi itu merasakan kenikmatan syahwat, kenikmatan duniawi, serta kenikmatan spiritual bersama Tambangraras.

Lalu apa? Agama yang bisa membawa siapa pun ke singgasana Tuhan? Bukan. Pelajaran tentang betapa segala yang ada di dunia sesungguhnya hanya hilang ketika maut menjemput? Bukan.

Seruan-seruan dari sesuatu yang digambarkan sebagai ilahi agar yang pernah hidup di bumi menyatu dengan sang suwung? Juga bukan. Ajal? Mungkin. Sebab pada teks terakhir Serat- Centhini>, ajal menjadi persoalan penting.

Paling tidak termaktub teks: Ia menemui ajalnya sebelum mencapai pesisir. Mayatnya dimakamkan di Tegalwangi, di puncak gundukan tanah persegi yang dikelilingi tiga undakan. Hanya itu? Tidak. Ada teks lain yang lebih penting.

"Di batu nisannya satu tangan tak dikenal menuliskan kenangan ini: Hampir mati pada dirinya sendiri, hanya nafsu terakhirnya yang terjelma." Apa maknanya? Inandiak sebagai penafsir termutakhir SeratCenthini tak memberikan petunjuk yang jelas. Inandiak hanya bilang, "....

Dan yang tidak kutemui ada di dalamnya juga." Itu berarti siapa pun pembaca Serat Centhini, taruhlah ia bernama Centhana, akan mengambil kesimpulan: di Jawa tak ada yang fiktif. Kabeh sarwa nyata. Sing ora ana ya ana.

Sing ora nyata ya dianggep nyata. Tambangraras ada tetapi ia menghilang dalam nafsu Centhini. Amongraga ada tetapi ia menghilang dalam nafsu terakhir, hasrat menjelma yang terus ada.(44)