16 April 2018 | Wacana

TAJUK RENCANA

Hentikan Minum Minuman Pencabut Nyawa

Jumlah korban minuman oplosan di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat mencapai 224 orang, sebanyak 44 orang (ada pula yang menyebut lebih dari itu) di antaranya meninggal dunia. Selebihnya 139 orang sudah diperbolehkan pulang dan 30 orang masih dirawat, dan 11 orang dirujuk ke rumah sakit lain. Ini korban terbanyak tahun 2018 akibat menenggak minuman keras oplosan. Pemkab Bandung menetapkan peristiwa itu sebagai kejadian luar biasa (KLB) situasional karena jumlah korban terus bertambah.

Banyak pihak prihatin atas pesta minuman keras di berbagai tempat yang dimulai dari Kamis hingga Sabtu (5-7/4). Korban semakin hari semkain bertambah. Penjual dan pemilik pabrik oplosan dijadikan tersangka. Kejadian itu memberikan pelajaran bahwa minum minuman keras oplosan menjadi sumber malapetaka. Oplosan minuman keras bercampur metanol menjadi awal jatuhnya korban jiwa. Kandungan metanol dapat mengganggu organ vital tubuh manusia, terutama fungsi paru-paru dan pernapasan.

Dari hasil autopsi korban meninggal, polisi menyatakan dalam tubuh korban terdapat kandungan etanol dan metanol. Etanol berefek memabukkan, metanol berdampak mematikan. Selain itu, juga terdapat tanda-tanda toksikologi atau keracunan. Kejadian mengonsumsi minuman oplosan hingga mengakibatkan korban jiwa ini bukan kali pertama pada tahun ini. Namun mengapa masih saja banyak orang menenggak minuman pencabut nyawa itu? Kejadian ini perlu menjadi perhatian bersama.

Minuman jenis oplosan ini tergolong murah dibandingkan dengan minuman keras yang dipasarkan secara legal. Minuman yang dikenal sebagai ginseng itu dicampur dengan segala macam cairan tanpa takaran medis. Menurut pengakuan korban selamat, ginseng diramu dengan obat batuk dan obat nyamuk cair. Tak heran meskipun murah, dampaknya begitu dahsyat akibat oplos awur-awuran. Maka, operasi rutin perlu digelar untuk merazia pabrik pengolah minuman oplosan serta penjual di lapak-lapak. 

Selanjutnya para tersangka harus diproses hukum agar menjerakan. Muncul tengara adanya beking di balik pabrik dan penjual oplosan. Ini perlu ditindaklanjuti oleh penegak hukum. Siapa pun orang di balik oplosan harus dihukum dan mendapat hukuman setimpal. Hukum berat, apalagi bila beking itu dari aparatur negara yang paham undang-undang, supaya mereka tak lagi mengulangi perbuatannya. Tetapi, tak perlu membabi buta melarang total produksi minuman tradisional hasil fermentasi yang diproduksi oleh masyarakat. 

Tak semua masyarakat memproduksi minuman tradisional untuk oplosan karena mematuhi peraturan. Cairan tersebut digunakan untuk industri seperti bahan produk kecantikan. Benar, melihat penyalahgunaan minuman tradisional seperti ciu, arak, dan tuak justru peredarannya perlu diperketat. Apalagi mengingat usia korban dari usia 19 hingga 51 tahun, perlu menjadi renungan bersama. Kejadian di Cicalengka jangan sampai terulang. Hindari menenggak minuman keras oplosan agar tak sia-sia.