image

SM/Budi Setyawan

17 April 2018 | Suara Banyumas

KIYE LAKONE

Kuasai Audiens

TAKbanyak seorang guru di Kabupaten Banyumas yang memiliki kemampuan menjadi seorang pembawa acara, apalagi dengan menggunakan bahasa Jawa atau lebih dikenal dengan sebutan Pranata Adicara.

Pasalnya untuk bisa membawakan acara dengan berbahasa Jawa tidaklah mudah. Namun hal itu tidak berlaku bagi Slamet Sutrisno (56). Di tengahtengah kesibukannya sebagai Kepala SD 1 Tanjung Unit Pendidikan Kecamatan (UPK) Purwokerto Selatan, ia masih sempat menyalurkan hobinya menjadi pranata adicara bahasa Jawa.

Sudah ratusan kali ia tampil untuk membawakan sebuah acara, baik itu dalam sebuah acara pesta pernikahan maupun acara kedinasan di sebuah kantor pemerintah maupun swasta. Aktivitas itu dijalaninya saat tidak sedang melaksanakan tugas utamanya sebagai seorang pendidik.

”Saya menekuni dunia pranata adicara sejak masih bujangan, yakni sekitar tahun 80-an. Kebetulan saat masih muda sudah suka dengan dunia ini, bahkan saat masih SMP sudah tertarik,” kata pria kelahiran Banyumasa 7 April 1961 ini. Dia mengaku, kemampuannya dalam membawakan sebuah acara berbahasa Jawa diperolehnya secara otodidak.

Untuk mengasah kemampuannya, ia juga tidak segan untuk belajar dengan cara membaca buku-buku yang mengulas tentang pembawa acara. Dia menilai, untuk bisa tampil secara optimal saat melaksanakan tugas sebagai pranata adicara, penguasaan kemampuan berbahasa Jawa sangat dibutuhkan.

”Kosakata bahasa Jawa harus banyak dikuasai. Kuncinya belajar dan banyak berlatih,” terangnya. Selain itu, lanjut dia, seorang pembawa acara juga harus mampu menguasai para pendengar (audiens). Jangan sampai audiens dibuat bosan dengan penampilan dari seorang pembawa acara yang terkesan monoton dan tidak mampu berimprovisasi. ”Seorang pranata adicara bahasa Jawa harus mampu menguasai audiens. Bagaimana mengupayakan agar audiens tidak bosan dengan apa yang disampaikan oleh pranata adicara.

Ini harus mampu dikuasai,” tambah Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Purwokerto Selatan ini. Oleh karena itu, agar audiens tidak bosan, menurutnya, seorang pembawa acara harus mampu melaksanakan tugasnya dengan lancar. Apa yang disampaikan harus enak didengar dan penampilannya enak untuk dilihat.

Maka dari itu, penampilan harus benar-benar diperhatikan, mulai dari cara berpakaian hingga gaya bicaranya. ”Untuk pakaian yang dikenakan harus menyesuaikan dengan jenis acaranya. Kalau untuk acara-acara di kantor pemerintah maupun swasta terkadang memakai jas. Namun untuk acara pernikahan dengan adat Jawa, saya mengenakan pakaian beskap lengkap dengan blangkon,” tandasnya.(Budi Setyawan-19)