17 April 2018 | Internasional

Asifa dan Potret Kejahatan Seks di India

ASIFABano baru berusia delapan tahun saat harus mengalami kekejian yang tidak terbayangkan pada Januari lalu. Gadis itu ditemukan telah menjadi mayat di hutan distrik Kathua, Negara Bagian Jammu dan Kashmir, India. Bocah itu diperkosa berkali-kali oleh beberapa pria dewasa sebelum akhirnya dibunuh dengan sadis. Menurut laporan polisi, Asifa diculik dan diberi obat bius oleh para pelakunya.

Dia kemudian disekap di sebuah kuil Hindu, tempat yang seharusnya bebas dari tindakan bejat manusia. Di tempat itu dalam tiga hari berikutnya, setidaknya tiga pria memperkosanya, berkali-kali. ‘’Sudah saatnya untuk membunuh gadis itu,’’ kata Sanji Ram kepada keponakannya pada malam yang dingin di bulan Januari. Lalu ritual itu pun dilakukan.

Dan Asifa, seorang gadis nomaden Muslim berusia delapan tahun, dibawa ke gorong-gorong di depan sebuah kuil di mana dia telah ditahan dan dibius, selama empat hari di Desa Rasana, Distrik Kathua di India. Tapi, sebelum dia dicekik dan kepalanya dipukul dua kali dengan batu ”untuk memastikan” dia sudah mati, Deepak Khajuria, seorang perwira polisi khusus, membuat permintaan. Dia ingin memperkosa gadis itu sebelum dia dibunuh. ”Seperti itu,” kata polisi mengutip hasil penyelidikan yang dilakukan.

”Sekali lagi, gadis kecil itu diperkosa beramai-ramai oleh petugas polisi dan kemudian oleh sejumlah remaja.’’ Selama tiga bulan, pemerkosaan dan pembunuhan Asifa tampak hanya seperti kasus kekerasan seksual lain yang merajalela di India tetapi jarang terjadi di Kashmir. Hingga kemudian laporan penyelidikan setebal 16 halaman mengungkap kebiadaban tersebut.

Sistematis

Penyelidikan mengungkapkan bahwa pemerkosaan dan pembunuhan itu sistematis, terencana, dan berakar dalam kebencian agama yang dipendam oleh Sanji Ram, seorang Hindu, melawan komunitas nomaden Muslim Bakarwals. Seorang pensiunan pejabat pemerintah, putranya yang datang dari kota lain, keponakan remaja dan teman dekatnya, dan perwira polisi khusus terlibat dalam konspirasi dan kejahatan untuk menculik, memperkosa, dan membunuh bocah delapan tahun itu. Tiga petugas polisi terlibat dalam menghancurkan bukti.

Dalam perkembangannya insiden itu pun melesat menjadi krisis besar bagi Partai Bharatiya Janata (Bhikatiya Janata Party) yang berkuasa di India. Sebab, rincian dan motif yang mengerikan dari perkosaan dan pembunuhan itu masuk ke ranah publik. Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah berulang kali mengklaim bahwa kelompok minoritas agama, khususnya Muslim, menghadapi peningkatan ”demonisasi’’ oleh kelompok-kelompok Hindu garis keras, media pro-pemerintah dan beberapa pejabat negara” di India.

Dan frekuensi insiden semacam itu tampaknya semakin meningkat. Dalam laporan Amnesty International baru-baru ini, kelompok hak asasi manusia yang bermarkas di London itu mencatat bahwa lusinan ”kejahatan kebencian terhadap Muslim terjadi di seluruh negeri”. ”Sedikitnya 10 pria Muslim digantung dan banyak yang cedera oleh kelompok-kelompok pelindung sapi, yang banyak di antaranya tampaknya beroperasi dengan dukungan anggota Partai Bharatiya Janata yang berkuasa,” katanya.

Seperti dikutip dari BBC, kasus Asifa yang terjadi sejak Januari baru ramai diberitakan pada pertengahan April. Ini terjadi setelah kelompok Hindu sayap-kanan memprotes penangkapan salah seorang anggota mereka dalam kasus itu. Terlepas dari isu kejahatan kebencian terhadap muslim, kasus Asifa membuktikan bahwa India belum terlepas dari darurat kejahatan seksual.

Dalam laporan Human Right Watch (HRW) pada 2017, langkah pemerintah mereformasi hukum, metode pelaporan, meningkatkan pelayanan kesehatan, konseling, dan bantuan legal bagi para korban perkosaan terbukti tidak bisa membendung tindakan itu terus terjadi di India, bahkan terus bertambah. Pada 2012, menurut Biro Pencatatan Kriminal Nasional India (NCRB) ada 25 ribu kasus perkosaan. Pada pencatatan terakhir 2016, jumlahnya malah meningkat menjadi 40 ribu. Artinya, ada sekitar 106 perkosaan per hari di India.

Menurut seorang jurnalis, banyaknya kasus perkosaan dan penyerangan seksual di India membuat media tidak terlalu bernafsu memberitakannya karena itu bukan berita besar. ”Ketika seorang reporter memberi tahu kantor mereka di Delhi soal insiden itu (perkosaan Asifa), berita tentang peresmian taman tulip di lembah seolah lebih bernilai daripada perkosaan dan pembunuhan seorang gadis,” kata Sameer Yasir, jurnalis independen di Srinagar. ”Saya yakin media lelah melaporkan kekerasan di India.

Perkosaan, pembunuhan, penyiksaan, dilaporkan setiap waktu. Melaporkan berita penyiksaan sudah seperti menyiarkan laporan cuaca,” kata Shiv Visvanathan, pengamat media di Delhi kepada BBC.(aljazeera,bbc-mn-53)