17 April 2018 | Internasional

Bangladesh Bantah Repatriasi Rohingya

DHAKA- Klaim Myanmar yang menyatakan telah merepatriasi satu keluarga Rohingya dibantah oleh Bangladesh. Sementara itu Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) mengaku tidak tahu-menahu dan tidak dilibatkan dalam pemulangan tersebut. Lebih dari 670.000 warga muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak operasi militer Myanmar pada Agustus lalu.

Berdasar kesepakatan yang ditandatangani Yangon dan Dhaka, para pengungsi Rohingya akan dipulangkan mulai Januari. Namun PBB dan kelompok HAM menyatakan tindakan itu sangat membahayakan keselamatan pengungsi. Dalam satu pernyataan pada Sabtu malam, Myanmar mengklaim telah merepatriasi satu keluarga Rohingya. Negara tersebut menyatakan keluarga beranggota lima orang, termasuk seorang bernama Aftar Ar Lwan, kembali ke salah satu pusat penerimaan di Rakhine.

Disebutkan dalam pernyataan itu bahwa pihak berwenang telah memastikan keluarga tersebut pernah tinggal di Myanmar dan memberi mereka kartu verifikasi nasional. Kartu tersebut merupakan sebuah bentuk tanda pengenal, tetapi bukan sebuah kewarganegaraan. Pernyataan itu tidak mengatakan apakah ada repatriasi lagi yang sedang direncanakan. Bangladesh telah memberi Myanmar daftar lebih dari 8.000 pengungsi untuk memulai repatriasi, tetapi ada penundaan karena proses verifikasi yang rumit.

Namun, pada Senin (16/4), Menteri Dalam Negeri Bangladesh, Asaduzzaman Khan mengatakan bahwa klaim Myanmar mengenai repatriasi warga Rohingya itu adalah palsu. Dia mengatakan bahwa keluarga yang ‘’direpatriasi’’ tidak pernah mencapai wilayah Bangladesh. Khan mengatakan, tindakan Pemerintah Myanmar itu tidak lebih dari sebuah lelucon. ”Saya berharap Myanmar akan membawa semua keluarga Rohingya kembali dalam waktu sesingkat mungkin,” kata Khan.

Wilayah Tak Bertuan

Menurut Komisioner Repatriasi dan Bantuan Pengungsi Bangladesh, Abdul Kalam, keluarga yang dipulangkan semula berada di Konarpara, wilayah tak bertuan antara dua negara. ”Karena keluarga ini tidak pernah masuk wilayah Bangladesh maka ini bukan repatriasi,’’ kata Kalam, kemarin (16/4). ”Ini bukan repatriasi, ini propaganda,” tegasnya.

Terpisah, Komisioner Tinggi UNHCR menyatakan tidak mengetahui kasus ini secara langsung dan tidak dimintai pendapat maupun dilibatkan dalam kepulangan yang dilaporkan. Zaw Htay, juru bicara pemerintah Myanmar, menyatakan bahwa klaim pemulangan pengungsi ”bukan propaganda”. Menurutnya, keluarga itu memutuskan untuk kembali dengan kemauan mereka sendiri. ”Kami merawat mereka,” tambahnya.

Reuters tidak bisa menghubungi keluarga yang dipertanyakan, maupun memverifikasi lokasi persis mereka. Foto-foto yang dirilis oleh otoritas Myanmar pada Sabtu lalu menunjukkan apa yang disebut keluarga ”Muslim” yang menerima Kartu Verifikasi Nasional. Kartu itu merupakan kartu identitas, namun tidak memberikan kewarganegaraan.

Asif Munier, seorang pakar soal pengungsi yang menangani krisis Rohingya untuk PBB, menyebut langkah Myanmar ”sangat disayangkan dan tidak terduga”. ”Pemerintah Bangladesh dan komunitas internasional harus meminta penjelasan kepada Myanmar atas langkah ini,” katanya.(cnn,bbc-mn-53)

SMCETAK TERKINI