17 April 2018 | Internasional

Rusia Bantah Rusak Bukti Serangan Kimia

MOSKWA- Rusia membantah merusak bukti-bukti yang ada di tempat yang diduga terkena serangan senjata kimia di Suriah. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Senin (16/4) kemarin, menyatakan pihaknya menjamin tidak akan merusak tempat tersebut.

”Saya dapat menjamin bahwa Rusia tidak merusak tempat tersebut,” kata Lavrov. Lavrov berbicara saat pengawas senjata kimia OPCW (Organisasi Pelarangan Senjata Kimia) mengadakan pertemuan darurat. Para pengawas di Suriah masih belum mendapat akses ke Douma.

Duta Besar Inggris untuk OPCW, Peter Wilson, mengutip direktur jenderal organisasi itu mengatakan mereka masih menunggu ijin masuk ke Douma. Sementara itu delegasi Swedia mengatakan, Suriah dan Rusia masih mengkhawatirkan keamanan di lapangan sehingga belum memberikan akses. Hasil pertemuan di Den Haag masih dirahasiakan. Namun, menurut laporan Reuters, Duta Besar Amerika Serikat (AS) Kenneth Ward menyatakan keprihatinan lantaran pasukan Rusia mungkin telah merusak bukti.

Sementara itu aksi demo menentang serangan udara Amerika Serikat dan sekutunya ke Suriah kembali digelar di sejumlah kota di Amerika Serikat. Aksi tersebut digelar di New York, Atlanta, Minneapolis, Chicago, Oakland, dan Washington Minggu (15/4) waktu setempat. Sehari sebelumnya, aksiaksi serupa juga berlangsung di beberapa kota AS, termasuk Los Angeles dan San Francisco.

Para demonstran juga berkumpul di luar rumah Senator Demokrat Dianne Feinstein dan Pemimpin Minoritas DPR AS, Nancy Pelosi di San Francisco. ”Kami ingin Feinstein dan Pelosi bersuara menentang bombardir dan perang yang terus berlangsung,” kata Eleanor Levine dari kelompok antiperang Code Pink Women for Peace. ”Tuntutan kami adalah bahwa kita tak punya hak untuk memiliki keberadaan militer di Suriah,” kata Levine.

Nyatakan Dukungan

Dalam aksinya, para demonstran membawa spanduk-spanduk bertuliskan dukungan untuk perdamaian dan penolakan atas kebijakan intervensi AS. Pekan lalu, sejumlah organisasi kemanusiaan seperti organisasi White Helmets dan Syrian American Medical Society melaporkan serangan gas kimia beracun telah terjadi di Douma, Suriah, pada 7 April lalu.

Dilaporkan dua organisasi itu bahwa lebih dari 500 orang dibawa ke pusat-pusat medis ‘dengan gejala-gejala yang mengindikasikan paparan ke zat kimia’. Puluhan orang termasuk anakanak dilaporkan tewas akibat serangan kima itu. Negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS), menyatakan telah memiliki bukti bahwa serangan kimia itu didalangi rezim Suriah.

Pada Sabtu (14/4) dini hari waktu setempat, AS bersama Inggris dan Prancis melancarkan serangan rudal ke sejumlah fasilitas senjata kimia Suriah. Saudi dan sekutunya menyatakan dukungan bagi serangan rudal yang dilancarkan AS, Inggris dan Prancis itu. Rezim Suriah telah menyangkal menggunakan atau memiliki senjata kimia. Rezim Presiden Bashar al-Assad juga mengecam serangan AS bersama Inggris dan Prancis itu sebagai ”aksi agresi”.(bbcmn- 53)