image

SM/Edy Purnomo - LAHAN KENTANG : Dataran tinggi Dieng yang menjadi salah satu area wisata di wilayah tersebut gersang karena ditanami kentang para petani. (41)

17 April 2018 | Suara Kedu

Pemulihan Kawasan Hijau Dieng Tak Maksimal

WONOSOBO  - Lahan kritis di kawasan dataran Tinggi Dieng saat ini belum berkurang dan masing diangka sekitar 7 ribu hektare.

Beberapa langkah pemulihan kawasan Dieng agar tidak gundul belum efektif, karena masih banyaknya petani yang tergantung pada tanaman kentang.

Salah satu aktivis pemulihan Dieng Tafrihan menyebut, langkah penghijauan belum berjalan maksimal, karena kawasan pertanian datanya masih seperti semula sementara area untuk penghijauan belum menunjukkan perluasan wilayah signifikan.

”Harus dievaluasi ulang terhadap pemulihan Dieng bagaimana agar efektif karena selama ini kurang maksimal,” katanya.Gagasan seputar pemulihan kawasan hutan sudah dicoba dengan berbagai pihak termasuk peran Perhutani dalam merangkul lembaga masyarakat desa hutan (LMDH).

Pemulihan Dieng harus terus dimaksimalkan dan perlu dimonitoring dengan melibatkan berbagai pihak baik di tingkat pemerintahan daerah maupun pusat.

Dijelaskan, bertahun-tahun dikenal sebagai kawasan wisata dan penyuplai kentang, dataran tinggi Dieng butuh dukungan bagi upaya rehabilitasi lahan. Saat ini ribuan hektare kawasan, termasuk Daerah Aliran Sungai Serayu dalam kondisi kritis.

Butuh Rehabilitasi

Ribuan jiwa bergantung pada pertanian kentang di lereng berkemiringan lebih dari 60 derajat itu. Selain kesuburan tanah turun, bencana banjir dan longsor terjadi setiap musim hujan seperti saat ini. ”Dieng butuh rehabilitasi segera sebelum terlambat karena kerusakan lingkungan,” kata Bupati Wonosobo Eko Purnomo.

Dijelaskan, pemerintah daerah saat ini juga sudah membentuk Tim Kerja Pemulihan Dieng (TKPD). Data Tim Koordinasi Pemulihan Dieng menunjukkan, dari 7.758 hektare lahan kritis, 4.000 hektare di antaranya menjadi lahan pertanian kentang Wonosobo dan sekitar 3.700 hektare lainnya masuk wilayah Banjarnegara.

Rehabilitasi lahan mutlak untuk mencegah bencana, penggurunan lahan, menjaga ketahanan pangan, dan mempertahankan suplai energi. Kerusakan kawasan Dieng diyakini mengganggu suplai air, energi listrik, dan irigasi di lebih dari enam kabupaten. Sejauh ini upaya rehabilitasi masih terkendala sejumlah hal, termasuk pendanaan.

Di lapangan, empat desa di sekitar objek wisata Dieng yakni antara lain Desa Diengkulon dan Diengwetan sudah menerapkan pertanian konservasi dengan model terasering, penanaman rumput di pematang, serta menanam tanaman tahunan. (H67-41)