17 April 2018 | Semarang Metro

”Berkendara Itu Tak Sekadar Ngegas dan Ngerem”

RATUSANsiswa-siswi kelas XI SMAPondok Modern Selamat memadati aula, Senin (16/4). Mereka menyimak penjelasan yang disampaikan narasumber, tentang bagaimana cara berkendara yang benar di jalan raya dalam acara bertajuk Police Goes to Pondok Pesantren.

Kegiatan yang diselenggarakan Satlantas Polres Kendal bekerjasama dengan Ditlantas Polda Jateng itu, beragam pertanyaan dilontarkan peserta sosialiasi mengenai cara berkendara yang aman. ”Pak, sebenarnya bagaimana sih cara naik kendaraan yang baik?” tanya salah satu peserta.

Kasat Lantas Polres Kendal, AKP Edy Sutrisno, menjelaskan, seorang pengemudi kendaraan, baik itu motor, mobil, angkutan umum, maupun kendaraan berat lainnya, tidak sekadar ngegas dan ngerem. Mereka harus mematuhi etika dan tata cara berlalu lintas. ”Naik kendaraan itu bukan hanya sekadar ngegas dan ngerem. Ada etika dan tata caranya,” katanya.

Edi menjelaskan, yang dimaksud etika yaitu bagaimana menghormati sesama pengguna jalan, memberi kesempatan orang untuk menyeberang. ”Etika merupakan dasar utama bagi warga untuk berkendara di jalan. Kalau hanya tarik gas dan injak rem, semuanya mungkin sudah bisa. Namun, untuk etika di jalan raya, itu sangat penting,” tandasnya.

Dijelaskan, kasus kecelakaan yang terjadi di Kendal di dominasi mereka yang usia produktif yakni antara 18 tahun hingga 45 tahun. Banyak penyebab kecelakaan, tetapi yang paling mendominasi karena faktor kelalaian manusia, seperti kelelahan atau kurang konsentrasi selama mengemudi. ”Kecelakaan di Kendal dengan korban pelajar persentasenya kecil, kurang dari satu persen,” ujarnya.

Kanit Dikmas Ditlantas Polda Jateng, AKP Heri Mulyono, mengatakan etika sangat mempengaruhi seseorang dalam berkendara. ”Mereka yang ugal-ugalan, tentu bisa membahayakan pengguna jalan lainnya,” kata Heri.

Police goes to pondok pesanten, merupakan lanjutan dari program police goes to school. Di Kendal, Pondok Modern Selamat merupakan yang pertama melaksanakan program ini. ”Dulu programnya polisi ke sekolah, sekarang ke pondok pesantren. Pondok pesantren juga banyak dihuni pelajar usia produktif dan mereka ketika sudah cukup usia, tentunya mereka akan mengajukan permohonan untuk mendapatkan SIM. Ini sebagai pendidikan sejak usia dini kepada calon pengemudi,” paparnya.(Rosyid Ridho-75)