17 April 2018 | Solo Metro

Ratusan Perantau di Belitung Kagum pada Pembangunan di Sragen

MESKIsudah puluhan tahun meninggalkan Sragen karena merantau di daerah lain, namun rasa bangga dan cinta sebagai orang Sragen tidak pernah pudar. Hal itu yang dirasakan oleh warga Sragen, yang berada di Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Ada lebih dari 100 keluarga asal Sragen yang hidup di pulau yang terdiri atas Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur tersebut.

Mereka berprofesi sebagai apratur sipil Negara (ASN), petani, dan pedagang. Mereka sudah merantau ke pulau tersebut sejak 1980-an, dan saat ini sudah ada yang memasuki generasi ketiga. Kebanggaan itu disampaikan oleh Joko Sulistyono, salah satu tokoh Sragen yang ada di Belitung ketika mendapat kunjungan dari Pemkab Sragen, yang dipimpin Wakil Bupati (Wabup) Dedy Endriyatno, Jumat (13/4) lalu.

Wabup Dedy didampingi Asisten Sekretaris Daerah Simon Nugroho Sri Yudanto dan Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah (Setda) Sragen Yuniarti. ‘’Meski sudah puluhan tahun ada di Belitung, tapi kami masih sebagai orang Sragen dan bangga sebagai orang Sragen,’’ kata Joko, didampingi belasan warga Sragen yang ada di Belitung. Joko sendiri kelahiran Dukuh Tegalsari, Kelurahan Sragen Tengah Kecamatan Sragen. Dia meninggalkan Bumi Sukowati sejak 1984, karena sebagai penyuluh pertanian yang kemudian mendapat tugas di Pulau Belitung. Menurut dia, sebenarnya warga Sukowati yang ada di Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur lumayan banyak, sebab jumlahnya ada lebih dari 100 keluarga. Hanya saja jumlahnya yang terpencar ke berbagai pelosok.

Bentuk Paguyuban

‘’Untuk yang berasal dari tenaga penyuluh pertanian saja ada 10 keluarga,’’ ungkap Joko yang masih fasih berbicara kromo alus tersebut.

Para perantau dari Sragen itu sebagian besar sudah memiliki KTP Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur, meski sebagian kecil masih ada yang KTP Sragen. Selain perantau, ada juga transmigran dari Sragen yang berjumlah sekitar 30 keluarga dan ditempatkan di Kacang Betor.

Menurut dia, setiap pulang ke Sragen selalu melihat perkembangan yang cukup berarti di kampung halaman. Kali terakhir dia mudik pada 2018, saat acara tahun baru. Ketika itu, dia sempat menyaksikan pidato Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati dalam acara pergantian tahun di Alun Alun Sasana Langen Putro. ‘’Alhamdulillah setahun sepindah kulo saget wangsul Sragen, tuwi sedherek- sedherek,’’ katanya.

Meski jumlahnya cukup banyak, tapi belum ada paguyuban resmi untuk mereka. Dia dan lainnya kagum dengan pembangunan di Sragen, apalagi saat ini juga sudah dibangun jalan tol Solo-Kertosono (Soker). Setelah adanya pertemuan dengan Wabup Dedy Endriyatno ini bisa memberikan inspirasi kepada mereka untuk segera membentuk paguyuban warga Sragen di pulau yang terkenal karena novel dan film Laskar Pelangi tersebut.

Apalagi sebagian warga Sragen di Belitung juga sudah menjadi anggota Kumpulan Wong Sragen (KWS) yang sangat eksis di facebook dan sudah memiliki anggota hingga ratusan ribu orang. Hal senada juga dikemukakan Jarot Utomo, yang asli Desa Jatisumo Kecamatan Sambungmacan. Di Belitung, Jarot bekerja sebagai wiraswasta dan kali terakhir pulang ke Sragen empat tahun lalu. ‘’Saya tetap orang Sragen meski sudah lama di Belitung, karena masih banyak saudara di Sragen. Meski KTP sudah Belitung,’’ kata Jarot.

Kakaknya juga bekerja di salah satu perusahaan di Belitung. Wabup Dedy mengaku bangga dengan para perantau dari Sragen, sebab keberadaannya ada di seluruh wilayah Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. Dia juga berharap agar dibentuk paguyuban keluarga Sragen di Belitung, untuk terus menjalin persaudaraan dan silaturahim. Tidak lupa Dedy juga menyampaikan pesan dari Bupati Yuni, agar seluruh warga Sragen senantiasa guyup rukun dan ingat dengan Bumi Sukowati, kampung halaman mereka. ‘’Saat ini, Pemkab juga terus membangun agar Sragen semakin maju dan sejahtera,’’ kata Dedy.(Basuni H-73)