17 April 2018 | Wacana

TAJUK RENCANA

Negara Tak Boleh Abaikan Kasus Novel

Novel Baswedan kecewa pada Presiden Joko Widodo. Dia kecewa karena kasus penyiraman air keras yang terjadi pada 11 April 2017 terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi itu hingga sekarang belum kunjung terungkap. Novel juga menyesalkan sikap Jokowi yang belum membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) untuk mengetahui fakta-fakta seputar kasus tersebut.

Novel yakin pemerintah bakal tidak mengungkap penyerangan itu. Joko Widodo agaknya perlu menjawab kegalauan Novel Baswedan. Presiden memang pernah menegaskan, akan mengambil langkah selanjutnya jika penyidikan oleh Polri tidak menemukan titik terang. Namun karena hingga setahun titik terang itu tidak kunjung muncul, sebaiknya Presiden meminta tanggung jawab Kapolri Tito Karnavian.

Tito, sebagaimana kehendak Kepala Staf Presiden Moeldoko, sebaiknya segera menjelaskan perkembangan penyelidikan kasus Novel kepada publik. Jika penjelasan tidak segera dilakukan, publik bisa saja meyakini negara abai atau tidak hadir dalam penanganan kasus Novel Baswedan. Publik bisa saja meyakini kasus ini sengaja tidak diungkap, apalagi dibeberkan secara transparan. Jangan menyalahkan publik juga, jika mereka tak percaya pada kinerja Polri dan Presiden.

Bahkah, jangan marah pada publik atau Novel Baswedan jika mereka menyatakan ada keterlibatan petinggi pemerintahan atau jenderal. Baik Presiden maupun Polri harus bekerja lebih keras. Mereka harus bisa menunjukkan kepada Novel maupun publik betapa negara tak pernah abai kepada siapa pun yang diperlakukan sewenang-wenang oleh kekuatan besar atau invisible hand.

Caranya: segera ungkap siapa pelaku penyerangan. Jangan sekali-kali menutupnutupi identitas pelaku. Jenderal atau bukan jenderal jika benar-benar terlibat dalam penyerangan, harus segera diajukan ke pengadilan. Jika ternyata Kapolri tetap tidak bisa secepatnya melaporkan hasil dari tugas yang diamanatkan kepadanya, Jokowi harus melakukan evaluasi.

Dengan mempertimbangkan kehendak publik, bisa saja Presiden segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta. Presiden dan negara diuji apakah abai atau tidak hadir dalam kasus yang telah lama menyita perhatian publik. Tentu kita berharap Presiden akan mengambil keputusan yang tepat. Apakah Tim Gabungan Pencari Fakta otomatis akan menemukan siapa pelaku penyiraman air keras kepada Novel Baswedan? Belum tentu bisa. Akan tetapi kemunculan Tim Gabungan Pencari Fakta diperlukan karena bisa dijadikan sebagai ikhtiar penegakan hukum. Ikhtiar penegakan diperlukan karena negara tanpa tindakan ini hanyalah menjadi entitas yang kopong dan sia-sia. Jadi, mari kita dorong Presiden dan Kapolri menuntaskan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan.