image

SM/Kartika Runiasari : Hikmat Darmawan

17 April 2018 | Berita Utama

Indonesia Art Award 2018

Komik-Komik Artistik pada Era Digital

Eksistensi komik sebagai sebuah karya seni terus mengalir seiring perkembangan jaman. Sejak awal bulan ini, puluhan karya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta pada ajang Indonesia Art Award 2018 yang digelar Yayasan Seni Rupa Indonesia. Berikut catatan tentangnya.

DULUmungkin masyarakat hanya mengenal komik sebagai hasil industri penerbitan baik besar maupun kecil. Kini komik hadir dalam ruangnya sendiri. Komik tak lagi hanya terbaca dalam berlembar-lembar kertas. Komik kini hadir dalam bentuk kanvas, kaleng bekas, kayu, patung, kaleng kerupuk, ember cat besi, bahkan kasur kapuk bobrok.

Ya, setiap komikus dibebaskan untuk memiliki kiblat pada bahasa komik dan media yang mereka gunakan. Bahkan komik pun menembus batas negara, ruang, dan waktu di dunia digital.

Begitulah yang tergambar dari pameran ”Dunia Komik; Bahasa Budaya Cerita Gambar” di Galeri Nasional, Jakarta Pusat. Pameran itu akan berlangsung hingga 18 April 2018. Kurator Pameran Hikmat Darmawan menyatakan, pameran ini merupakan jembatan dari dunia terpisah antara komik dan seni rupa itu sendiri. ”Sudah lama komik digunakan sebagai bahasa. Ada yang terinspirasi dari bahasa komik Jepang, komik Amerika ataupun komik Eropa. Tapi komikusnya sendiri seperti tertinggal,” ungkapnya ketika ditemui Suara Merdeka di selasela pameran, Senin (16/4).

Menurutnya, pada era sekarang komik mempunyai kekhususan, lebih independen. ”Dulu kita dapati komik fotokopi, sekarang distribusi bisa memanfaatkan digital print dan sebagainya. Ciri individu makin kaya tapi penerbitan belum bisa kembali seperti dulu. Tidak ada lagi batas negara karena sudah ditembus internet, produksi bisa macam-macam,” ujarnya.

Hikmat mengakui perkembangan komik selalu positif atau tak pernah mati. ”Komik selalu ada, hanya model berubah-ubah. Sempat jadi industri rumahan, sekarang pun seperti rumahan. Proses produksi komik hanya di rumah dengan laptop, tapi distribusinya bisa global karena era digital,” jelasnya.

Meski ada kemerdekaan dalam berkreasi, namun Hikmat menilai belum ada dukungan lebih luas bagi industri komik agar lebih maju. Sebanyak 129 karya komik dipamerkan dalam pameran tersebut. Termasuk karya-karya pemenang kompetisi komik Indonesian Art Award 2018 bertema ”Bahasa Budaya Cerita Gambar”. Juri pada tahap awal diserahkan kepada publik, yang kemudian meninggalkan 160 karya. Kemudian, pada tahap selanjutnya, 160 karya ini kembali diperas menjadi 129 karya.

Pemilihan karya-karya ini berdasarkan beberapa faktor, antara lain kesegaran ide, baik dari gagasan tematik maupun gagasan bentuk (termasuk rancangan presentasi atau penyajian komik yang diajukan); kematangan teknis; kekuatan pribadi atau gaya yang terwujud dalam bentuk akhir karya; juga, tentu saja, penguasaan bahasa visual komik dan seberapa jauhkah jelajah bahasa komiknya. Pameran dan kompetisi yang diadakan berupaya untuk mendorong eksplorasi seni komik sehingga pemahaman tentang seni dari komik itu sendiri bisa lebih didalami. Ada aspek lain selain permasalahan rupa dan sastra. Ada aspek sejarah, aspek publik, aspek media dan lain-lain. Hikmat menambahkan peserta kompetisi tidak dibatasi profesi. ”Dari 400 karya yang masuk, 50 persen komikus, sisanya dari masyarakat umum. Mediumnya pun nggak dibatasi,” terangnya.

Aspek yang terpenting, katanya, adalah bagaimana gambar berurut menjadi sebuah cerita. ”Animasi bisa tapi tetap ada sequence. Medium macam-macam, topik juga macam-macam. Yang diukur adalah capaian bahasa komiknya,” papar Hikmat.

Setelah proses seleksi tiga sampai empat kali, terpilihlah tiga pemenang dalam Art Award Komik pertama kali di Indonesia itu. ”Art award ini sudah ada sejak 1990-an. Pameran seni kontemporer, tapi sekarang digeser jadi kritik seni kontemporer, untuk kemajuan seni rupa Indonesia,” ungkapnya.

Dalam pameran tersebut, dibedah sejarah komik Indonesia, latar belakang komik, hingga pemberian penghargaan kepada pemenang lomba komik. Selama ini, komik menjadi dunia seni tersendiri yang terpisah dari seni rupa. Namun, seiring berjalannya waktu, Hikmat menilai seni rupa kini pun bisa berbentuk komik itu sendiri. Pameran ini sendiri merupakan hajatan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) bertajuk Indonesia Art Award (IAA) 2018. IAA dan pameran tahun ini berbeda dengan yang lalu, dimana memilih komik sebagai tema dengan pertimbangan komik merupakan bahasa komunikasi visual yang universal.

Penyampaian Informasi

Pameran komik yang biasanya dilakukan, umumnya hanya bersifat penyampaian informasi, memamerkan arsip seperti yang dilakukan museum komik atau pameran industri buku komik saja. Kurator Jim Supangkat menyatakan, dunia seni rupa dan dunia komik sangat berbeda. Komik punya standar-standar artistik sendiri. Sementara dunia komik tidak pernah mempersoalkan apakah standar-standar artistik ini bisa dikategorikan seni atau bukan. Persoalan apakah komik bisa disebut seni atau bukan justru muncul di dunia seni rupa.

Pangkalnya adalah pemikiran tentang standar-standar artistik yang merendahkan komik dan karena itu melihat komik sebagai bukan seni. ”Pada pengolahan bahasa komik, tanda-tanda komunikasi yang tersimpan dalam memori digunakan secara ekspresif dan karena itu tidak semua prosesnya bisa diketahui ujung pangkalnya. Tidak bisa dipastikan bagian mana pada pengolahan bahasa komik ini yang paling berperan dalam menampilkan pesona komik. Di sini craftmanship bukan cuma persoalan teknik menggambar, skill dalam pengolahan gambar komik bisa dilihat jelas berperan dalam menampilkan berbagai aspek cerita,” ungkap Jim.

Seperti halnya karya milik I Made Marthana Yusa, bertajuk ”Pak Made-Banjir di Kuta.” Ia menggunakan cetakan digital di atas akrilik berbentuk pop up, menggunakan bahasa Bali, dengan terjemahan bahasa Indonesia di bawahnya. Dan pemenang dari kompetisi ini adalah seorang wanita bernama Evelyn Ghozali yang berprofesi sebagai ilustrator buku anak. Karya komik Evelyn yang berjudul ”The Chair” mampu memukau tim dewan juri. Evelyn yang baru saja menghadiri Bologna Children’s Book Fair (Pameran Buku Anak Bologna) mengatakan, komik ”The Chair” ciptaannya terinspirasi oleh sebuah kursi ketika dia berjalan- jalan di Kota Tua.

Hikmat menyebut karya Evelyn menampakkan tingkatan puitika visual. Figur-figurnya jelas, susunan panel mudah dibaca, dan eksplorasi dalam bahasa dengan teknik garis mudah dipahami. Dengan adanya pameran ini dapat dibuktikan bahwa, komikus juga memiliki kemampuan yang tak kalah dengan seniman kontemporer. Selain Evelyn, Indonesia Art Award 2018 memberikan kemenangan pada Prabu Perdana (peringkat kedua) dan Patra Aditya (peringkat ketiga). Tak hanya tiga pemenang saja, dewan juri juga memberikan penghargaan kepada 13 seniman dan komikus dengan kategori special mention. Karya ke- 13 peserta mampu menggugah tim juri dan dipuji.

Mereka adalah Bonni Rambatan, Fajar Nursyamsujati, Radhinal Indra, Prihatmoko Catur, Muhammad Misrad, Hafid Alibasyah, Putri Larasati, Abdulrahman Saleh, Kan Kelana, Mohammad Iqbal, Loyong Budi Harjo, Sunni Tresnadewi, dan Sandy Yudha.(Kartika Runiasari-67)