17 April 2018 | Ekonomi - Bisnis

Produksi Mebel Terkendala Bahan Baku Mahal

JAKARTA  - Menanggapi informasi yang beredar bahwa produksi kayu Indonesia berlimpah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur menyatakan hal itu tidak benar.

Menurut dia, berita tersebut digunakan untuk mendorong pemerintah agar mengizinkan industri hulu melakukan ekspor kayu bulat atau log. ”Untuk diketauhi, harga kayu saat ini makin melonjak. Kenaikannya sebesar 30%.

Bahan kayu kita impor dari Selandia Baru, Amerika Serikat (AS), Swedia, dan Firlandia,” tutur Sobur dalam konferensi pers di Jakarta, barubaru ini. Dia menjelaskan, impor tersebut dilakuan karena kurangnya bahan baku untuk produksi.

Selain itu impor juga dilakukan akibat akses bahan baku kayu di Indonesia masih sulit bagi kebutuhan industri. ”Harga kayu di Indonesia yang tinggi membuat industri kesulitan. Harga kayu jati berkisar Rp 5 juta hingga Rp 40 juta per kubik.

Harga tersebut berbeda juah dari kayu yang diimpor oleh pelaku industri,” kata Sobur. Dijelaskan, selama ini kayu yang banyak diimpor berjenis oak, pinus, dan ceri dengan harga berkisar 300 dolar AS hingga 400 dolar AS per kubik.

Adapun mengenai kualitas kayu, menurut Sobur, kualitas kayu impor memenuhi syarat dan harganya terjangkau. Menurut dia, tingginya harga kayu di Indonesia disebabkan oleh tata niaga yang buruk. Di antaranya, panjangnya mata rantai distribusi yang membuat harga menjadi tinggi.

”Tata niaga yang tidak benar itu perlu diperbaiki, bukan dengan membuka ekspor log (kayu bulat-Red),” ungkap Sobur. Dia menilai ekspor log bertentangan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Perindustrian yang mewajibkan hilirisasi industri.

Buka Investasi

”Untuk itu, seharusnya pemerintah membuka investasi hilir dari industri kayu bukan dengan melakukan ekspor log,” tutur Sobur. Menurut Sobur, meski Badan Pusar Statistik (BPS) belum mengeluarkan data resmi nilai trasakasi ekspor mebel dan kerajinan, namun internal HIMKI telah mencatat masih ada pertumbuhan.

”Untuk mebel tumbuh 6%-7% dibandingkan tahun sebelumnya. Maka pada 2018 ini kami targetkan ekspor mebel 2 miliar dolar AS, sementara ekspor kerajinan sebesar 900 juta dolar AS,” ujar Sobur.

Menurut dia, angka tersebut meningkat berkisar 12%-15% dibandingkan pada 2017. ”Selama ini HIMKI menilai produk mebel nasional sangat diminati oleh pasar dunia.

Pasar dunia yang banyak menyukai mebel nasional yaitu dari AS, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Australia, Belgia, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Italia, hingga Uni Emirat Arab,” kata Sobur.(bn-55)